Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Bab 59 Tertembak


__ADS_3

Bab 59 Tertembak


Bukannya membuat Wisnu takut, hal itu malah membuat Wisnu semakin murka.


"Berani sekali kau membuat istriku ketakutan seperti itu" Bentak Wisnu lantang disana.


Wisnu maju dengan langkah cepat langsung mendaratkan pukulannya di wajah Bram.


"Hiyaaaa"


Bruakkkkk


"Ahhhhhkkkk" Darah segar pun mengalir dari ujung bibirnya.


Baku hantam pun terjadi disana. Wisnu memberikan pukulan mautnya tanpa ampun kepada Bram.


"Wisnu awas!" Teriak Joni yang entah dari mana datangnya tiba-tiba berteriak dengan lantang.


Wisnu menoleh ke arah suara, Lalu seperdetik kemudian dengan cepat ia melompat ke sisi kanan dan tubuhnya pun berguling-guling dilantai.


"Lindungi diri kalian semua!" Teriak Wisnu lagi kepada anak buahnya.


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan yang saling bersahutan. Beberapa pengawal Wisnu pun tergelatak karena sebuah tembakan.


Darah segar pun mengalir di lantai.


Mata Wisnu semakin memerah, tangannya mengepal dengan keras. Tatapannya tertuju kepada Bram yang mulai memperlihatkan seringai liciknya.


"Hanya dengan pukulan tidak akan membuatku mati Wisnu!" Ucap Bram dengan sudah mengarahkan pistolnya kepada Wisnu.


Dor.


"Tidakkkkkk!"


Bruakkkkk.


"Joni!" Teriak Wisnu lagi dengan mata yang sudah sembab.


Peluru melesat dengan cepat kearah Wisnu. Namun tiba-tiba, seseorang yang begitu Wisnu kenal melompat dari sisi kanan Bram dan menghadang peluru itu.


Sebuah peluru menembus perut sisi kanannya. Joni membulatkan matanya, keringat dingin pun mulai membasahi wajahnya.

__ADS_1


Rasa sakit yang teramat sakit pun Joni rasakan. Tubuhnya seketika langsung tumbang, dengan tangan yang masih menempel di perutnya.


Darah segar pun mengalir melewati pori-pori kulit nya, menembus baju yang saat ini ia pakai.


"Joni bangunlah!"


"Kenapa kau melakukan ini Joni" Ucap Wisnu yang sudah bersimpuh didekat joni dengan mata yang sembab.


"Kenapa seorang presdir menangis?" Ucap Joni dengan suara yang lirih menahan sakit seraya masih tersenyum tipis.


"Berhentilah menangis! Setelah ini aku tidak bisa melindungi mu lagi. Tolong jaga Genisa untukku dan bawa dia pulang" Lanjut Joni yang masih berusaha berbicara walaupun tenaga nya sudah mulai melemah.


"Maafkan aku. Maafkan aku Joni!" Ucap Wisnu menyesali.


"Ekhhhhhh"


Sayup-sayup suara Wisnu pun mulai menghilang ditelinga Joni. Pandangannya berangsur-angsur menjadi hitam. Bahkan tubuh itu sudah tidak memiliki tenaga sama sekali.


"Joni!" Teriak Wisnu lantang. Wisnu menangis disana seraya memeluk tubuh Joni yang sudah tidak sadarkan diri.


"Hahahaha. Ternyata kau selemah itu!" Sebuah suara kembali terdengar.


Wisnu yang menunduk, seketika mengangkat wajahnya. Menatap Bram dengan wajah membunuhnya.


Wisnu berdiri dengan tubuh yang tegap. Bahkan tatapan tajamnya mengatakan bahwa ia siap untuk melawan.


Walaupun wajahnya sudah sempat di buat babak belur oleh Wisnu, namun tidak membuatnya gentar akan kemarahan Wisnu saat ini.


"Berani sekali kau membuat saudaraku terluka!" Teriak Wisnu geram.


Wisnu langsung berlari mendekat Bram.


Bram nampak mengarahkan pistolnya kepada Wisnu dan kembali melayangkan tembakannya.


Namun siapa sangka? Wisnu dengan gerakan cepat langsung mengelakkan diri dari peluru yang mengarah kepadanya.


"Hiyyaaaa"


Wisnu kembali melayangkan sebelah kakinya menendang bagian dada Bram.


Bram tersungkur kebelakang. Tubuhnya langsung menghantam dinding itu dengan kuat. Sehingga dirinya hampir saja tidak bernafas karena benturan keras yang Wisnu berikan itu.


Tanpa menunggu lama, Wisnu kembali menyerang Bram tanpa ampun.


"Cepat kepung semua pengawal nya!" Titah Detektif Rio kepada pengawal Wisnu yang masih selamat dari tembakan.


Karena jumlah pengawal Wisnu yang masih banyak dibandingkan pengawal Bram. Maka dengan cepat mereka membekukan para pengawal itu.

__ADS_1


Wisnu terus memberikan pukulannya tanpa ampun kepada Bram hingga Bram benar-benar tidak berdaya, melampiaskan segala rasa sakit hatinya karena sudah menembak Joni, kakak iparnya.


"Tuan, tuan. Cukup tuan!" Cegah Rian yang baru sampai disana.


Rian langsung menghentikan Wisnu, jika tidak Bram akan benar-benar mati karena pukulan Wisnu yang tanpa henti ia berikan itu.


"Tuan. Nona Genisa sudah selamat!" Ucap Rian dengan sedikit meninggikan volume suaranya. Karena Wisnu masih saja tidak mau berhenti walaupun ia cegah.


Seketika Wisnu terdiam sejenak setelah mendengat nama Genisa disebutkan.


Matanya yang merah, serta wajahnya yang sudah basah karena air mata kini beralih menatap Rian dengan tatapan penuh penyesalan.


"Dimana istriku!" Kata Wisnu gemetar. berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya yang hampir habis.


"Di luar tuan. Joni juga sudah berada di ambulance. Dokter akan membawanya kerumah sakit" Jawab Rian.


"Bawa aku kesana!" Titah Wisnu. Rian langsung memapah Wisnu menuju keluar.


"Rio urus semua ini. Dan bawa semua orang disini ke kantor polisi. Pastikan bahwa Tuan Wisnu tidak terlibat dalam pembantaian ini. Aku percayakan semuanya kepada mu. Jangan lupa untuk membuat Bram mendekam di penjara untuk selama-lamanya" Titah Rian kepada detektif Rio setelah mengantar Wisnu ke dalam mobil.


"Baik. Tapi ada sesuatu yang aku ingin sampaikan kepada mu!" Jawab Rio.


"Apa itu?" Tanya Rian.


"Herlangga sudah kabur. Tadinya Nona Genisa di regang olehnya di lantai atas, namun setelah menyadari bahwa kami sudah mengepung tempat ini. Herlangga langsung kabur dan beberapa pengawal sudah aku tugaskan untuk mencari jejaknya" Ucap Rio serius.


"Baiklah. Cari Herlangga sampai ketemu. Aku harus mengurus tuan Wisnu terlebih dahulu dan Joni saat ini" Jawab Rian.


"Baiklah. Sampai bertemu lagi!" Balas Rio dengan senyuman manisnya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πŸ™πŸ™πŸ™ Dengan Like dan komen karya ini ya.


Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author

__ADS_1


__ADS_2