Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Ekstra chapter 6


__ADS_3

"Sebaiknya kita masuk dulu Nis. Nanti kamu ceritakan semuanya di dalam ya!" Ujar Joni kemudian. Anis pun mengangguk mengiyakan, lalu mereka semua masuk kedalam rumah.


Di ruang tamu.


Anis duduk di kursi dengan saling berhadapan kepada Joni. Sementara Sinta pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.


"Ada masalah apa kamu bersama suami mu?" Tanya Joni tanpa basa-basi.


Anis menatap lekat seorang pria yang ada di depannya itu, "Suamiku, aku tidak mencintainya. Dan dia memanfaatkan aku sebagai istri keduanya untuk menghancurkan istri pertamanya. Tapi sekarang dia malah semakin gila, dia memukul ku setiap hari karena semua asetnya di tarik oleh istri pertamanya dan dia tidak membiarkan aku untuk beristirahat. Setiap hari selalu saja membawa wanita simpanannya di rumah, dia bercinta dengan wanita lain di depan ku tanpa rasa malu. Aku harus gimana Jon, aku bingung, kontrak pernikahan masih 1 tahun lagi dan aku sudah tidak tahan sekarang" Ujar Anis menceritakan semuanya kepada Joni tanpa ada yang di tutup-tutupi.


Joni menarik nafas dalam, "Apa kau ingin meninggalkan suamimu sama seperti kau meninggalkan aku?"


Mendengar pertanyaan Joni, Anis sedikit mengangkat wajahnya menatap Joni dengan rasa bersalah.


Anis ingat betul bagaimana waktu dulu ia meninggalkan Joni. Joni yang sedang mengalami kebangkrutan karena harta mereka yang di sita oleh bank, Anis dengan tega meninggalkan Joni di saat Joni berada di bawah. Anis meninggalkan Joni dengan dalil ingin mendapatkan pria yang lebih kaya dari Joni. Namun apa yang terjadi sekarang?


Anis menunduk malu, "Aku minta maaf karena sudah meninggalkan mu waktu itu. Aku sadar dan aku malu karena mementingkan harta dari pada keluarga" Ucap Anis yang merasa bersalah.


Joni tersenyum miring, ternyata wanita yang pernah ia cintai itu sudah menyadari kesalahannya sekarang.


"Sudahlah. Masalalu biarlah menjadi pelajaran. Sekarang aku sudah memaafkan mu, dan aku bahagia karena istriku saat ini jauh lebih mencintai aku dari pada hartaku" ujar Joni.


Tidak lama, Sinta pun keluar dengan membawa nampak berisikan segelas air dan beberapa cemilan.


"Ini silahkan diminum" Kata Sinta seraya menyodorkan nampan itu di depan Anis.


Anis tersenyum tipis, "Terimakasih" Jawabnya sopan. Lalu di balas dengan anggukan kepala oleh Sinta.


"Sayang! Anis meminta tolong kepada kita. Dia ingin bercerai dengan suaminya, namun tidak tau harus bagaimana karena mereka sudah melakukan kontrak pernikahan" Jelas Joni kepada Sinta yang baru duduk disampingnya.


Sinta menatap Joni sejenak, lalu beralih kepada Anis. Terlihat Anis tersenyum penuh harapan kepada Sinta.


"Anis. Sebenarnya, kami tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga mu. Bukan karena kami tidak perduli, tapi masalah mu itu terlalu beresiko" Ujar Sinta.


"Aku mohon Sinta tolong aku. Aku sudah tidak sanggup bersama laki-laki itu, aku tidak tahan setiap hari selalu disakiti olehnya" Mohon Anis dengan wajah memelas penuh harap.


"Aku tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi selain kalian berdua. Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan meminta tolong lagi"


Sinta dan Joni saling melempar pandangan dengan bingung.


"Aku punya satu cara untuk menolong masalah mu" Ujar Joni kemudian.


"Apa?" Tanya Anis cepat. Sinta pun menatap Joni dengan penasaran akan rencana suaminya itu.


"Aku ada kenalan seorang pengacara hebat. Pengacara itu adalah pengacara pribadi Wisnu, aku akan berbicara kepada Wisnu dan membantu masalah mu ini" Jawab Joni.


"Wisnu?" Lirih Anis ragu.


"Tapi aku malu kepadanya. Aku selalu menghina dia dan sekarang aku meminta tolong padanya? Sungguh aku tidak enak hati" Ungkap Anis.


"Wisnu pasti akan membantu mu, Wisnu adalah orang yang baik. Dia akan membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan. Besok aku akan menemuinya"

__ADS_1


"Bolehkah aku ikut bersamamu?" Tanya Anis.


"Maaf Sinta. Aku hanya ingin bertemu Wisnu, tidak lebih" Sambung Anis tidak enak hati kepada Sinta.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti kok" Jawab Sinta dengan senyuman manisnya.


"Besok kita pergi sama-sama. Oke!" Ujar Joni yang membuat senyum kedua wanita itu mekar dengan sempurna.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Hai teman-teman, siapa tau ada yang mau mampir di karya lomba terbaru Author ya.


Ini dia cuplikan novel nya: πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


Kisah ini bermula di saat kejadian pembunuhan malam itu di rumah kediaman keluarga Vandalas.


Dewi meraih Reynand dan membawanya lari menjauhi perkelahian, walaupun berat meninggalkan sang suami, namun Dewi tetap melangkah pergi demi untuk menyelamatkan anaknya Reynand.


Sesampainya di sebuah ruangan rahasia yang ada di lantai bawah tanah, Dewi duduk berjongkok seraya memeluk Reynand dengan erat.


Kedua tangannya melekat kepada kedua pipi anak laki-lakinya itu, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Dewi berkata dengan lembut, "Anak mama yang pintar, kamu sembunyi dulu ya sayang. Mama mau menolong papa dulu" Ujar Dewi membujuk anaknya yang masih gemetar ketakutan. Air mata Reynand pun masih membasahi pipinya, dan tidak berhenti menangis.


"Husss, jangan nangis. Nanti penjahat itu mendengar kita disini. Sekarang diam ya, dan kamu harus sembunyi, mama janji akan kembali bersama ayahmu" Janji Dewi kepada anaknya.


Reynand pun berangsur diam setelah ibunya menenangkan dirinya. Reynand bersembunyi di balik lemari yang di dalamnya terdapat ruangan kecil dan cukup untuk dua orang didalamnya.


Dewi pergi dari sana dan menyusul sang suami.


Doarrrrrr.


Doarrrrrr.


Suara tembakan pun menggelegar, membuat anak itu semakin ketakutan dengan kedua tangannya menutupi kedua telinganya.


Setelah 40 menit bersembunyi, Reynand keluar dari persembunyiannya. Setelah semuanya terdengar sunyi, Reynand yang tidak tau bagaimana keadaan ayah dan ibunya, segera keluar dari ruangan itu.


Reynand berlari menghampiri ayah dan ibunya yang sudah tergeletak tidak bernyawa. Darah bersimbah dimana-mana, anak itu tidak bergeming atau pun takut melihat darah yang banyak di seluruh ruangan. Hanya Suara teriakan Reynand yang memanggil ibunya dengan begitu memilukan. Anak yang baru berumur 7 tahun itu sudah menyandang sebagai anak yatim piatu tanpa ayah dan juga ibu.


****

__ADS_1


"Reynand!"


Reynand seketika tersentak, lamunannya terbuyar seketika dikala seseorang meneriakinya dari ujung Pintu dapur.


"Kamu itu lagi ngapain sih? Disuruh ngambil minuman tapi gak di antar keluar. Kamu mau saya hukum lagi"


"Maaf Tante. Reynand lupa!" Jawab Reynand dengan takut.


"Apa? Lupa?"


"Kamu sudah gak waras, mengambil minuman saja kamu lupa? Dasar anak tidak tau di untung. Sudah menumpang tidak mau bekerja. Jika kamu seperti ini terus, maka Tante akan membuang kamu ke jalanan dan kamu akan mati kelaparan di luaran sana" Ancam Renata dengan bertelekan pinggang.


Reynand membungkuk memohon ampunan kepada Renata, bibinya. Reynand yang masih menginjak umur 9 tahun, tidak tau apa-apa dunia diluar sana seperti apa. Dia selalu dikurung di rumah itu tanpa di ijinkan keluar oleh Renata.


"Maafkan Reynand Tante. Reynand janji gak akan melakukan kesalahan lagi" Ucap Reynand masih memohon kepada Renata.


Renata tersenyum miring, "Baik. sepuluh kali cambukan, maka aku akan memaafkan mu!" Ujarnya.


Reynand hanya terdiam, lalu mengangguk pelan. Hukuman seperti ini sudah biasa Reynand rasakan. Cambukan itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Reynand jika melakukan kesalahan.


***


Malam hari.


Reynand duduk di di sebuah kursi di taman seraya menengadahkan kepalanya keatas. Bintang dan bulan itu terlihat begitu indah menghiasi langit.


"Ayah, Ibu. Aku merindukan kalian. Apa kalian juga merindukan aku? Kenapa kalian meninggalkan aku di dunia ini sendirian. Kalian pergi tanpa berpamitan kepadaku, kalian sudah berjanji akan kembali lagi. Tapi kenapa kalian tidak kembali? Aku sendirian, aku tidak punya siapa-siapa disini. Tante selalu menghukum ku jika aku melakukan kesalahan. Tidak ada yang menyayangiku disini ayah, ibu. Mereka semua jahat kepadaku. Apa kalian mendengar ku, aku merindukan kalian" Lirih Reynand dengan air mata yang sudah menjatuhi pipi. Suara tangis didalam kediaman, sangat menyiksa Reynand. Hidupnya bagaikan di dalam penjara, walaupun dia sendiri belum mengerti sebuah penjara.


Reynand pun menangis hingga ia tertidur pulas di bawah hamparan bintang. Angin malam yang menusuk jiwa, sudah tidak terasa lagi oleh Reynand. Karena setiap malam, ia selalu di suruh tidur di luar rumah atau disuruh tidur di gudang oleh Renata. Selama beberapa tahun terakhir, semenjak kedua orang tua Reynand meninggal, rumah itu sudah di ambil alih oleh Renata. Reynand tidak di ijinkan sedikit pun menyentuh barang-barang yang ada di dalam rumah.


Tubuh kecil itu meringkuk, dengan kedua tangannya memeluk kakinya yang kedinginan.


Sementara di tempat lain. Terlihat Renata menatap Reynand dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Maafkan aku kakak. Aku akan membuat anakmu menderita seumur hidupnya. Bahkan membunuhnya secara perlahan" Lirih Renata dengan tersenyum licik.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jika kalian penasaran, silahkan mampir disini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡ ya!


__ADS_1


__ADS_2