
"Kalian coba deh kedepan, didepan rame banget anak-anak seumuran kalian,, asyikkan bisa dapat kawan baru"
Mar duduk diantara anak-anaknya mencoba memberitahu tentang calon teman baru Anak-anaknya.
Win dengan cepat berlari keluar setelah mendengar ucapan Mar, disusul Hen dan para ketiga putri.
Mar memperhatikan reaksi Anak-anaknya.
Awalnya mereka hanya memandang dari teras rumah, tak lama setelah seseorang gadis kecil melambai, Eni tergerak lebih dulu mendekat disusul kedua kakak perempuannya, begitupun yang terjadi dengan Win dan Hen, yang kemudian membaur bersama beberapa bocah laki-laki yang sedang bermain bola.
Hanya dalam waktu singkat, kelima Anak Mar dan As sudah asyik bermain dan tertawa-tawa.
Di dalam rumah tertinggal Mar dan As yang tengah memperhatikan Anak-anak mereka yang tengah bermain lewat sebuah jendela kecil dengan teralis kayu yg menghadap kelapangan.
"Bahagia sekali Aku melihat mereka gampang bergaul seperti itu Pa..."
Ujar Mar.
"Iya, mereka semua mewarisi sifat kamu yang supel dan pandai bergaul"
Jawab As.
Begitulah kehidupan mereka berlangsung, As yang tetap melakoni pekerjaannya sebagai buruh bangunan yang kadang kerja, kadang menganggur, Mar tetap menjadi buruh cuci dari pintu ke pintu.
Hari demi hari, bulan berlalu dan tahun pun kian berganti, Ana menjelma menjadi remaja cantik yang aktif cerdas dan pemberani dan sedikit tomboi, Vina masih dengan sifat pendiam dan sedikit pemalu, Eni konsisten dengan ke anggunan dan sifat kewanitaan yang lebih mendasar, Win tumbuh menjadi anak laki-laki penyayang, kalem dan pendiam, sementara si bungsu Hen yang hampir memasuki usia 5 tahun makin terlihat gagah dan pemberani Anak yang selalu disebut-sebut As sebagai jagoan.
Malam semakin pekat, As terlihat masih terjaga ketika seisi rumah mungkin tengah bermimpi.
Mar membalik tubuhnya, dan terbangun ia membuka matanya pelan, pandangannya masih samar-samar.
"Pa...belum tidur?"
Sapa Mar pada suaminya.
"Tadi awalnya Aku sudah tertidur, tapi tadi Aku bermimpi dan terjaga, kini malah Aku tak bisa tidur lagi"
Jawab As tanpa merubah posisinya yang tetap terlentang dengan tangan diatas dahi, serta Mata menatap langit-langit kamar.
"Mimpi? Mimpi apa Pa?"
Tanya Mar.
"Aku mimpi Aneh!"
"Aneh? seperti apa?"
Mar menggeser tubuhnya agak lebih mendekat kearah As.
__ADS_1
"Aku mimpi, Kamu berjalan dengan memegang mahkota, dan menjajakannya kesana kemari!"
As menatap Mar sesaat, kemudian memalingkan lagi wajahnya keposisi semula.
"Hahhah, menjual Mahkota? Aku yakin itu cuma bunga tidur Pa... sudahlah, untuk apa dipikirkan, cepat tidur lagi,"
Mar mengusap kepala As.
"Ma...Aku jadi kepikiran, apa mungkin mahkota yang kau jual ada hubungannya dengan kondisiku sekarang?"
As memiringkan tubuhnya menghadap Mar.
"Hah?? Maksudnya gimana?"
Tanya Mar bingung dengan ucapan As barusan.
"Setelah kupikir-pikir Mahkota itu sama saja dengan hal yang paling berharga dari seorang perempuan, bisa dikatakan harga diri, lalu didalam mimpi kamu menjajakannya berniat menjualnya Ma.."
"Lalu??"
Tanya Mar lagi.
"Ya... Aku takut, dengan kondisiku yang tidak pernah bisa jaya lagi, yang terkadang menjadi pengangguran yang lama tidak bekerja, kamu menjual harga dirimu pada laki-laki hidung belang!!"
"Astaghfirullah Pa!!! Kamu bicara apa?!"
Mata Mar terbeliak dengan tangan menutupi mulutnya.
Pernyataan As malam ini benar-benar melukai hati Mar, perasaannya hancur, ia menggigit bibirnya sendiri menahan sesak di dada yang kian terasa menyempit, kerongkongannya terasa seperti tercekik, bersamaan dengan itu Air matanya mengalir, dan jatuh membasahi bantal.
As menatap Mar dengan tatapan dingin, dan memilih merubah posisi tidurnya dengan memunggungi Mar, seolah tak peduli telah menorehkan sayatan dalam pada hati Ibu dari kelima Anaknya.
Perasaan Mar hancur, ia tak pernah menyangka, As suami yang paling ia hormati dan kasihi bisa mempunyai pikiran sekotor itu padanya, padahal sejak dulu, As tau bahwa Mar bahkan tak pernah mengobrol dengan laki-laki lain selain keluarganya.
As tak bisa memejamkan matanya, perasaan gelisah tengah menyelimuti hatinya, rasa cemburu buta tengah memporak porandakan mahligai cintanya pada Mar.
Ia sendiri tak tau mengapa kalimat laknat itu bisa meluncur dari bibirnya, namun untuk menarik kata-katanya sepertinya sudah tidak ada gunanya, Mar terlanjur menangis, bahkan isaknya terdengar lebih pilu dari kesedihan apapun yang pernah ia lalui.
As menarik nafas panjang, dan memejamkan matanya.
Mar berbalik, dan kini kedua suami istri itu tengah beradu punggung, dengan perasaan masing-masing.
Berkali-kali Mar mengusap air matanya, namun seolah bocor, air mata itu tak pernah kering, terus mengalir berusaha membasuh luka yang baru saja digoreskan As.
Hingga menjelang tengah malam, Rasa lelah dan sakit kepala membuat Mar akhirnya tertidur dengan sisa air mata yang menggenang.
...****************...
__ADS_1
Adzan subuh terdengar merdu, membangunkan Mar yang hanya tertidur tak lebih dari 3 jam saja.
Ia segera bergegas memulai harinya, Mar sengaja segera mandi untuk menghilangkan kantuknya, selepas sholat subuh, ia melongokkan kepala kekamar, melihat As masih tertidur tak seperti biasa yang akan segera bangun ketika Mar Bangun.
Mar, mengusap lembut bahu As.
"Pa... subuh..."
Ujarnya,
As menggeliat lalu mengusap matanya.
Mar beranjak dan meninggalkan As menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Satu persatu Anak-anaknya bangun dan mandi bergantian.
"Ma...Mata mama bengkak!"
Ujar Ana ketika baru saja duduk untuk sarapan, membuat As terkesiap dan menatap Mar cepat.
"Kenapa Aku tak menyadari itu ya?"
Batin As.
"Ah... iya, semalam mata Mama gatal, terus Mama kucek, eh bangun pagi malah jadi gini"
Jawab Mar berbohong.
Ana tau, Ibunya tengah berbohong, sebagai gadis remaja ia sudah mengerti dan bisa membedakan mata sembab akibat gatal dengan habis menangis, ia bukan bocah kecil lagi yang bisa di tipu dengan karangan bebas dari mulut ibunya.
Tak ingin Ana lebih banyak tanya, Mar segera menghindar, ia merapikan piring bekas sarapan Anak dan suaminya lalu bergegas membawanya kedapur.
As menyusul dengan cepat, langkahnya terhenti, ia menatap Mar dari ambang pintu dapur, Ingin sekali ia memeluk Mar dan mengucapkan Maaf telah menyakiti, tapi gengsinya ternyata lebih besar, entah kenapa bayangan mimpinya membuat As mengurungkan niatnya lalu berbalik kembali kedepan.
Mar yang menyadari akan hal itu, menghembuskan nafas pelan, dan kembali meneteskan air mata.
"Entah apa yang ada dipikiranmu Pa, sampai hati kau tega berpikiran seperti itu kepadaku"
Gumam Mar lirih, lalu mengusap pipinya yang basah dengan lengan baju.
Pagi ini, tak lama setelah Anak-anaknya berpamitan berangkat kesekolah,
As berangkat kerja tanpa sepatah kata pada Mar.
Sepanjang perjalanan, rasa bersalah menghantui As, namun cemburu butanya seperti lebih menguasai hampir tiga perempat dari hatinya, hingga membuat As tak bisa menguasai diri dan otaknya sendiri.
Sementara Mar, ia benar-benar tak menyangka, hanya karena mimpi As sampai-sampai tak menyapanya meski hanya sekedar berpamitan.
__ADS_1
Mar segera membereskan segala pekerjaan rumahnya, sebelum akhirnya ia juga meninggalkan rumah untuk bekerja.
Bersambung***