Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Bab 22 Kelaparan


__ADS_3

Bab 22 Kelaparan


"Jika kamu ingin tidur di tanah silahkan! dan jika kamu ingin tidur dikamar ini silahkan bersihkan sendiri. Aku bukan lagi pembantu kalian, sekarang kalian yang menumpang dirumah ku jadi harus tau diri" Jawab Wisnu cepat.


Seketika mereka melongo, menatap Wisnu dengan wajah tidak suka. Wisnu pun berlalu pergi, meninggalkan mereka semua yang masih berada diruang tamu itu.


"Bisa-bisa nya dia suruh kita membersihkan ini. Mana ini jorok lagi" Ucap Anis tidak terima seraya menutup hidungnya dengan satu tangan yang ia jepit dengan dua jarinya.


****


Sementara itu ditempat lain. Rian sudah menunggu diujung jalan dengan mobil mewah yang ia bawa.


Ternyata sebelum kepergiannya tadi, ia sudah lebih dulu menghubungi Rian.


Hari sudah hampir malam.


Setelah membersihkan kamar masing-masing. Keluarga kecil yang disebut sebagai keluarga buana itu duduk diruang tamu dengan mendengus kesal.


"Kemana sih tu anak. Lama banget pergi nya. Mana perut udah lapar lagi. Uang juga gak ada, pasar juga jauh dari sini" Gerutu buk Rosa kesal.


Kriuukkkk


Kriuuukkkk


Suara perut masing-masing dari mereka berbunyi secara bergantian. Sepertinya mereka memang sedang kelaparan saat ini.


"Genisa? Suamimu kemana sih? Gak bilang tadi mau pergi kemana? Mami laper" Ucap buk Rosa beruntun.


Genisa yang terbiasa tidak makan malam, jadi wajar jika saat ini dia tidak merasakan lapar. Beruntung sebelum pihak Bank tadi datang, Genisa sudah lebih dulu makan.

__ADS_1


Genisa hanya menggeleng tidak tau mendengar pertanyaan ibunya itu.


"Kamu gak dikasih uang sama tu anak?" Tanya Ibunya lagi.


"Mami lupa. Diakan cuma seorang OB. Mana mungkin bisa memberikan mu uang yang cukup" Sindir ibunya lagi.


Genisa hanya menggeleng pelan, menatap ibunya dengan perasaan kesal. Namun Genisa selalu mengalah dan tidak ingin mendengarkan apapun dari mulut ibunya.


"Assalamualaikum" Seru seseorang dari luar sana.


"Itu pasti Wisnu" Ucap buk Rosa. Lalu berlenggang keluar meninggalkan Genisa.


"Walaikumsalam" Jawab buk Rosa.


Senyum buk Rosa seketika memudar. Nampak Wisnu masuk dengan tangan kosong.


"Ada apa?" Tanya Wisnu bingung.


"Bukankah Mami bilang aku ini adalah seorang pecundang yang tidak akan mami harapkan? Kenapa membeli makanan saja mengharapkan aku" Sindir Wisnu.


Buk Rosa terdiam.


Memang benar yang Wisnu katakan. Buk Rosa selalu menghina Wisnu dengan sebutan pecundang yang tidak berguna.


Wisnu berlenggang masuk.


"Wisnu!" Seketika Wisnu menghentikan langkahnya kala buk Rosa memanggil nya lagi.


"Bisakah kau pinjamkan mami uang. Kami sungguh tidak punya uang untuk membeli makanan" Ucap Buk Rosa dengan wajah memelas.

__ADS_1


Wisnu tersenyum miring. Lalu berbalik menghadap mertuanya.


"Apa mami meminta pertolongan ku. Apa aku hanya salah dengar saja" Ucap Wisnu.


"Mami sungguh meminta tolong" Jawab Buk Rosa pasrah. Demi makanan, terpaksa ia harus bersikap manis dan memelas kepada menantu nya itu.


"Mami tau bagaimana rasanya di permalukan disaat kita ingin meminta bantuan? Mami dengan bangga mengagungkan kebesaran dan kekuasan mami. Namun tidak bisa menghargai seseorang dan sering kali mencaci dan menghina orang lain. Ini lah rasanya meminta bantuan!" Sindir Wisnu lagi.


Buk Rosa hanya terdiam. Mengingat dirinya yang sering melakukan hal yang disebutkan oleh Wisnu. Rasanya wajar jika Wisnu semarah ini.


"Johan, bawa makanannya masuk" Teriak Wisnu lagi. Seseorang masuk dengan membawa banyak makanan. Tentunya tidak hanya untuk satu orang. Melainkan untuk semua orang.


Wisnu pun berlalu dari sana. Dan masuk kedalam menghampiri istrinya Genisa yang masih didapur.


Sementara itu, Buk Rosa masih terdiam dan mematung disana. Mencerna akan apa yang Wisnu katakan barusan kepadanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πŸ™πŸ™πŸ™ Dengan Like dan lkomen karya ini ya.

__ADS_1


Jangan lupa ya! like dan komennya


__ADS_2