Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 56 Persiapan sekolah Ana


__ADS_3

"Paaaaa...bangunnnn.... Pa...bangunnn !!!"


Ana terus menggoyang-goyangkan tubuh As yang masih meringkuk dibawah selimut.


As memilih tidur lagi selepas sholat subuh tadi, sebab kepalanya terasa sangat berat.


As memicingkam matanya menatap Ana,


"Masih terlalu pagi sayang, mau ngapain?"


Ujarnya membelai kepala sulungnya.


"Semalam Papa janji, kita mau kepasar beli perlengkapan sekolahkan?"


Ana mengingatkan As yang sepertinya lupa akan janjinya.


"Oh...iya ya...Maaf ya sayang...Papa lupa"


As segera membuka matanya lebar, mengusap mukanya dan bergegas bangun dari posisi rebahnya.


Ana sudah tampil rapi dan cantik dengan kuncir kudanya, begitupun dengan Adik-adiknya yang semuanya sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.


"Mama mana sayang?"


Tanya As pada Ana.


"Mama lagi masak sama Nyai Pa.."


As mengambil handuk yang tergantung di balik pintu kamar, kemudian keluar menuju kamar mandi.


Melihat Suaminya sudah bangun, Mar segera menyiapkan segelas kopi dan sepiring kue pisang kesukaan As.


Tak sampai 10 menit, As keluar dari kamar mandi.


"Pa, sarapanmu ada di meja"


Ujar Mar yang sedang menyusui Hen.


"Makasih Ma"


Jawab As tersenyum.


Selepas sarapan,


"Ayo kita jalan-jalan"


Seru As.


"Kita mau jalan-jalan kemana Pa??"


Tanya Anak-anaknya.


"Ke....Pa....Sarrrrrr..hahhahahh"


Jawab As dengan tawa.


"Yeaayyy.....beli mainan ya Pa...."


Balas Anak-anaknya lagi.


"Bolehhh... masing-masing boleh beli satu ya..."


"Horeeeee......"


Ana dan Adik-adiknya bersorak dan melompat kegirangan, mendengar akan dibelikan mainan.


"Mak... kami pamit dulu ya, mau kepasar "

__ADS_1


Pamit Mar pada Masning yang ikut tersenyum melihat kegirangan dari semua Cucunya.


Mereka kepasar dengan menumpang 2 becak, karna pasukan yang terus bertambah tak lagi muat jika hanya menggunakan satu becak.


Mar yang menggendong Hen duduk bersama Ana yang memangku Win, sementara di becak yang satu lagi As bersama Eni dan Vin.


Becak mereka melaju pelan beriringan menuju pasar tradisional.


Sepanjang perjalanan, Anak- anak mereka bernyanyi dan bertepuk tangan, sungguh tak ada beban di wajah mereka yang ada hanya pancaran raut muka penuh keceriaan.


Ana mengajak Win untuk bernyanyi lagu becak sambil menepuk-nepukkan kedua belah tangan Adik laki-lakinya dengan semangat.


🎶🎵🎼Saya mau tamasya


Bekeliling keliling kota


Hendak melihat-lihat keramaian yang ada


Saya panggilkan becak


Kereta tak berkuda


Becak, becak, coba bawa saya


Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki


Melihat dengan asyik


Ke kanan dan ke kiri


Lihat becakku lari


Bagaikan tak berhenti


Becak, becak, jalan hati-hati...


Sampai di sebuah gedung pasar terbesar dikotanya, kedua becak tersebut berhenti, satu persatu dari mereka turun.


"Ana, gandeng tangan Adek ya...jangan sampai lepas"


Ujar Mar mengingatkan.


"Emangnya kalau lepas kenapa Ma?"


Tanya Eni bingung.


"Nanti..kalau sampai lepas, bisa terpisah terus hilang di pasar.."


Jawab Mar dengan senyum lembut.


"Ihhh seremmm..."


Eni segera berpegang pada saudaranya.


Win sudah nyaman dalam gendongan As.


Mereka berjalan beriringan memasuki gedung besar dan ramai itu.


"Ma...itu Ma toko mainan....itu Ma...."


Eni menunjuk salah satu toko yang menjual aneka macam mainan, dan berhenti tepat di depan toko tersebut, Mar berjongkok menghadap Eni,


"Sayang... nanti ya,, kita beli perlengkapan Ayuk Ana dulu ya, kalau semua sudah beres... Mama janji kita beli mainan"


Mar mengusap kepala Eni yang mengangguk manis.


Mereka melanjutkan perjalanan mencari toko yang menjual perlengkapan sekolah.

__ADS_1


Mata Mar berkeliling meneliti setiap toko yang mereka lewati, hingga sampailah pada sebuah toko yang menggantung Aneka Tas sekolah.


"Yuk sini kita masuk,"


Mar menarik lembut tangan sisulung Ana.


"Ana suka yang mana?"


As bertanya pada sulungnya,


Hari ini ia akan membebaskan Ana memilih tas mana yang ia suka, sebagai hadiah atas kebesaran hati Ana yang harus berkali-kali pindah sekolah dan kali ini bahkan harus rela kehilangan satu tahun karena harus mengulang dikelas tiga akibat dari keputusan As untuk pindah di tahun tanggung sekolahnya.


"Beneran Pa...Ana boleh pilih,?"


Tanya Ana dengan mata berbinar.


As dan Mar mengangguk.


Ana berlari kesana kemari, melihat, melirik, menatap semua Tas yang ia hampiri, berkali-kali terlihat ia memegang dan mencoba semua tas yang ia suka.


hampir setengah jam Akhirnya Ana menjatuhkan pilihannya pada sebuah tas berwarna merah muda bergambar Barbie dengan dua resleting depan.


Ia membawanya berlari kearah Mar.


"Ma...ini Ma...Ana mau yang ini...boleh ya Pa..?"


Ana menatap As dengan senyum, dan senyum itu bertambah lebar ketika As mengangguk dan membawa tas itu untuk dibayar.


"Tas nya udah,, sekarang kita beli baju sama sepatu ya..abis itu buku"


Ujar Mar sembari menerima bungkusan Tas dari penjual.


"Ma...baju Ana kan ada,,,"


Jawab Ana.


Mar begitu terharu mendengar penuturan Ana, sulung yang sangat sederhana tak pernah menuntut apa-apa, tak pernah protes, semua selalu diterimanya dengan lapang hati.


"Ana...baju sekolah Ana yang lama itu kan baju bekas pemberian Uwak Husna waktu baju Ana kebakaran, dan saat itu, Mama dan Papa sedang tidak ada uang buat beli yang baru, dan sekarang, Papa ada rejeki makanya beli yang baru buat Ana sekolah besok."


"Sepatu juga ya Ma??"


Tanya Ana lagi.


"Iya sayang, sepatu itukan kebesaran.."


Jawab Mar membelai Ana, ketika mereka memasuki toko sepatu.


Tak seperti saat memilih Tas yang butuh waktu lama, kali ini Ana hanya butuh beberapa menit saja untuk menentukan pilihannya pada sepatu yang akan ia beli.


"Ini Pa..."


Ana menunjuk sepatu hitam dengan tali.


As mengambilnya dan mengepaskan pada kaki Ana, setelah merasa pas, As segera membayarnya, begitupun saat membeli sepasang seragam, buku dan beberapa perlengkapan Ana lainnya.


Setelah semua beres, sesuai dengan janjinya As menepati membawa Anak-anaknya pergi ke toko mainan.


Sesampainya didalam sebuah toko mainan, kebisingan tak dapat dihindari, suara riuh dari ke empat Anaknya seketika membuat ramai didalam toko.


Begitu masuk, Mata Ana segera terfokus pada boneka barbie yang terpajang di etalase, sementara Vin lebih memilih sebuah boneka panda dengan bambu di tangan, lain dengan Eni yang lebih tertarik dengan miniatur alat-alat masak, lengkap dengan piring sendok dan gelas mini.


As menurunkan Win dari gendongannya, membuat Win segera berlari menuju setumpuk Bola kaki di dalam keranjang, untuk Baby Hen, As mengambilkan sebuah mobil polisi dengan bunyi, membuat Baby Hen terkekeh mendengar suara sirene dari mainan barunya.


Kini masing-masing Anak Mar dan As sudah memegang mainan satu-satu, hati mereka girang ini adalah mainan pertama pemberian orang tua mereka sejak kejadian kebakaran yang menghanguskan semuanya termasuk mainan mereka.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2