
Kehamilan Mar semakin hari semakin besar, namun itu semua tak membuat Mar menjadi malas bergerak. Bagi Mar, ini bukan pengalaman baru melainkan pengalaman hamil ke enam untuk Anak kelima mereka.
Baginya terus bergerak adalah olahraga terbaik untuk seorang ibu hamil.
Sore ini dirumah tua mereka,
Mar sedang menyapu halaman depan ketika As berlari tergesa-gesa menuju rumah.
"Ma..!! Ma...!!!"
Napas As tersengal-sengal menemui Mar.
"Ya ampun Pa... Ada apa??"
Balas Mar cemas.
"Eh...Aku ada kabar baik..!"
As memegang tangan Mar, dengan napas yang belum beraturan.
"Duduk dulu Pa... Ayo cerita pelan-pelan"
Mar menuntun As untuk duduk di bangku kayu depan rumah mereka.
"Aku tadi ketemu juragan kayu di ujung jalan sana... Beliau nawarin Aku kerjaan buat jaga malam,, katanya sudah mulai bisa kerja malam ini."
As begitu semangat menceritakan kabar baik ini pada Mar.
"Alhamdulillah Pa...,Tapi...juragan kayu itu Pak Kapitan itu ya??"
"Kok Mama tau??"
"Iya... tau waktu belanja kepasar beberapa kali dengar Ibu-ibu di daerah sini cerita, katanya Pak Kapitan itu terkenal mata keranjang.."
"Hush... Mama !! Sejak kapan jadi suka gosip?"
__ADS_1
As segera menutup mulut Mar dengan telunjuknya.
"Ehm...bukan ngegosip Pa...tapi dengar"
"Oh, jadi bukan ngegosip tapi tukang menguping ya??"
As mencubit hidung mungil Mar.
"Ehmm,, bukan juga...!! tapi dengar gak sengaja!"
Mar membela diri.
"Ya udah...buang jauh-jauh itu semua ya... Gak baik!"
Mar mengangguk, lalu saling merangkul masuk kedalam rumah.
Di dalam rumah, Mar menyiapkan Handuk dan baju ganti untuk As yang segera menuju sumur untuk membersihkan diri.
Mar membuatkan segelas kopi hitam dan sepiring kecil kue pisang kesukaan As, lu menaruhnya diatas meja.
Selepas Mandi, masih dengan berkain handuk, As menjumpai Mar yang tengah duduk bersandar pada kursi kayu rumah mereka, perutnya menantang sungguh sangat menggoda, sembari memandangi keempat Anaknya bermain dilantai.
As mengusap perut Mar dan melabuhkan ciuman pada calon anak kelimanya.
"Ya udah Pa.. pakai baju dulu sana,, itu kopi dan kue pisang kesukaanmu diatas meja"
Mar mendorong lembut punggung Suaminya.
Sambil menikmati kue pisang buatan Istrinya, As memandang keempat Anaknya, terselip rasa haru yang menyelinap masuk direlung hatinya, mengingat bahwa Dia sudah tak punya apa- apa lagi saat ini untuk bekal keempat bahkan sesaat lagi akan menuju Lima Anaknya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin, butuh waktu lama untuk mengembalikan semuanya seperti awal lagi, bahkan saat ini sepertinya ia sudah tak punya harapan lagi dan tak berani untuk bermimpi lagi.
"Pa...Papa.... Kapan kita punya televisi lagi Pa??"
Pertanyaan Ana menyadarkan As.
"Engh....Apa sayang?? maaf ya, tadi papa gak dengar"
__ADS_1
Tanya As yang tak menyimak sempurna pertanyaan Putrinya.
"Ana pengen punya televisi lagi Pa...kapan kita beli lagi... Ana sama Adek-adek mau nonton"
Ada perih yang menyayat hatinya, mendengar penuturan dan keinginan Ana Putrinya.
"Sabar ya sayang....Papa kumpulin duit dulu ya...nanti, kalau uangnya sudah cukup.. Pasti Papa beliin lagi,, yang lebih besar..lebih bagus...ya sayang ya..."
Jawab As menyenangkan hati Putrinya.
Mendengar percakapan antara Ana dan Suaminya, Mata Mar tak kuasa menahan titik bening itu hingga nyaris mengaliri pipi bulat nya, namun segera ia seka menggunakan ujung lengan bajunya. Ia takut sedihnya terlihat oleh keempat Anaknya.
"Iya Pa..tapi janji ya Pa..kumpulin duitnya jangan lama-lama.."
Ana mengacungkan jari kelingkingnya di depan muka As.
"Iya, Papa janji sayang...Ana juga sama Adek-Adek doain Papa... Biar kerjanya lancar ya.."
As mengaitkan kelingking Ana dengan kelingkingnya.
"Kerja??? Emang sekarang Papa udah kerja lagi ya??"
Pertanyaan polos Ana lagi-lagi meluncur bebas.
As mengangguk.
"Ditempat Ko Akiyong lagi ya Pa.?? berarti kita kesana lagi ...Yeayy..... Pulang...!!!!"
Seru Ana girang.
"Sssttttt... Bukan sayang...bukan...Papa kerjanya disini, gak sama Ko akiyong lagi."
"Ohhh....."
Ana manggut-manggut.
__ADS_1
Suasana sore yang indah, berteman dengan orang-orang tercinta merajut Asa kembali yang sempat terkoyak, Mar terus berjuang menguatkan hatinya, memompakan semangat untuk Suaminya, memupuk cinta untuk Anak-Anaknya, serta menyimpan rindu untuk kedua orang tuanya.
Bersambung***