Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Bab 73


__ADS_3

Bab 73


"Aku selalu kagum akan kecerdasan mu Bella. Apa kau meragukan aku?" Kata Wisnu dengan senyuman menyeringai nya.


"Apa kau pikir aku tidak bisa menjamin keamanan kalian berdua?" Tanya Wisnu serius.


"Jika kalian mengatakan yang sebenarnya. Aku jamin Herlangga dan Bram tidak akan mengganggu kalian lagi. Jika tidak kalian katakan padaku juga tidak masalah, maka kalian akan tanggung saja sendiri bagaimana akibatnya dan kalian juga pasti tau bagaimana susahnya di buru oleh mereka selama ini untuk melakukan hal yang tidak seharusnya kalian lakukan!" Lanjut Wisnu.


Bella sedikit diam. Matanya kini beralih kepada Sinta. Mencoba memikirkan akan apa yang Wisnu katakan barusan.


"Wisnu benar. Mereka hanya memanfaatkan aku selama ini. Jika mereka tidak ada lagi di kehidupan ku, maka aku akan terbebas selamanya dari mereka" ucap Bella di dalam hatinya.


"Baiklah. Aku setuju. Tapi berjanjilah bahwa kamu akan menepati janjimu untuk melindungi kami" Ucap Bella kemudian setelah sejenak berpikir.


Wisnu nampak tersenyum senang, "Rian lepaskan mereka. Namun jangan lupa untuk membawa mereka ke dalam mobil. Aku menunggu disana!" Titah Wisnu kepada Rian. Lalu tidak lama setelah itu ia pun langsung pergi.


Rian sedikit menatap Bella sejenak, "Berjanjilah kau tidak akan mengecewakan kami lagi!" Ujar Rian tegas. Lalu melepaskan ikatan tali yang ada di tangan dan kaki Bella.


Setelah beberapa saat, mereka semua pun sudah berada di luar ruangan. Lebih tepatnya di halaman depan rumah.


"Silahkan masuk!" Ucap Rian dingin.


Bella dan Sinta pun masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Wisnu.

__ADS_1


Sementara itu, Rian masuk ke dalam mobil yang sama dengan Bella dan Sinta untuk mengawal mobil depan sekaligus sebagai pemimpin arah jalan menuju tempat persembunyian Herlangga.


"Tunjukan jalannya!" Titah Rian tegas sebelum melajukan mobilnya.


"Iya iya" Jawab Bella dengan sedikit memutar bola mata malas.


Rian pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat persembunyian Herlangga.


Sementara itu, di rumah kediaman keluarga Liu. Semua orang sudah memenuhi aula untuk melakukan tahlilan meninggalnya Kakek Liu.


Genisa dengan wajah khawatirnya nampak mondar-mandir di depan pintu masuk rumahnya.


Wajahnya begitu pucat dan gemetar.


"Eh Genisa. Kamu gak masuk? Acara udah mau mulai tuh. Gak niat banget ya ngadain acara tahlilan kakek" Ucap Clara ketus yang baru keluar menghampiri Genisa.


"Gak kok Clara. Aku hanya khawatir sama Wisnu. Sudah malam gini dia belum juga pulang" Jelas Genisa.


"Wisnu mah gitu. Dia gak akan pulang kalau urusannya belum selesai. Sebaiknya kamu gak usah tungguin dia deh" Jawab Clara.


"Kenapa aku gak boleh nungguin dia? Aku kan istrinya jadi wajar kalau aku khawatir" Kata Genisa yang sedikit meninggi.


"Kamu di bilangin malah nyolot banget ya. Gak pantes banget kamu jadi istrinya Wisnu. Coba aja Wisnu milih aku, dia pasti bahagia banget" Hina Clara.

__ADS_1


"Maksud kamu? Kamu suka sama suami aku? Kamu itu kan saudara sepupunya Wisnu?" Ucap Genisa tidak menyangka.


"Iya sekarang aku sepupunya Wisnu. Tapi dulu kami lebih dari sekedar teman dekat. Dan lebih dekat dari apa yang kamu bayangkan Genisa" Ujar Clara dengan sedikit tersenyum miring. Lalu Clara berlalu pergi begitu saja meninggalkan Genisa yang masih mematung di sana.


"Kenapa Wisnu tidak pernah bercerita tentang Clara? Apa mereka sedekat itu, sehingga Clara mengetahui sifat-sifat Wisnu?" Ucap Genisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca ingin menangis.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πŸ™πŸ™πŸ™ Dengan Like dan komen karya ini ya.


Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author

__ADS_1


__ADS_2