
Tak lama menunggu, Maryati keluar untuk menemui tamunya.
"Walaikum salam.."
Jawab Mar.
"Eh, Wati ya..... Ada apa Wat? Ehm...silahkan Masuk..."
Dengan ramah Mar mempersilahkan Wati dan putranya masuk kedalam rumahnya.
"Ohh,, waduh Aku kaget sebenarnya, ternyata Ana yang dimaksud Beni, Ana anaknya Kamu ya Mar"
Wati terlihat canggung.
"Loh..emangnya ada apa Wat?"
Mar menatap Wati heran lalu beralih menatap Beni yang terlihat memar dan luka lecet di bagian pelipisnya semakin membuat Mar bingung.
Sementara Ana terus saja mengintip dan menguping pembicaraan Mamanya dengan tante Wati.
Beni yang tak sengaja melihat Ana sedang berdiri di pintu kamar bergidik ngeri ketika Ana mengacungkan kepalan tangan kearahnya dengan mata melotot.
Beni memundurkan badannya sedikit bersembunyi dibalik tubuh Ibunya.
"Begini Mar, Anak kita berkelahi"
Ujar Wati dengan senyum-senyum
"Tunggu-tunggu, maksudnya Anak kamu yang ini dengan Ana putri Aku?"
"Ya Mar, Beni dan Ana, ini hasilnya!"
Wati menunjukkan luka memar di pelipis mata Beni.
Mar menghela nafas panjang, sebenarnya Mar ingin tertawa dalam hatinya dengan kejadian ini, bagaimana mungkin seorang anak laki-laki berbadan besar bisa babak belur ditangan Putri sulungnya, namun sengaja ia tahan.
"Kok bisa Wat? Sebentar Aku panggil Ana dulu ya..."
Mar beranjak dari tempat duduknya, menuju kamar ingin menemui Ana.
Melihat Mar berjalan ke arah kamar, Ana segera bergegas naik ketempat tidur lalu bertelungkup.
"Ana... sayang, benar Ana yang mukulin Beni Nak??"
Tanya Mar lembut sembari mengusap kepala Ana.
Ana menoleh pada Mar, matanya berair...
Mar memeluk Ana cepat,
"Ana jangan takut ya..yuk keluar ceritakan kejadiannya kalau Ana gak salah jangan pernah takut...tapi kalau ana memang salah, Ana harus minta maaf ya Nak...sebab seorang yang hebat dan pemberani sesungguhnya ialah orang yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf"
Ana melepas pelukan Mar, sembari menatap Ibunya tersenyum lalu mengangguk.
"Keluar yuk?"
Ajak Mar pada putrinya.
Mar menggiring Ana keluar dari kamar dan duduk di luar menemui Wati dan putranya Beni,
As mendekat, lalu duduk di samping Ana.
Wajah Beni terlihat sangat pucat, ia terus bersembunyi di balik tubuh Wati, ibunya.
__ADS_1
Beni tak berani menatap Ana lagi.
"Ana, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Nak??"
Ujar As mengusap punggung Ana.
Dengan percaya diri dan mengusap sisa air matanya, Ana mulai bercerita dengan lantang.
"Beni yang salah Pa...., dari Awal Ana masuk sekolah, Beni selalu mengejek Ana, ngata-ngatain Ana bilang Ana gak naik kelas, Beni ngeledek bilang Ana bodoh, terus bilang ke teman-teman jangan mau temenan sama Ana, karena Ana Anak bodoh..!"
Ujar Ana penuh emosi dan berapi-api, wajahnya memerah, matanya tajam memandang Beni yang menciutkan diri.
"Lalu??"
Sambung As.
"Ana sudah bilang sama Beni Pa... berhenti mengejek, jangan ganggu Ana lagi, tapi Beni masih aja terus ganggu Ana Pa, sampe pulang tadi Beni nakal lagi Pa... Dia narik rambut Ana ngejekin Ana lagi, ya udah Ana lawan aja Pa!! Ana gak salahkan Pa??"
Jelas Ana panjang lebar sembari menatap Papanya mencari pembelaan.
As ingin tertawa, mendengar cerita Ana, sekaligus bangga Bahwa Anak perempuannya bukan seorang pengecut, Ana adalah Anak pemberani, dan punya harga diri yang tinggi, geli dihatinya karena Beni adalah Anak laki-laki yang mempunyai badan jauh lebih besar dari Ana harus menangis dengan wajah memar dalam perkelahian melawan Anak perempuan, Namun As menahan tawanya untuk menghormati Wati.
"Terus, itu mata Beni bengkak memar gitu Ana apain??"
Tanya Mar cemas.
Ana menatap Beni dengan sorot mata tajam seperti ingin menerkam, membuat Beni seketika memejamkan matanya semakin ketakutan.
Benar-benar bertolak belakang dari hari-hari kemarin yang terlihat jagoan mengejek dan menjahili Ana.
"Ana tonjok Ma... !!! Habisnya Ana sebel Ma, Beni itu nakal, Ana jengkel Dia ngeledekin Ana terus! dibilangin tapi tetap gak ngerti ya udah Ana geram, Ana tonjok deh!!"
Jawab Ana santai.
"Nah, apa benar seperti itu Ben?"
Beni tak bersuara, ia hanya mengangguk membuat Wati menghembuskan nafas.
"Haduhhh Beni...! malu-maluin aja kamu, kalu tau gini ceritanya, ngapain kita kesini, ini salah kamu Beni, kamu yang nakal, jahil, benar-benar ya kamu Ben bikin malu Ibuk tau gak??"
Ujar Wati menjewer telinga Beni membuat Beni meringis kesakitan sembari menggosok-gosok telinganya yang memerah.
"Udah jelas ya sekarang Wat, Ana putri kami gak mungkin mukulin anak orang, kalau gak ada yang buat Dia marah dan memulai lebih dulu"
As memeluk putrinya.
"Iya As..Aku percaya.. maaf ya sudah mengganggu siang kalian"
Wati merasa tak enak hati.
"Aku jelasin dulu ya Wati, biar Beni tau dan tidak lagi ngejekin Ana, Dia bukannya tidak naik kelas, tapi Ana pindah ke sini disaat masa tanggung, Kami yang salah mencabut Ana dari sekolah lamanya saat menjelang ujian, hal itu membuat Ana tidak ikut ujian dan terpaksa harus masuk pada saat tahun ajaran baru mengulang dari awal."
Jelas Mar yang di iringi anggukan dari As dan Wati.
"Iya Mar, Maafkan Beni ya."
Jawab Wati.
"Sama-sama Wat, Aku atas nama Ana juga minta maaf, biar Beni Aku obatin ya, kita bawa ke puskesmas"
"Ah tidak usah Mar, terima kasih biar Aku kompres saja dirumah."
Tolak Wati.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang masalahnya sudah selesai, ayo kalian berdua salaman dulu biar gak berantem lagi"
As menyuruh Ana dan Beni untuk baikan.
Ana cemberut, menyembunyikan tangannya dibelakang.
"Ben, ayo kamu minta maaf sama Ana!!"
Cetus Wati.
Dengan segera Beni mengulurkan tangannya ke arah Ana.
"Sayang....Ayo dong..Ana juga harus minta Maaf ya karena sudah buat Beni luka"
Bujuk Mar.
Ana menatap As, As mengangguk dan memberi kode pada Ana untuk menerima uluran tangan Beni.
"Ana, Maafin Aku ya...."
Akhirnya Beni membuka suara.
"Ya..!!! Aku maafin, awas ya kalau masih ngeledek Aku!!"
Ancam Ana.
Beni mengangguk.
Wati pamit pulang.
Tak lama setelah Wati dan Beni pulang, As dan Mar cekikikan tertawa.
"Ya Allah Nak,, Papa gak habis pikir kamu bisa berantem sama anak cowok sampe Dia babak belur gitu,"
Ujar As memandang Ana.
"Ana, Sebenarnya tindakan benar, membela diri tapi jangan lagi-lagi ya Nak mukulin Anak orang sampe gitu, gak baik Nak... Ana kan Anak perempuan"
Nasehat Mar, Ana mengangguk.
"Ah gak apa-apa Nak, Papa setuju sama sikap Ana, ini baru jagoan Papa... kalo orang gak ngerti dibilangin, tonjok aja..hahhhha"
As sekali lagi tertawa.
"Papa..!!!!"
Hardik Mar melirik jengkel.
"Tetap aja mukulin orang itu gak baik ya Nak..!!"
Ujar Mar lagi.
Ana senyum-senyum melihat Mar dan As berdebat tentang kelakuannya siang ini.
"Iya Ma, Ana gak akan mukulin orang lagi, tapi kalau orangnya nyebelin boleh ya Ma...Heheh"
Canda Ana pada Mar sembari menggerak-gerakkan alisnya turun naik.
"Ana....!!"
Mar menoleh Ana sambil melotot.
"Ampun Ma....hahhahhah"
__ADS_1
Ana berlari menjauh kedepan menghampiri Adik-adiknya yang tengah bermain.
Bersambung***