
Bab 41 Gelisah
"Sudahlah. Yang penting Sinta sudah jawab Iya. Jadi aku besok tinggal kesana saja" Ucap Joni kemudian setelah beberapa saat terhanyut didalam pikirannya itu.
Joni pun berlalu pergi dari sana menuju rumahnya. Sesekali Joni nampak tersenyum manis, kala mengingat sosok Sinta yang menurutnya sangat unik.
"Cie ada yang senyum-senyum. Kenapa?" Ledek Yunma yang berada didepan pintu.
Joni tertegun, dengan cepat ia menetralkan kembali senyum itu menjadi tatapan dingin.
"Gak ada kok. Kamu salah lihat mungkin" Elak Joni.
"Gak ngaku lagi" Kata Yunma tidak mau kalah.
"Udah udah. Aku capek mau masuk dulu" Joni berlalu begitu saja.
***
Keesokan harinya.
Sinar matahari yang begitu cerah, menambahkan semangat Joni semakin membara.
Entah kenapa? Ia begitu merasa sangat bahagia akan bertemu dengan Sinta. Semacam dorongan magnet yang begitu kuat.
"Joni pergi dulu Mi!" Teriak Joni lalu pergi begitu saja.
"Dasar anak itu main pergi gitu aja" Gerutu Buk Rosa.
Sementara itu, ditempat lain.
__ADS_1
Wisnu menatap sang istri dengan wajah sedihnya.
Genisa terlihat sangat murung.
Wisnu berjalan mendekati sang istri yang sedang duduk di balkon teras rumahnya itu.
"Sayang!" Seru Wisnu lembut. Genisa sedikit menoleh.
"Kamu kenapa?" Tanya Wisnu. Lalu Wisnu langsung menduduki bokongnya di kursi samping Genisa.
"Gak mas. Cuma kepikiran sama Mami dan Papi aja. Apa mereka baik-baik aja ya?" Kata Genisa dengan tatapan lurus kedepan tanpa semangat.
Wisnu nampak menghela nafas panjang, "Yang sabar ya. Mereka pasti akan baik-baik saja. Kamu tenang aja. Maaf jika mas belum mengijinkan kamu untuk bertemu mereka saat ini. Mas ingin mereka berubah dan lebih mandiri. Setidaknya mereka menyadari kesalahan mereka dahulu baru mas akan membawa kamu bertemu dengan mereka" Jelas Wisnu.
"Iya mas" Jawab Genisa singkat.
"Kalau gitu kamu hati-hati dirumah ya! Mas berangkat ke kantor dulu" Ucap Wisnu.
Genisa mencium punggung tangan suaminya lembut, lalu dibalas oleh Wisnu kecupan hangat di kening Genisa sebelum pergi meninggalkan sang istri.
****
Didalam mobil
Nampak Rian sedang duduk di bangku depan seraya menyetir mobil.
Rian sedikit menatap Wisnu dari balik kaca Spion depan mobil.
"Apa Tuan baik-baik saja?" Tanya Rian membuka suara kala mendapati Wisnu yang hanya diam saja sejak tadi.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Rian. Bagaimana keadaan mertua dan kakak ipar ku itu? Apa ada perubahan?" Ucap Wisnu yang malah balik bertanya.
"Sedikit lebih baik tuan. Namun kita jangan dulu gegabah. Mereka harus juga harus belajar untuk tidak mengharapkan siapapun untuk menolong mereka. Dan mereka harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan apa yang ingin mereka capai" Jelas Rian
"Istriku merindukan mereka! Apa yang harus aku lakukan Rian?" Tanya Wisnu lagi.
"Bagaimana jika aku merekam segala kegiatan mereka. Nanti akan aku berikan kepada Tuan untuk nyonya Genisa lihat. Setidaknya mengurangi sedikit rasa rindunya" Saran Rian.
"Boleh juga. Terimakasih ya Rian. Kamu selalu membantuku menyelesaikan masalah ku" Ucap Wisnu senang.
"Sama-sama Tuan. Aku senang bisa membantu Tuan" Balas Rian.
Rian pun kembali fokus menyetir, dan sedikit menambah kecepatan mobilnya menuju kantor.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πππ Dengan Like dan komen karya ini ya.
Jangan lupa ya! like dan komennya
__ADS_1
Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author