
Buk Rosa sejenak terdiam, mendengar nama Anis, tentu tidaklah asing baginya.
"Apa dia disana bersama suami barunya?" Tanya Buk Rosa kemudian.
"Sepertinya ia Mi" Jawab Joni singkat.
"Ya udah. Yang penting kamu yakinkan saja istrimu Sinta, bahwa kamu tidak akan lagi kembali bersama Anis. Anis kan sekarang juga sudah berkeluarga" Ujar Buk Rosa.
"Baiklah Mi. Kalau gitu Joni tutup dulu ya! Nanti kapan-kapan Mami dan Papi tidur kesini ya" Ucap Joni.
"Iya sayang. Kamu hati-hati ya bersama istrimu disana"
"Iya mi. Pasti"
Buk Rosa pun menyudahi pembicaraan mereka, lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Semoga Anis tidak lagi menggangu dirimu Joni" Gumam Buk Rosa penuh harap. Lalu pergi meninggalkan tempatnya.
******
Beberapa hari kemudian.
Keadaan Genisa juga sudah membaik.
Keluarga Genisa juga datang menjenguk hari ini. Termasuk keluarga Wisnu juga turut hadir disana.
"Sayang! Maaf ya Tante baru bisa jenguk kamu hari ini. Tante ingin sekali kesini, tapi Wisnu bilang kamu lagi di suruh Dokter istirahat total dan belum bisa di jenguk. Maaf ya!" Ujar Tante Sonia.
Genisa tersenyum, "Gak apa-apa kok Tante. Tante datang hari ini juga Genisa sudah seneng" Jawab Genisa lembut.
"Oh ya, gimana keadaan cucu Tante ini? Kata Dokter baik-baik aja kan?" Tanya Tante Sonia lagi memastikan.
__ADS_1
"Baik kok Tante. Sekarang sudah gak ada yang perlu di khawatirkan lagi"
"Syukurlah, Tante senang mendengarnya. Baik-baik ya anak manis di perut Mommy mu" Ucap Tante Sonia senang seraya mengelus perut Genisa yang sudah terlihat besar.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu pun telah menghentikan perbincangan antara Genisa dan Tante Sonia.
Wisnu berjalan kearah pintu dan membukanya.
Wajahnya segera tersenyum sumringah ketika mendapati siapa yang telah datang.
"Wah, kalian juga datang kesini. Silahkan masuk"
"Gimana kabarmu Genisa?" Tanya Joni.
"Sudah baikan kak" Jawab Genisa sembari tersenyum manis.
"Aku seneng banget melihat kalian semua ada disini. Berasa nyaman aja gitu"
Joni tersenyum senang, "Bearti anakmu suka kalau kita semua kumpul kayak gini" Jawab Joni senang.
Hari pun berlalu. Hari yang sudah hampir sore. Semua keluarga Genisa dan Wisnu pun pulang kerumah masing-masing. Kini tinggallah Wisnu dan Genisa yang ada di dalam ruangan. Tentunya selalu ada Rian yang selalu menemani, namun Rian hanya menunggu di luar ruangan sembari menjaga keamanan Tuanya itu.
Sementara di tempat lain.
Joni dan Sinta juga sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
Seorang wanita yang berdiri di depan pintu rumahnya, membuat Sinta dan Joni terheran sekaligus penasaran.
"Anis? Kamu ngapain disini?" Tanya Joni setelah berada di depan rumahnya.
Anis terlihat menangis sensegukan, rambutnya bahkan terlihat berantakan dengan lebam di beberapa bagian tubuhnya.
"Joni, tolong aku. Aku tidak tau harus minta tolong sama siapa lagi. Hiks" Anis memohon dengan sudah memegang sebelah tangan Joni.
Sinta Menatap tangan kedua orang itu dengan hati yang memanas. Walaupun Anis bukan lagi istri Joni, namun perasaan cemburu pasti juga ada. Tapi melihat keadaan Anis kali ini, membuat Sinta memberikan toleransi, dia pikir mungkin Anis memang benar-benar berada di dalam masalah yang serius.
"Minta tolong apa? Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Joni bingung.
"Mas, sebaiknya kita bawa masuk saja dulu. Ceritanya di dalam aja, gak enak kalau disini dilihat sama tetangga" Ujar Sinta.
Setelah mendengarkan perkataan Sinta, Joni pun menyetujui untuk membawa Anis masuk kerumah terlebih dahulu.
"Sebaiknya kita masuk dulu Nis. Nanti kamu ceritakan semuanya di dalam ya!" Ujar Joni kemudian. Anis pun mengangguk mengiyakan, lalu mereka semua masuk kedalam rumah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung