
Bab 46 Jebakan
Joni menjadi kikuk dan juga terlihat salah tingkah.
Sesampainya di meja makan.
Sinta mulai menata makanan disana. Nampak Joni hanya diam seraya menunggu makanan selesai di tata.
"Joni! Kamu tinggal dimana Sekarang?" Tanya Pak Hasan memecah keheningan.
"Di gang Rambutan pak. Didekat warung makan punya Sinta!" Jawab Joni tanpa ragu.
"Oh disitu! Berdekatan dong ya kalian" Kata Pak Hasan.
"Iya Pi. Gak terlalu jauh juga disana jalan kaki aja udah sampai kok" Timpal Sinta.
"Udah nih. Sekarang makan dulu!" Lanjut Sinta dengan memberikan masing-masing piring kepada ayahnya dan juga Joni.
******
Di ruang kerja.
"Siang tuan" Seru Rian dengan memberikan hormat.
"Ada apa Rian?" Tanya Wisnu yang masih duduk dengan mendongakkan wajahnya keatas.
"Saya sudah mendapatkan informasi keberadaan Bram Tuan. Lokasi keberadaan nya sekarang ada didekat hutan di pulau Karismata" Jelas Rian.
"Kerahkan semua anggota kita untuk pergi kesana dan juga bawa aparat keamanan untuk membantu menangkap pria tua itu" Ucap Wisnu serius.
"Baik tuan. Akan segera saya uruskan keberangkatan kesana!" Balas Rian.
"Ada apa Wisnu? Sepertinya kalian serius sekali" Tanya kakek penasaran yang tiba-tiba muncul di dekat pintu.
__ADS_1
"Kami sedang membahas masalah om Bram kek. Rian sudah menemukan keberadaan nya!" Jelas Wisnu.
"Sebaiknya kalian jangan pergi kesana!" Cegah kakek.
Wisnu menautkan kedua alisnya ketengah, menatap kakek dengan bingung. Begitupun dengan Rian yang ekspresinya sama seperti Wisnu.
"Kenapa?" Tanya Wisnu dan Rian serempak.
Kakek menatap kedua pemuda itu dengan sedikit menghela nafas kasar.
"Kalian pikir bisa menemukan keberadaan Bram dengan mudah itu akan membuat kalian beruntung begitu?" Ucap kakek. Wisnu masih menatap Kakeknya dengan bingung.
"Maksud kakek?" Tanya Wisnu tidak mengerti.
"Kakek yakin Bram mempunyai maksud lain dari ini semua. Kakek tidak ingin kamu di jebak oleh dia. Kerahkan saja pengawal kita pergi kesana! Kamu dan Rian tetap disini untuk memantau situasinya" titah kakek.
"Kalian tidak akan semudah ini untuk menemukan Bram. Kakek yakin ini hanya jebakan!" Lanjut kakek.
"Tidak Tuan. Apa yang Tuan Liu katakan benar. Sebaiknya tuan jangan kesana dulu! Kita harus melihat perkembangan para pengawal dulu. Lalu setelah itu baru kita sendiri yang akan turun tangan" Saran Rian menimpali.
"Apa kalian yakin?" Tanya Wisnu.
"Kita juga harus menggunakan taktik untuk melawan Bram. Kamu jangan gegabah Wisnu. Kamu belum mengenal Bram itu seperti apa" Ucap kakek mengingatkan.
"Baiklah kek. Aku akan mengikuti saran kakek" Kata Wisnu pasrah.
"Rian. Urus semua nya, dan katakan kepada anggota kita yang pergi kesana untuk berhati-hati dan terus berada didalam satu kelompok dan jangan berpencar!" Lanjut Wisnu memerintahkan Rian.
Rian mengangguk mengiyakan, seraya memberi hormat sebelum ia benar-benar pergi dari sana.
*******
Di rumah tua.
__ADS_1
Angin sepoi-sepoi menerjang wajah Buk Rosa yang sedang duduk di kursi depan rumah.
Daun-daun mulai menguning dan berguguran memenuhi halaman rumahnya.
Langit pun juga mulai menghitam, sepertinya akan turun hujan siang ini.
Nampak Buk Rosa menatap lurus langit-langit dengan wajah yang sendu. Sesendu hari siang ini.
"Genisa? Apa kabar kamu sekarang" Lirih Buk Rosa dengan tampang sedih.
"Ah pastinya kamu sudah bahagia karena Wisnu mencintai kamu apa adanya" Lanjutnya dengan terkekeh kecil. Tawanya pun pecah disana, entah apa yang membuatnya tertawa.
Tiba-tiba wajah Buk Rosa kembali murung, kini air matanya meluruh tanpa ada sebab yang pasti.
Yunma yang ada di dekat pintu menatap ibunya dengan sedikit heran.
"Kenapa mami menjadi seperti itu?" Batin Yunma.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author
__ADS_1