
Bab 61 Sebuah Janji
Bagaimana tidak? Seorang wanita dengan baju yang berlumur darah berlari seperti orang gila mulai mendekati ruang operasi.
Nampak rambutnya begitu acak-acakan dan tidak beraturan. Berbagai pertanyaan bermunculan di benak semua orang. Siapa wanita itu?
"Yunma maaf aku terlambat" Ucap Wanita itu yang sudah berada di depan Yunma dan Genisa.
Yunma nampak mematung, menajamkan penglihatannya dengan sedikit menyipitkan matanya kepada wanita itu.
"Sinta? Kau kah itu" Kata Yunma spontan setelah mengenali wajah wanita itu.
"Apa yang terjadi dengan mu? Kenapa wajahmu menjadi seperti ini?" Tanya Yunma beruntun. Khawatir itulah yang dia rasakan.
Sinta terdiam, dengan kepala menunduk.
"Aku, Aku hik" Sinta tidak kuasa meneruskan perkataannya dan hanya mengeluarkan isakkan tangis saja disana.
"Siapa dia?" Tanya Wisnu penasaran.
"Dia Sinta temannya Joni" Jawab Genisa.
"Sinta? Yang jualan nasi di komplek depan gang melati itu ya?" Tanya Wisnu memastikan.
"Iya, kamu sudah melupakan aku Wisnu?" Tanya Sinta balik.
"Tidak! Hanya saja aku tidak mengenalimu karena luka di wajahmu. Sebaiknya kamu rawat dulu luka mu itu. Rian segera panggilkan Dokter terbaik disini untuk mengobati Sinta" Titah Wisnu.
__ADS_1
Rian hanya mengangguk mengiyakan, lalu berjalan keruang Dokter yang hendak ia tuju.
Sinta pun setelah beberapa saat di panggil oleh dokter khusus, dan segera mengobati lukanya.
Namun sebelum itu, ia sudah lebih dulu di beritahu perihal keadaan Joni saat ini.
********
"Tuan Wisnu?" Seru seorang perawat disana.
Wisnu yang tadinya duduk didekat Genisa, kini berdiri dan mendekati perawat itu.
"Tuan Joni sudah melewati masa kritisnya. Dan akan di pindahkan keruang rawat. Namun sebelum itu, tuan Joni belum bisa dijenguk oleh keluarga saat ini. Beliau masih dalam keadaan koma dan kemungkinan akan membutuhkan waktu lama untuk kembali memulihkan dirinya" Jelas perawat itu.
"Baik Sus. Apa salah satu dari kami bisa melihatnya sebentar? Kami ingin memastikan bahwa saudara kami benar-benar dalam keadaan baik" Tanya Wisnu penuh harap.
"Yunma, Genisa! Bolehkah aku saja yang masuk untuk melihatnya?" pinta Wisnu.
"Pergilah Wisnu!" Jawab Yunma.
"Baik. Terimakasih!" Kata Wisnu sebelum masuk kesana.
Yunma dan Genisa lebih memilih untuk melihat keadaan Sinta yang saat ini sedang di obati oleh Dokter disana.
Di Ruang operasi khusus.
Wisnu berjalan mendekati Joni yang masih terbaring dengan banyak sekali alat bantu yang tertempel di tubuhnya.
__ADS_1
Salah satunya adalah alat pendeteksi detak jantung dan beberapa alat lainnya juga.
"Jon. Maafkan aku! Aku tidak ingin jika harus melihat mu seperti ini. Aku tau kau adalah orang yang baik. Bertahanlah! Aku ingin kau tetap hidup dan menjalani kehidupan di dunia ini dengan bahagia. Maafkan aku juga yang sudah membuat mu menderita selama ini. Aku berjanji akan memberikan apapun yang kau inginkan asalkan kau sembuh" Kata Wisnu dengan sungguh-sungguh.
Setelah beberapa saat. Wisnu pun keluar dari dalam ruangan setelah benar-benar memastikan bahwa Joni sekarang dalam keadaan baik.
Tangannya langsung meraih benda pipih kesayangannya yang ada didalam saku celananya. Lalu mengetikkan beberapa kata disana.
"Rio tunggu aku di tempat biasa. Aku akan segera kesana setelah mengantar istriku pulang!" Isi pesan singkat Wisnu.
Setelah mengetikkan beberapa kata itu, Wisnu langsung menuju ruangan yang Sinta yang letaknya tidak terlalu jauh.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
__ADS_1
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author