
Bab 34 Terusir
Perusahaan yang Herlangga miliki hanyalah sebagian kecil dari perusahaan Anatarna Grup yang ada. Mereka juga diketahui sudah melakukan tanda tangan kerja sama bersama Anatarna Grup. Jadi perusahaan itu sudah berada dibawah kendali Wisnu.
******
Perusahaan Anatarna Grup pun semakin maju di bawah naungan Wisnu.
Semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang Wisnu harapkan.
Dua bulan sudah berlalu.
Pagi harinya.
Suara mobil beberapa orang berhenti diparkiran Apartemen. Lalu masuk dengan langkah yang tergesa-gesa.
Ting.
Ting
Ting
Terdengar suara bel pintu yang dipencet berulang kali tanpa jeda.
Anis membuka pintu dengan sedikit mengucak matanya asal.
"Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu" Gerutu Anis kesal.
"Cari siapa?" Tanya Anis.
"Minggir!" Sergah pria itu kasar. Dan masuk begitu saja.
__ADS_1
Beberapa orang pria bertubuh kekar menyusul masuk.
"Hei kalian siapa? Hei jangan asal lempar ya. Itu barang mahal" Cegah Anis.
Buk Rosa dan suaminya pun keluar dari kamar setelah mendengar keributan diluar. Lalu setelah itu disusul oleh anak-anak nya.
"Hei ada apa ini?" Bentak Buk Rosa setelah mendapati beberapa orang itu menghancurkan barang-barang yang ada disana dan melemparnya dengan kasar ke lantai.
"Silahkan kemasi barang-barang kalian segera. Rumah ini akan di sita karena sudah menunggak 3 tiga bulan tidak membayar angsurannya" Ucap Salah satu pria bertubuh kekar disana.
"Apa?" Ucap Buk Rosa syok. Dengan sedikit memicingkan matanya tidak percaya.
"Ini rumah Herlangga. Mana mungkin rumah ini menunggak. Bukankah rumah ini sudah lunas?" Jelas Yunma tidak terima.
"Kami punya bukti-buktinya. Silahkan dilihat dan segera pergi dari sini" tegas pria itu lagi dengan menyodorkan sebuah map berisikan dokumen penting apartemen itu.
Buk mengambil map itu dengan mendelikkan matanya.
Semenjak peresmian Presdir baru dari Anatarna Grup waktu itu, Herlangga sudah tidak pernah lagi datang ke apartemen itu.
"Apa isi surat itu mi?" Tanya Joni penasaran. Tangannya tergerak mengambil berkas itu dari tangan ibunya segera yang nampak masih mematung.
Joni juga membaca berkas itu dengan seksama. Wajah Joni nampak begitu syok, matanya melebar dengan sangat sempurna.
"Cepat kemasi barang-barang kalian sebelum kami menyeret kalian keluar dari apartemen ini" Tegas pria itu lagi. Kali ini suaranya sedikit meninggi dan terdengar dengan penuh penekanan.
"Apa kita akan pindah lagi? Nanti kita akan tinggal dimana? Aku gak mau nanti tinggal dijalanan" Rengek Anis tidak terima.
"Diam lah. Aku juga bingung sekarang" Sergah Joni kesal.
"Kami beri waktu 15 menit dari sekarang untuk mengemasi barang-barang kalian" Ucap Pria itu dengan sedikit mengangkat tangannya setengah dada dan melihat jam yang terpasang ditangannya.
__ADS_1
Mereka pun pergi kekamar masing-masing untuk mengemasi barang-barang nya.
Setelah 15 menit menunggu.
Mereka kembali keluar dengan membawa koper milik mereka masing-masing.
"Ayo mi" Ajar Yunma kepada Buk Rosa yang nampak masih terlihat sedih dan syok.
Pria bertubuh kekar itu mengunci pintu rumah setelah keluarga Buana benar-benar sudah pergi dari tempatnya.
Di sebuah jalan yang sudah diramaikan oleh sepeda motor serta mobil-mobil yang berlalu lalang.
Buk Rosa beserta keluarga nya berjalan dengan malas menyusuri jalanan setapak khusus pejalan kaki.
Entah kemana kaki itu akan melangkah, mereka benar-benar dilanda kebuntuan. Tanpa arah serta tujuan yang pasti.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
Jangan lupa ya! like dan komennya
__ADS_1
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author.