
Hai, kembali lagi bersama Rafizqi ya!. Kali ini Rafizqi akan bawakan sebuah cerita yang sangat menarik untuk kalian baca. Tentunya seru ya.
Penasaran sama ceritanya? Mari kita simak disini.
Judul: Reminiscent
Penulis: Mailiyana
🌺KEJUJURAN
Motor Hana berhenti disebuah taman yang terletak di pinggir jalan sebelah kiri sebelum Polres. Selama Hana bekerja di kepulauan ini, belum pernah sekali pun dia singgah di taman yang lumayan indah itu.
Taman dengan rumput yang hijau dan pepohonan yang rindang membuat udara panas di siang hari itu menjadi lebih segar.
Hana melihat beberapa anak-anak yang sedang asyik bermain bola kaki. Suara riuh mereka membuat suasana ditaman seakan ramai. Ada juga sepasang muda-mudi sedang duduk dibawah pohon yang rimbun, mereka terlihat sedang bercengkerama.
Hana mencari-cari keberadaan Asran di sekeliling taman. Tapi, Asran sama sekali tidak terlihat ada disana. Apakah dia mengerjai Hana? Yang padahal Hana sudah menganggap serius semua ancamannya tadi, dan dengan berat hati sebenarnya Hana memutuskan untuk bertemu dengan Asran disini, ditaman ini.
Hana berjalan menelusuri taman itu sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan wajahnya. Hana bermaksud menunggu sekitar 5 menit lagi, kalau tidak ada juga tanda-tanda kedatangannya, Hana pulang dan jangan harap Hana mau lagi untuk diajak ketemuan.
“Kak, Maaf Asran telat…” Sebuah suara tiba-tiba muncul dari belakang Hana. Suara Asran itu mengagetkan Hana dan reflek Hana langsung menoleh kebelakang.
Hana memandang lelaki tampan yang tepat dihadapannya saat ini. Asran menggunakan baju berwarna merah hati yang membuat aura bersih dan putih dari wajahnya semakin memancar. Sesaat Hana mengagumi ketampanan Asran.
“Iya, ngak apa-apa” Jawab Hana. Hana yakin saat ini pasti penampilannya sedang amburadul, karena maklum saja dia baru pulang kerja dan otomatis wajahnya tak secerah saat pertama kali datang ke puskesmas, pasti sudah kusam akibat panasnya cuaca. Tiba-tiba Hana merasa tak percaya diri berhadapan dengan Asran.
“Kita duduk disana aja yuk Kak,” Ajak Asran sambil menunjuk kesebuah kursi panjang yang kebetulan ada di taman tersebut. Merekapun berjalan beriringan menuju kursi tersebut.
“Kak, sebelumnya Asran mau mintak maaf sama kakak. Atas apa yang telah kakak dengar di rekaman suara dari hp kak Ria itu….” Setelah sampai dikursi panjang, ASran langsung berujar.
“Asran akui, itu memang suara Asran…” Katanya. Hana masih diam dan siap-siap untuk mendengarkan penjelasan Asran lebih lanjut lagi.
“Tapi, Demi Allah… apa yang Asran katakan itu cuman dimulut saja kak… dihati Asran sedikitpun tidak ada niat untuk berkata seperti itu…”
“Oh Ya, jadi kenapa tiba-tiba bisa berkata seperti itu?” Tanya Hana kemudian dengan rasa penasaran.
“Ee.. Karena Asran tidak mau dan belum siap kak, jika teman-teman Asran tahu tentang yang sebenarnya…” Jawab Asran agak ragu-ragu.
“Tapi, sekarang Asran sudah tak peduli lagi kak.. Mau mereka tahu dan lantas mengolok-ngolok Asran. Tetap Asran tak peduli…”
“Tunggu dulu… Kak ngak ngerti maksud kamu apa… memang kenapa teman Asran harus mengolok-olok ASran? dan tahu tentang apa emangnya?” Potong Hana.
Asran tak langsung menjawab pertanyaan Hana. Ia tampak menundukkan kepalanya sambil *******-***** jari tangannya.
“Asran..?” Panggil Hana yang masih menunggu jawaban Asran.
__ADS_1
“Kalau masalah itu Asran belum bisa bilang kak…” Jawabnya.
“Kenapa memangnya…?” Hana bertanya lagi.
“Karena… kalau Asran jujur mengatakan semuanya… apakah kak Hana bisa terima?” Katanya balik bertanya.
Hana semakin tidak mengerti arah pembicaraan Asran yang menurutnya semakin berbelit-belit.
“Ya kakak ngak tau, karena kak kan belum tau juga kejujuran apa yang mau Asran katakan”
“Jadi, tidak apa-apa Asran jujur sekarang?” Tanyanya lagi.
“Ya… ngak apa-apa, malahan baguskan kalau harus jujur.”
Asran diam untuk beberapa detik. Ia seperti sedang memilah kata-kata yang tepat untuk diuatarakan ke Hana.
“Kalau seandainya… Asran bilang... kalau Asran sebenarnya… suka dengan kakak, apakah kak Hana bisa terima?”
Sssrrrr…. Mendadak keringat dingin mengalir di tubuh Hana saat mendengar penututan Asran barusan. Tatapan tajam dari mata Asran mampu membuat irama jantungnya berdetak lebih kencang. Sedikitpun Hana tak menyangka kata-kata itu yang keluar dari lisannya Asran.
“Ngak masuk akal…!” Ucap Hana sambil tersenyum kecil. Hana berusaha mencairkan suasana, dia tak mau terbawa perasaan. Karena ia tiba-tiba teringat kata kak Ria bahwa Asran yang masih bersifat kekanak-kanakan yang bisa melakukan segala sesuatu tanpa mikir efek kedepannya, Hana yakin ini hanya guyonannya semata.
“Kok ketawa kak? Asran serius!” Katanya agak kesal melihat Hana yang ketawa kecil menanggapi omongannya.
Hana memandang tajam kearah Asran sambil menyipitkan matanya, seakan dia mencari tanda-tanda kebohongan dari sinar mata Asran.
“Kalo boleh ASran tahu, kak Hana… menganggap Asran apa selama ini?” Tanyanya.
“Adik…” Jawab Hana dengan cepat.
“Adik….?” Asran Mengulang perkataan Hana.
Hana hanya mengangguk.
“Tidak lebih kak?”
Hana menggelengkan kepalanya dengan pasti.
“Kak Bohong!” Tuduhnya.
“Asran… Asran… memang lah kamu ya… Bisa-bisanya kamu bilang suka ke wanita lain sedangkan kamu sudah punya pacar…” Ucap Hana sambil tersenyum pahit.
Tetiba saja Hana teringat wanita bernama Sherly yang menelponnya pagi tadi.
“Pacar…?” Asran bertanya.
__ADS_1
“Iya… pacar… siapa namanya, sher…sherly kalau ngak salah… tadi pagi dia nelpon kakak… dengan sikapnya yang sombong itu, ketus dan marah-marah nyuruh kakak untuk jauhi kamu…”
“Si SHERLY…?” Asran menyebut nama itu dengan keras, seperti akan marah.
“Bukan pacar kak, tapi tepatnya mantan…” Ucapnya lagi.
“Terserah, mau pacar … mau mantan atau siapa pun dia, yang jelas, kak ngak mau lagi berurusan dengan dia… dan juga kamu…” Ucap Hana dengan tegas.
“Jangan gitu kak, ASran sudah merasa sangat nyaman dengan kakak.. Hari-hari Asran seperti lebih berwarna semenjak kakak hadir…”
“Jangan berlebihan Asran, Kita kenal baru hitungan bulan kok…” Kata Hana berusaha menyadarkan sikap Asran yang berlebihan menurutnya.
“Tidak ada batas waktu untuk menentukan rasa suka dan sayang itu muncul kak, mau cepat ataupun lambat kalau sudah hati yang berbicara ngak ada yang bisa mengelak kak…” Ucapnya dengan serius.
“Itu cuman rasa sementara kok… Nantik juga hilang dengan sendirinya..” Kata Hana lagi.
“Tidak semudah itu kak,” Ucap Asran sambil tersenyum kecil. Ia memandang lurus kedepan.
“Asran yakin ini bukan sekedar rasa sesaat saja seperti yang kak katakan. Asran bisa merasakan sesuatu yang beda dari sebelum-sebelumnya…. Dengan kak Hana ini beda… Jadi, percayalah dengan Asran kak, Asran benar-benar tulus…” Ucapnya yang kini langsung memandang kearah Hana dengan tatapan mautnya.
Sebenarnya Hana hampir terbuai, terlena dengan tatapan ASran, dengan semua kata-kata yang ia lontarkan. Hana tak bisa pungkiri bahwa hatinya tersentuh mendengarnya tapi lagi-lagi Hana langsung menepis semuanya.
“Kamu ngak sadar ya Asran, kakak ini usianya 7 tahun diatas kamu? Kak lebih TUA dari kamu…” Hana sengaja menekankan kata TUA tersebut untuk menyadarkan Asran. .
“Sadar kok kak… terus kenapa memangnya kak? Bagi ASran usia ngak akan jadi penghalang kok kak, Ngak masalah bagi ASran,”
“Iya bagi kamu emang ngak masalah, tapi bagi kakak, dan bagi orang-orang terdekat kamu nantiknya bagaimana? Apakah bisa menerima? Terus anggaplah kalau kak terima… selanjutnya kita mau ngapain? Pacaran?” Tanya Hana.
“Asran, dengan umur kak yang mau memasuki 30 tahun ini… bukan pacar lagi yang kak cari. Tapi, calon suami..” lanjut Hana lagi. Asran terdiam.
“Kenapa diam? Ngak terpikir sampai kesana kan? Belum siap nikah pastinya kan… ya iyalah kamu masih sangat muda, masih 23 tahun kalau untuk cowok umur segitu masih menikmati masa-masa mudanya, mana ada yang berpikir akan nikah diusia muda seperti itu…” Kata Hana dengan yakin.
“Jadi, Asran… Sekarang kak harap kamu buang segala rasa yang kamu bilang tadi itu. Kamu focus perbaiki diri menjadi lebih baik lagi, focus kerja, karier dan membahagiakan orang-orang terdekatmu, terutama orang tua…” Nasihat Hana.
“Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, selama ini kak ingin dekat dan kenal dengan kamu… karena kamu mengingatkan kakak dengan Reno, adik kakak yang sudah lama meninggal dunia… Terlalu banyak kesamaan
Kamu dengan Reno yang membuat rindu kak terhadapnya sedikit terobati setelah mengenal kamu…”
Kata Hana sambil tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Asran masih diam membisu.
Bersambung..
Jika kalian mau kelanjutanya, silahkan mampir di cerita di bawah ini👇👇👇👇
__ADS_1