Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Ekstra chapter 3


__ADS_3

Keduanya pun seketika meraih tubuh yang sudah rentan itu dengan sebuah dekapan hangat.


"Terimakasih mi" Ucap keduanya serempak.


******


Keesokan harinya.


Joni dan Sinta sudah bersiap-siap dengan barang bawaannya. Ya, hari ini adalah hari dimana mereka akan pindah kerumah baru mereka. Walaupun terkesan sederhana dan tidak begitu mewah, namun itu sudah membuat sepasang suami-istri itu merasa bahagia. Karena sejatinya, tinggal di rumah sendiri, itu jauh lebih tenang dan damai.


"Semoga kalian selalu di berikan kesehatan ya! Mami minta maaf karena gak bisa mengantar kalian. Kalian harus berhati-hati, dan ingat untuk menghubungi mami jika sudah sampai" Ucap Buk Rosa kepada kedua anaknya itu.


"Baik Mi. Mami sama Papi juga harus jaga kesehatan, jangan banyak pikiran lagi. Joni sama Sinta akan sering-sering kok main ke sini" Balas Joni. Buk Rosa hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.


"Kita pergi ya Mi" Pamit Sinta yang sudah mencium punggung tangan Buk Rosa, begitupun dengan Joni yang juga mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


Joni pun masuk kedalam mobil, lalu di susul oleh Sinta. Nampak Buk Rosa melambaikan tangannya, seraya tersenyum manis kepada kedua anaknya yang sudah semakin menjauh.


"Ayo Mi masuk!" Ajak Pak Bristama. Buk Rosa hanya mengangguk pelan, lalu mengikuti suaminya untuk masuk ke dalam rumah.


Di ruang keluarga.


Nampak Buk Rosa dan pak Bristama sudah duduk di sofa panjang yang ada di sana.


"Rumah jadi sepi ya Pi tanpa anak-anak" Ujar Buk Rosa yang nampak sedih.

__ADS_1


Pak Bristama memegang pundak istrinya dengan lembut, "Biarkanlah mereka belajar untuk menjadi anak yang mandiri Mi. Jika kita terus-menerus menahan mereka di sini, kapan mereka akan belajar caranya untuk berkehidupan" Ujar Pak Bristama.


"Lagi pula anak kita itu laki-laki. Dia harus belajar untuk menjadi suami yang bertanggung jawab. Jika selalu ada kita di sampingnya, anak kita tidak akan bisa untuk belajar bertanggung jawab kepada istrinya. Dia harus belajar bagaimana rasanya mencari uang untuk memenuhi segala kebutuhan anak dan istrinya. Sudah cukup selama ini kita memanjakan mereka, jika sudah berumah tangga sebaiknya kita biarkan mereka memilih jalan hidupnya sendiri. Mami jangan khawatir, mereka pasti bisa menjaga diri dengan baik" Lanjut Pak Bristama lagi mengingatkan.


Buk Rosa terlihat hanya mengangguk pelan, entah kenapa perasaan seorang ibu memang selalu berbeda. Apakah rasa sayang yang berlebihan kepada anak di pandang salah? Namun, bagaimana jika itu benar? Memanjakan anak dengan begitu berlebihan hingga sudah berumah tangga pun selalu di mentori oleh orang tua, lalu kapan anak itu akan mandiri dan belajar bertanggung jawab kepada anak dan istrinya?


*****


Sementara di tempat lain.


Genisa yang lemah, terus menerus memuntahkan seisi perutnya. bahkan buah apel yang baru saja ia makan juga ikut keluar bersamaan dengan air yang sedikit berlendir.


Nampak Wisnu memijit pundak istrinya seraya meredakan rasa mual yang Genisa derita selama kehamilan ini.


Uwekkkkkk Uwekkkkk Uwekkkkk


Genisa nampak mengatur nafasnya yang tersengal, segera ia mencuci seluruh wajahnya dengan shower.


Wisnu dengan cekatan mengambil sebuah handuk dan mengelap wajah Genisa yang basah. Nampak Genisa terlihat sangat pucat. Sepagian ini, ia tidak berhenti merasa mual dan muntah, sehingga tubuhnya terasa sangat lemah dan tidak bertenaga.


Wisnu membantu Genisa membaringkan tubuhnya di kasur, Lalu Wisnu mengambil air yang terletak di atas nakas samping kasurnya dan memberikannya kepada Genisa untuk Genisa minum.


"Ini sayang" Ucap Wisnu seraya memberikan segelas air putih.


Wisnu nampak begitu khawatir, hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia yang semula ingin pergi ke kantor pun terpaksa harus menundanya dan memilih untuk tinggal di rumah menjaga istrinya yang sakit.

__ADS_1


"Tuan! Dokter Sudah datang" Ucap Rian yang baru sampai. Terlihat seorang Dokter berdiri di sampingnya dengan pakaian khas seorang Dokter.


"Cepat Periksa istriku!" Titah Wisnu. Dokter itu hanya mengangguk mengiyakan, lalu berjalan mendekati Genisa yang masih terbaring di kasur.


Dokter pun mulai memeriksa kandungan Genisa. Mulai dari memeriksa detak jantung bayi, serta memeriksa tekanan darah Genisa.


Setelah selesai memeriksa, Dokter itu menghampiri Wisnu.


"Begini tuan!"


Wisnu tekesiap, ia semula mengobrol bersama Rian, kini mengalihkan pandangannya.


"Nona sepertinya harus di rawat. Tekanan darahnya begitu rendah, Hemoglobin di dalam tubuhnya begitu sedikit. Ibu hamil biasanya memiliki 12 Hb - 15 Hb normal di dalam tubuhnya, namun nona Genisa hanya memiliki 6,5 Hb. Ditambah lagi muntah-muntah yang nona Genisa rasakan saat ini sangat mengganggu ketahanan janin di dalam rahimnya" Jelas Dokter.


"Rian siapkan mobil. Aku akan membawa Genisa ke rumah sakit" Ujar Wisnu memerintahkan Rian setelah mendengar penjelasan dari Dokter.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2