
Keesokan harinya.
Mereka bertiga pun pergi ke rumah Wisnu dengan menggunakan mobil sport mewah milik Joni.
Anis terlihat diam. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela dengan tidak wajah yang tidak bersemangat.
Tidak berapa lama, mobil mereka pun berhenti di depan sebuah rumah mewah milik Wisnu.
Anis, Sinta dan Joni keluar dari dalam mobil dengan di sambut oleh beberapa penjaga di sana.
Setelah mempersilahkan mereka untuk masuk, salah satu penjaga itu pergi untuk memberitahukan perihal kedatangan Joni kepada Wisnu.
Terlihat Wisnu menuruni anak tangga. Anis yang melihat kedatangan Wisnu pun menunduk malu, ia ingat betul bagaimana dirinya dulu memperlakukan Wisnu dengan kasar dan memperlakukannya seperti sampah yang tidak berguna.
Namun, kini keadaan berbalik kepadanya. dirinya yang selalu di puja, kini memiliki kehidupan yang lebih hina dari Orang yang dulu ia hina. Ya, begitulah hukum karma berlaku.
"Anis!" Seru Wisnu kala menyadari bahwa Anis juga ada di ruang tamu.
Bukannya menjawab, Anis malah menangis dan bersimpuh di kaki Wisnu. Hal itu membuat Wisnu kebingungan.
"Ada apa ini?" tanya Wisnu dengan bingung.
"Maafkan aku Wisnu. Aku sudah jahat sama kamu, aku selalu menghina kamu dan merendahkan kamu. Mungkin keadaan ku sekarang adalah hukum karma akan sebuah kesalahan yang telah aku perbuat dahulu. Aku minta maaf".
__ADS_1
Mendengar permintaan maaf Anis, Wisnu tersenyum senang, lalu memegang kedua bahu Anis dan membantunya berdiri. Dilihatnya wajah Anis yang memar-memar dengan tubuh yang nampak tidak terurus. Lain dari penampilannya dahulu yang selalu berpenampilan modis.
"Aku sudah memaafkan mu Anis, jauh sebelum kamu meminta maaf kepada ku. Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Wisnu.
"A-aku,,,a-aku,,"
"Anis! Biarkan aku saja yang menceritakan semuanya. kamu duduklah dulu" Ucap Joni memotong perkataan Anis. Anis pun menurut, lalu kembali duduk di samping Sinta.
Joni pun mulai menceritakan semua masalah yang menimpa Anis kepada Wisnu.
"Begitulah ceritanya" Ucap Joni kemudian.
"Dia ingin meminta bantuan kepadamu agar bisa lepas dari lelaki itu. Setidaknya ia ingin kebebasan, karena setiap hari selalu di aniaya oleh suaminya" Lanjut Joni lagi.
"Astaghfirullah, apakah benar begitu Anis?" tanya Wisnu kepada Anis.
"Terimakasih Wisnu. Aku tidak akan melupakan semua bantuan mu" Balas Anis dengan senyuman manisnya.
Setelah berbincang-bincang, Joni, Sinta dan Anis pun berpamitan untuk pulang.
Beberapa minggu kemudian. Sesuai janji Wisnu kepada Anis. Anis pun terbebaskan dari jeratan lelaki itu. Kebetulan suami Anis ternyata hanyalah bawahan Wisnu yang memegang perusahaan cabang di kota xx, jadi Wisnu dengan mudah bisa menggertak lelaki itu dan memenangkan persidangan di pengadilan agama.
Anis sangat senang ketika mendapat kabar bahwa dirinya sudah bebas. Selama ini, Anis bersembunyi di rumah Joni dan Sinta agar tidak di ketahui lelaki itu, tidak lupa juga Wisnu memerintahkan beberapa pengawalnya untuk menjaga rumah Joni, sebagai antisipasi jika suami Anis melakukan tindakan kekerasan lagi disana.
__ADS_1
Anis berdiri di depan rumah Wisnu, menunggu Wisnu keluar untuk mengucapkan terimakasih kepadanya.
Setelah kedatangan Wisnu, Anis segara mendekat. Wajah bahagianya terlihat jelas di wajah Anis. Mengingat dirinya kini sudah terbebas dari lelaki mengerikan itu. lelaki yang selalu melakukan kekerasan terhadap dirinya. Ada rasa menyesal di hatinya karena telah meninggalkan Joni waktu itu, namun perasaan itu dengan cepat ia tepiskan, mengingat bahwa Joni juga sudah memiliki Sinta, dan Anis tidak ingin merusak kebahagiaan Joni lagi.
Dari masalah yang terjadi kepada dirinya, Anis menyadari bahwa kebahagiaan tidak selamanya tentang harta, namun kebahagiaan itu terjadi karena hadirnya rasa memiliki dan melengkapi satu sama lainnya.
"Aku mau ngucapin terimakasih kepada kamu dan Genisa karena telah sudi membantu masalah ku hingga selesai. Aku tidak akan pernah melupakan kalian Wisnu" Ucap Anis dengan tulus.
Wisnu dan Genisa tersenyum senang, "Kami juga minta maaf jika pernah melakukan kesalahan kepadamu Anis. Kami senang melihatmu sekarang sudah berubah dan sekarang lihatlah dirimu, jauh lebih cantik dengan jilbab itu" Puji Genisa.
Anis tersenyum malu, "Alhamdulillah, semoga aku akan selalu Istiqomah dalam berhijrah" Balas Anis.
"Oh ya Wisnu, Genisa. Aku juga mau berpamitan, setelah ini aku akan pergi ke luar negeri dan menetap disana. Aku sangat berterimakasih atas bantuan kalian selama ini, semoga kita bisa berjumpa lagi di lain waktu"
"Amin ya Allah. Semoga kelak kau mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi Anis. Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu"
Setelah berpamitan, Anis pun pergi dengan tenang. keputusannya untuk pindah ke luar Negeri, adalah keputusan yang terbaik untuknya. Belajar dari kesalahan merupakan pilihan yang bijak. Setidaknya, hal itu mengajarkan kita untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Amin.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung