
Bab 67 Sebuah Rencana
Rian hanya terkekeh, "Walaupun kamu adalah bagian keluarga Tuan Liu. Aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan kebahagiaan tuan Wisnu. Kamu tidak berhak atas tuan Wisnu disini" Ucap Rian tegas.
"Ya ya ya ya. Terserah kamu saja" Ketus Clara dan melengos pergi dari sana.
Rian hanya tergeleng lalu mengikuti Clara untuk masuk kedalam.
Setelah melihat Clara masuk dan hanya berlalu tanpa permisi, Wisnu hanya terdiam dan melihat Clara dan Rian secara bergantian dengan heran.
"Ada apa dengan mereka berdua? Jangan-jangan mereka ada hubungan yang tidak aku ketahui. Clara bukan tipe orang yang mudah marah kepada orang yang baru ia kenal. Jangan-jangan mereka,,,,,,,," Batin Wisnu curiga.
"Tuan!" Seru Rian. Seketika Wisnu terperanjat dan langsung menoleh ke arah Rian.
"Ada apa?" Tanya Wisnu cepat.
"Mobil sudah siap. Kita tinggal berangkat" Ujar Rian mengingatkan.
"Ahh baik-baik. Aku akan menyusul" Jawab Wisnu.
"Tante, tinggallah dulu di rumah ini bersama Genisa. Aku akan pergi sebentar" Lanjut Wisnu.
"Baiklah Wisnu. Tante juga ingin mendekatkan diri bersama Genisa" Jawab Tante Sonia ramah seraya tersenyum manis kepada Genisa.
"Syukurlah Tante"
"Sayang! Aku pergi dulu ya. Kamu hati-hati dirumah" Lanjut Wisnu.
Genisa hanya mengangguk pelan dengan senyuman manisnya.
"Mari mas aku antar ke depan" Tawar Genisa. Wisnu hanya membalas dengan anggukan pelan.
__ADS_1
Di depan rumah.
"Sayang! Kamu hati-hati ya! Jangan melakukan sesuatu yang akan menyakiti mu" Kata Genisa mengingatkan setelah berada di teras rumah, seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Ia sayang!" Jawab Wisnu lembut.
"Ya sudah. Mas pergi dulu" Lanjut Wisnu.
Setelah berpamitan. Wisnu langsung masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya menjauh dari sana.
"Ya Allah. Lindungilah dimana pun suamiku berada" Doa Genisa didalam hatinya seraya menatap mobil Wisnu yang semakin menjauh.
*****
Di rumah sakit.
Nampak dua orang pengawal berjaga di depan pintu ruangan rawat Joni.
"Penjagaan disana sangat ketat. Bagaimana caranya aku masuk dan menghabisi nyawa Joni sebelum ia mengatakan yang sebenarnya" Lirihnya pelan dengan tetap fokus menatap kedepan.
"Permisi! Saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu"Β
Seketika orang itu menoleh kearah suara. Nampak seorang perawat sedang berdiri di depan ruangan rawat Joni seraya meminta ijin untuk masuk ke ruangan.
Pengawal itu memeriksa beberapa bagian tubuh sang perawat untuk memastikan bahwa perawat itu tidak memiliki niat jahat. Lalu berpindah memeriksa kepada peralatan medis yang perawat itu bawa setelah memastikan di tubuh sang perawat tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
"Silahkan masuk!" Kata pengawal itu setelah memeriksa sang perawat.
Seketika senyuman Devils seseorang itu melukis dengan sempurna.
"Aku tau harus berbuat apa sekarang" Ucapnya dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
Di dalam mobil.
Wisnu yang masih di perjalanan menatap fokus ke layar handphone nya.
Wisnu merasa gelisah, sesuatu yang aneh mengganggu pikirannya.
"Rian! Apa kau sudah memasang cctv yang aku perintahkan" Tanya Wisnu.
"Sudah tuan. Semuanya sudah siap!" Jawab Rian mantap.
"Bagus. Kita tinggal memasang perangkap. Walaupun harus mengorbankan nyawa seseorang" Balas Wisnu.
Walaupun hatinya begitu ragu melakukan ini, namun mengingat ini adalah cara satu-satunya untuk menangkap penjahat itu, maka Wisnu harus benar-benar meyakinkan hatinya dengan mantap.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author
__ADS_1