Menantu Terbuang Mendadak Kaya

Menantu Terbuang Mendadak Kaya
Bab 45 Kejutan


__ADS_3

Bab 45 Kejutan


Joni nampak manggut-manggut, "Baik pak, saya mengerti sekarang. Saya akan melakukan yang terbaik" Jawab Joni kemudian.


Setelah menjelaskan cara bekerja disana, Pak Hasan berlalu pergi dan meninggalkan Joni di Toko untuk melakukan tugasnya sebagai marketing pemasaran.


*****


Di sebuah Mension besar.


Wisnu berjalan dengan menggandeng tangan Genisa menuju suatu tempat.


"Mas mau kemana?" Tanya Genisa penasaran.


"Udah ikut aja!" Balas Wisnu yang masih membawa Genisa yang entah kemana.


Sesampainya didepan pintu sebuah ruangan.


Ruangan yang belum pernah Genisa masuki karena pintu itu selalu terkunci dan tertutup.


"Ayo masuk!" Ajak Wisnu. Genisa menatap suaminya dan melangkah dengan ragu. Pasalnya ruangan itu terlalu gelap bagi Genisa karena Genisa sangat takut akan gelap.


"Kejutan!" Ucap Wisnu lantang. Lampu-lampu perlahan menyala satu persatu dengan cahaya yang di desain seperti remang-remang senja.


Genisa tersenyum senang, matanya menggambarkan ketakjuban akan desain ruangan itu yang seperti sebuah istana yang di belah dengan dinding disebelahnya yang Genisa tidak tau sama sekali.


Tiba-tiba, sebuah kain membentang dari atas yang letaknya didepan Genisa. Sebuah kain polos!


Genisa sedikit menautkan kedua alisnya bingung, lalu menatap Suaminya dengan penuh tanya akan kain itu.


Wisnu hanya tersenyum, dan tidak lama setelah itu dua orang pelayan membawa dua buah bangku didekat mereka.


Wisnu membawa Genisa untuk duduk dan itu membuat Genisa semakin bingung karena pertanyaannya tidak dijawab sama sekali oleh Wisnu.

__ADS_1


Ruangan seketika menjadi gelap, dan lampu satu persatu menjadi mati.


Genisa yang takut, dengan cepat meraih tangan Wisnu. Namun Wisnu sudah tidak ada ditempatnya.


"Sayang kamu dimana?" Teriak Genisa ketakutan.


Dup.


Seketika sebuah cahaya terang mengalihkan pandangan Genisa.


Matanya nampak berkaca-kaca. Buliran air matanya seketika berjatuhan dengan suara isakkan tangisnya yang sulit ia sembunyikan lagi. Sebuah kerinduan yang amat menyiksanya.


"Mami Papi!" Lirih Genisa.


Ya, sebuah rekaman yang sengaja Wisnu perlihatkan untuk Genisa akan kegiatan yang dilakukan ibu dan ayah mertuanya selama diluar.


"Maaf aku hanya bisa memberikan mu ini untuk meringankan rasa rindumu kepada mereka!" Ucap Wisnu yang entah dari mana datangnya, kini dia sudah berada di samping Genisa.


Genisa tidak menjawab, dan menghamburkan pelukannya kepada Wisnu membenamkan wajahnya didalam dada Wisnu, menyembunyikan suaranya yang kian terdengar dengan keras.


"Sabarlah. Mas akan membawa mu kesana jika waktunya sudah tepat" Ucap Wisnu.


Genisa tidak menjawab, namun kepalanya yang mengangguk sudah mengatakan bahwa dirinya setuju akan penuturan Wisnu.


*******


Siang harinya.


Joni sedikit menghela nafas lega, sejak pagi pelanggan sangat rame dan mereka menyukai cara dirinya melayani pelanggan. Semua ini berkat pak Hasan yang berkenan mengajarkan dirinya akan cara bertutur kata yang baik.


Selain itu, Joni juga berbakat dalam masalah pemasaran. Pantas saja di saat berkerja di perusahaan Buana dulu ia merasa kurang menjadi diri sendiri karena bidangnya yang salah.


"Wah, baru pertama kali bekerja kamu sudah menjual 10 buah barang yang berbeda pagi ini Jon. Sungguh hebat" Puji Pak Hasan yang baru sampai kesana.

__ADS_1


Joni tersenyum senang, "Terimakasih pak. Ini semua berkat bapak yang mau mengajarkan saya trik-trik dalam berjualan" Balas Joni.


"Siang semuanya!"


Joni dan pak Hasan seketika menoleh ke arah suara. Wajah mereka berdua nampak tersenyum sumringah.


"Sinta!" Seru Joni senang.


Sinta hanya membalas dengan senyuman manisnya, "Aku bawain papi sama Joni makanan siang. Yuk makan dulu!" Ajak Sinta.


Pak Hasan tersenyum, kala melihat Sinta anaknya kini terlihat sangat bahagia. Matanya juga beralih kepada Joni yang juga menatap Sinta penuh arti.


"Ehemmmm" Pak Hasan sengaja berdehem. Seketika Joni dan Sinta terbuyar dari pandangan masing-masing.


"Pi ayuk kita makan. Joni juga yuk" Ucap Sinta salah tingkah.


Pak Hasan terkekeh kecil lalu mengikuti anaknya menuju rumah yang tidak terlalu jauh dari toko.


Joni menjadi kikuk dan juga terlihat salah tingkah.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya πŸ™πŸ™πŸ™ Dengan Like dan komen karya ini ya.

__ADS_1


Please untuk yang baca cerita ini. untuk meninggalkan Like dan komen nya ya. Like dan Komen kalian Itu sangat berharga untuk Author


__ADS_2