
Bab 52 Meminta Maaf
"Kerumah sakit!" Jawab Wisnu. Tanpa bertanya lagi, Rian pun langsung mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya disana.
Genisa dan Wisnu turun dari mobil dan menuju meja informasi untuk mengetahui ruang rawat Pak Bristama saat ini.
"Maaf pak. Saat ini jam besukan sudah selesai" Ucap wanita itu kepada Wisnu.
Mendengar itu, Wisnu sedikit menoleh kepada Rian yang ada dibelakangnya dengan sedikit anggukan kepala.
Rian yang mengerti langsung pergi dari sana untuk mengurus ini semua.
Tidak berapa lama, Rian kembali bersama seorang pria bertubuh besar.
Ya dia adalah Dokter Rifaldi. Seorang Dokter sekaligus kepala yayasan Rumah Sakit itu.
"Selamat malam tuan!" Sapa Dokter Rifaldi.
"Malam. Maaf mengganggu anda malam-malam begini. Istri saya ingin menemui ayahnya yang sekarang masih dirawat disini" Jelas Wisnu.
Nampak Dokter Rifaldi tersenyum manis, "Mari tuan saya antar! Maafkan pegawai saya, mereka tidak tau bahwa anda adalah tuan muda Liu pemilik rumah sakit ini" Ucap Dokter itu sopan.
Genisa menatap Wisnu penuh tanya, "Rumah sakit ini milik kakek Liu?" Tanya Genisa cepat.
"Sepertinya iya. Kakek tidak bilang apapun soal rumah sakit ini!" Jawab Wisnu sekenanya.
"Rumah sakit ini memang milik Tuan Liu. Beliau tidak ingin banyak yang tau soal ini. Mengingat tuan adalah cucu dari tuan Liu, maka dari itu saya memberitahukan hal ini kepada Tuan muda!" Jelas Dokter itu.
"Mari tuan saya antar ke ruang rawatnya Pak Bristama!" Ajak Dokter lagi.
Wisnu hanya mengangguk menyetujui, lalu membawa Genisa mengikuti Dokter itu.
Krekkkk.
__ADS_1
Suara Pintu dibuka.
Joni yang sedang bermain Handphone seketika menoleh ke arah pintu.
Seorang Dokter masuk lebih dulu.
Joni kembali menatap layar handphone nya kala mendapati seorang Dokter yang masuk.
"Silahkan Tuan" Seru Dokter itu ramah.
Joni kembali dikejutkan oleh Seseorang yang masuk menyusul setelah Dokter itu.
"Genisa!" Lirih Joni kaget. Seraya menatap Genisa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kak Yunma bangun! Genisa datang" Lanjut Joni seraya menggoyangkan tubuh Yunma yang masih tertidur pulas disampingnya.
Yunma sedikit mengucak matanya asal, "Kamu bicara apa sih Jon! Mana Mungkin Genisa datang tengah malam begini" Keluh Yunma tidak percaya.
"Itu lihat!" Joni memegang kedua pipi kakaknya itu dan mengarahkan nya kehadapan Genisa.
"Kak Yunma!" Seru Genisa lembut.
"Genisa!" Lirih Yunma dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Papi!" Ucap Genisa khawatir dengan sudah berlari mendekati Brankar dorong tempat ayahnya berbaring saat ini.
"Papi maafkan Genisa! Genisa sayang Papi!" Ucap Genisa lagi yang sudah memeluk tubuh ayahnya erat. Bulir-bulir air matanya pun meluruh begitu saja, suara isakkan tangisnya pun kian terdengar.
"Ge-Ge-Genisa!" Sebuah suara terdengar begitu lirih. Hampir tidak terdengar.
Genisa mengusap kedua matanya, lalu berdiri dan melihat sumber suara itu.
"Papi? Papi sudah bangun!" Ucap Genisa senang, lalu kembali memeluk tubuh ayahnya dengan erat.
"Sebentar Nona. Saya akan periksa keadaan pak Bristama dulu!" Ucap Dokter itu cepat. Lalu mengambil alih dan segera memeriksa keadaan Pak Bristama. Pasalnya sejak tadi siang, Pak Bristama belum juga sadar dan menunjukan hasil yang lebih baik, namun setelah kedatangan Genisa Pak Bristama bisa langsung sadar saat ini.
__ADS_1
Setelah beberapa saat.
Nampak Dokter melukiskan senyuman manisnya, "Bagaimana Dok?" Tanya Genisa cepat.
"Syukurlah, Pak Bristama sekarang keadaan nya sudah stabil. Beruntung dia bisa melewati masa kritisnya saat ini" Ucap Dokter itu senang.
"Alhamdulillah" Ucap mereka semua bersamaan.
"Wisnu!" Seru Yunma Ragu.
Semua mata menatap Yunma heran.
"Kami semua minta maaf sama kamu! Kami sadar bahwa apa yang kami lakukan selama ini sama kamu itu adalah salah. Kami terlalu memandang kamu rendah dan selalu membuat kamu menderita. Saya sebagai anak tertua ingin meminta maaf atas segala kesalahan kedua orang tua ku dimasalalu dan juga kesalahan ku yang dimasalalu!" Ucap Yunma dengan tulus.
"Aku juga minta maaf Wisnu. Aku juga salah selama ini karena tidak pernah menganggap kamu sebagai menantu di keluarga kami. Aku juga malu, setelah hidup miskin aku tidak bisa membantu kesulitan ku sendiri. Aku tau jika yang membayar pengobatan papi sama mami itu adalah kamu" Sambung Joni yang juga memasang wajah bersalah dengan sedikit menunduk malu.
Genisa melukiskan senyuman kebahagiaan dibibirnya. Yang dia tunggu-tunggu selama ini akhirnya terjadi.
Genisa menatap kedua kakaknya dengan dalam. Ada rasa haru sekaligus bahagia menyelimuti hatinya saat ini melihat kedua kakaknya sudah berubah.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author
__ADS_1