Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Bab 76


__ADS_3

Bab 76


"Semua itu tidak benar. Kamu yang sudah meninggalkan dia ke luar negeri. Rasa cinta dia kepada mu sudah hilang jadi jangan menyalahkan orang lain karena ulah mu sendiri" Sangkal Wisnu.


"Itu tidak penting bagiku sekarang. Yang terpenting adalah bagaimana aku bisa mendapatkan dia kembali dengan melenyapkan kamu dari hidupnya" Balas Herlangga dengan tatapan tajam.


Herlangga mengeluarkan sebuah pistol yang memang sengaja ia siapkan untuk membunuh Wisnu.


Herlangga langsung menodongkan senjata itu tepat di kepala Wisnu.


"Apa aku harus menembak mu di sini?" Tanya Herlangga dengan senyuman menyeringai nya.


"Ahh tidak-tidak. Jika aku tembak di sini, kau akan segera mati. Dan aku tidak akan menikmati pemandangan indah itu dengan puas" Lanjut Herlangga dengan senyuman liciknya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau di dada mu Wisnu?" Tanya Herlangga lagi yang sengaja mempermainkan Wisnu.


"Walaupun kamu berhasil membunuh ku, Genisa tidak akan pernah mencintai kamu Herlangga. Ingatlah itu baik-baik" Jawab Wisnu yakin.


"Apakah kau yakin akan hal itu. Bagaimana jika setelah kematian mu, Genisa merasa sangat kesepian? dan aku yang akan menghangatkan malamnya setelah itu"


"Kurang ajar. Jangan pernah bermimpi untuk menyentuh istriku" Teriak Wisnu dengan geram.


"Wisnu-Wisnu. Kau begitu naif sekali. Seorang wanita tidak akan mampu untuk hidup di dalam kesendirian saja. Dan hari ini aku akan segera membunuh kalian semua tanpa ampun. Genisa akan segera menjadi milik ku!" Ujar Herlangga lagi. Lalu sebuah pistol kembali ia angkat sejajar dengan bahunya yang mengarah kepada Wisnu.


"Selamat tinggal Wisnu!" Ucap Herlangga lirih dengan senyuman liciknya, namun masih terdengar dengan jelas oleh Wisnu.

__ADS_1


Dorrrrrrrrrrrrrrrrr.


Bruakkkkkkkjjj


"Tidakkkkkkkkkkk"


"Ahkkkkkkkkkk"


"Rian bangunlah! Kenapa kau melakukan itu? Bertahanlah!" Teriak Wisnu khawatir. Matanya memerah, bulir-bulir kristal beningnya pun meluruh begitu saja disaat ketidak berdayaan nya telah melukai orang yang begitu bearti untuknya.


Disaat Herlangga sedang berbicara bersama Wisnu dan lengah dalam memperhatikan yang lain, termasuk dirinya. Rian dengan cepat melepas ikatan tali yang ada di tangan dan kakinya dengan sebuah pisau kecil yang ada dalam baju bagian belakangnya.


Dan di saat tali itu sudah terlepas satu persatu. Tanpa berpikir dua kali, Rian dengan cepat menghadang tembakan pistol Herlangga yang mengarah kepada Wisnu. Dan akhirnya dirinya lah yang terkena peluru itu.


"Hahahahah. Ternyata kamu ingin mati lebih dulu rupanya!. Biar ku percepat, lalu setelah itu giliran tuan mu itu yang aku bunuh" Ujar Herlangga dengan tersenyum miring penuh kelicikan.


"Tidak. Jangan lakukan itu. Aku mohon" Kata Wisnu memohon dengan mata yang sudah sembab.


Herlangga hanya tersenyum miring, seakan menikmati akan apa yang Wisnu rasakan saat ini. Yaitu, ketidakberdayaan.


"Bagaimana kalau aku menembaknya sekarang?" Tanya Herlangga tersenyum tipis.


Hening.


"Jika kau diam. Itu artinya iya" Lanjut Herlangga dengan mengarahkan pistolnya ke hadapan Rian.

__ADS_1


Wisnu membulatkan matanya, "Jangan!" Ucap Wisnu lantang.


Dorrrrrrrrrrrrrrr.


Tiba-tiba suara tembakan kembali terdengar.


"Akhhhhhhhhhh"


"Detektif Rio?" Lirih Wisnu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Akhhhh. Sakit" Teriak Herlangga yang sudah tersungkur ke lantai.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πŸ™πŸ™πŸ™ Dengan Like dan komen karya ini ya.


Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author


__ADS_2