
Bab 64 Inalillahi wa Innailaihi rojiun
Mau tidak mau, Wisnu pun menyetujui untuk makan di sana.
Walaupun dengan sedikit paksaan, Namun perhatian yang Genisa berikan sedikit menghangatkan perasaan nya yang gelisah.
Krekkkkkkk.
Suara pintu yang dibuka, seketika mengalihkan perhatian Wisnu. Dan segera menoleh kearah suara.
Kala mendapati seorang Dokter keluar dari ruangan itu, secepat kilat ia berdiri dan menghampiri Dokter itu.
"Bagaimana Dok. Kakek saya gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Wisnu cepat kala sudah berada di dekat Dokter. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Wisnu saat ini, ia begitu tidak sabaran untuk mengetahui keadaan kakeknya sekarang.
Nampak Dokter itu menghela nafas berat.
"Maafkan kami tuan. Saya harus menyampaikan kabar ini, bahwa Tuan Liu sudah meninggal. Kami sudah berusaha keras untuk menolong beliau, namun tuhan berkehendak lain" Jelas Dokter itu dengan berat hati.
"Inalillahi wa Innailaihi rojiun"
"Kakek!" Wisnu langsung menerobos masuk. Setelah mendengar penjelasan Dokter itu, pikiran Wisnu hanya terpacu kepada Kakek Liu saat ini.
Langkah Wisnu seketika melambat, kala mendapati sebuah tubuh yang terbaring di kasur Brankar rumah sakit dengan sudah bertutupkan kain putih polos di sekujur tubuhnya.
Air matanya tumpah begitu saja. Secepat kilat Wisnu langsung memeluk tubuh itu dengan sangat erat.
"Kakek kenapa kau meninggalkan aku secepat ini. Baru saja aku hidup bersama dengan mu tapi kakek sudah meninggalkan aku lebih dulu. Siapa yang akan menegurku kala aku salah kek? Siapa yang akan menasihati, memberikan saran untuk aku kala aku ingin memutuskan sesuatu. Kakek jangan pergi! aku mohon!"
__ADS_1
Suara tangis Wisnu pun pecah disana. Tidak kuasa menahan rasa kehilangan yang saat ini ia rasakan.
Tubuh Wisnu pun mulai melemah. Dan akhirnya ambruk kelantai dengan suara tangis yang kian memilukan.
"Mas! Bangunlah. Jangan seperti ini" Ucap Genisa seraya membawa tubuh suaminya menjauh dari jenazah sang kakek.
"Rian tolong kamu urus semua keperluan kepulangan jenazah kakek ya! Aku akan membawa mas Wisnu keluar dulu" Pinta Genisa kepada Rian yang juga berada di ruangan itu.
"Baik Nona" Balas Rian lirih. Kali ini suara Rian juga nampak parau. Walaupun tidak terlihat ia menangis, namun sorot mata kesedihannya begitu nampak dari pelupuk mata indahnya.
Di luar ruangan.
Wisnu terus saja menangis tanpa henti. Rasanya belum siap untuk kehilangan kakek Liu saat ini.
Kakek yang selalu ada untuk Wisnu. Walaupun hanya dapat dihitung bulan saat kebersamaan Wisnu dan Kakek Liu. Namun kasih sayang yang kakek Liu berikan selama beberapa bulan terakhir begitu membekas di hati Wisnu.
Kakek yang selalu ada di saat Wisnu membutuhkan pertolongan. Kakek yang selalu mensupport apapun yang Wisnu lakukan. Kakek yang selalu mengajarkan bagaimana caranya menghargai sesama. Kakek adalah segalanya bagi Wisnu.
Tanpa kakek, Wisnu bukanlah apa-apa.
Wisnu sensegukan di sana. Air matanya tidak mau berhenti. Semakin ia mengingat sosok kakek, semakin hatinya merasa hancur dan menyisakan penyesalan.
Ia ingat betul, saat terakhir kakek mengingatkan dirinya untuk terus waspada kepada musuhnya tadi pagi di taman depan rumah sebelum keberangkatan Wisnu menjemput Genisa.
Suara itu selalu berputar bagaikan kaset CD yang tidak mau berhenti.
"Seandainya saja aku tau hari ini adalah hari terakhir kita bertemu. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu kek. Aku ingin memelukmu selama mungkin sampai kakek mengeluh untuk minta dilepaskan" Batin Wisnu.
__ADS_1
"Mas? Kakek sudah siap di mobil. Kita harus membawanya pulang" Kata Genisa.
Wisnu yang terdiam sejak tadi yang tertunduk dengan menyembunyikan wajahnya dari balik tangannya, kini sedikit mengangkat wajahnya dan menatap Genisa.
Nampak mata yang sudah membengkak, serta sorot mata yang sudah memerah.
"Kakek sudah siap. Ayo kita pulang!" Ucap Genisa sekali lagi. Lagi-lagi Wisnu terkejut, entah apa yang dia pikirkan hanya dia yang tau.
Wisnu berdiri dengan tatapan yang begitu kosong. Pandangannya hanya menatap lurus kedepan tanpa ekspresi.
Genisa merasa kasihan melihat sang suami yang nampak begitu terpukul.
"Selama mengenal mas Wisnu, aku tidak pernah melihat mas Wisnu sesedih dan sangat terpuruk seperti ini" Batin Genisa dengan menatap suaminya dengan dalam seraya memegang tangan suaminya dan membawanya menuju mobil.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author