Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 11


__ADS_3

Tari merapikan pakaiannya, entah kenapa semenjak ia mengetahui bosnya menikah. Ia gagal konsentrasi kali ini. Semuanya kacau berantakan.


Begitu sakit batinnya, bosnya kini memilih wanita lain untuk dinikahinya.


Muncul ide-ide nakal yang berusaha akan menghancurkan rumah tangga bosnya kali ini. Namun kepalanya bertambah sakit jika ia menahan ide gilanya yang terus meronta-ronta.


Waktu itupun akan tiba, kesempatan yang tak akan terlewatkan begitu saja.


Tari sengaja mengikuti mobil bosnya yang telah ia buntuti dari rumah mereka.


Perlahan namun pasti, kebetulan yang akan memuluskan segala rencananya.


Dan bidikannya kali ini begitu tepat ia telah berada di antara si pengantin baru itu.


Tari begitu tahu istri dari pak bosnya kali ini begitu selidik dan tak pernah melepaskan rangkulan dari tangan suaminya.


Seolah sudah tahu ada pemangsa lain yang menunggu kesempatan tersebut.


Cepat atau lambat rangkulan tangan tersebut akan terlepas dengan perlahan. Itulah janji Tari yang ia ikrarkan dalam batinnya.


"Cepat atau lambat suamimu akan berpaling." umpat Tari dengan pasti.


Pandangan Tari dan Lubi saling beradu tajam. Namun pasti Lubi dapat membaca gelagat penantian pemangsa lain yang sudah menunggu.


"Kenapa tidak menonton bersama pasanganmu?"

__ADS_1


Pertanyaan Lubi seakan menjelaskan bahwa ia memberikan jarak diantara suaminya dan sekretarisnya tersebut.


Tari memutar otak kali ini dengan cepat, memberikan tanggapannya. Sebelum mereka memasuki bioskop.


"Saya masih single, belum ada pasangan. Bapak sudah tahu dengan kondisi Saya."


Tari seolah melempar tatapan pada Thubi yang dari tadi terdiam, namun posisinya sekarang seolah diperebutkan dua wanita dihadapannya kini.


Thubi hanya tersenyum mengangguk.


Sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut. Karna akan sangat panjang urusannya jika di ceritakan ulang pertemuan pertama Tari bekerja sebagai sekretaris dikantornya tersebut.


Pastinya Thubi tak ingin merusak first date perdana bersama istrinya tecinta.


"Saya merasa kesepian jika harus menonton sendiri, tidak apa-apakan?"


Tari dapat merasakan hal itu, makannya ia memutuskan bersikap seperti itu.


Lubi dapat memahaminya dan tak ingin kalah strategi dengan Tari.


"Tidak masalah, saya yang akan teraktir."


Potong Lubi mendahului dengan memesan tiga tiket, minuman dan makanan ringan.


"Tapi tidak masalahkan, jika duduknya agak berjauhan. Karna kami ingin menikmati masa pacaran setelah menikah." tegas Tari dengan menyerahkan tiket ke tangan Tari lengkap dengan cemilan dan soft drinknya.

__ADS_1


Paling tidak Lubi dapat lega, mendahului sekretaris itu yang akan mengacaukan first datenya kali ini.


Lubi tak pernah melepaskan genggaman tangan Thubi. Mereka melangkah mendahului Tari yang masih terdiam seolah tak percaya. Kali ini Tari kalah strategi.


Kecewa pasti. Tari meremas tiket di genggamannya.


"Boleh saja menang untuk kali ini, tapi tidak untuk yang akan datang."


Tari kini menghapus wajah kecewanya dengan tersenyum.


Langkahnya kali ini memasuki bioskop yang sudah mulai lima menit yang lalu. Lampu sudah dipadamkan, hanya cahaya dari layar.


Tari dapat merasakan Lubi sengaja melakukan hal itu, karna ia sudah memberikan jarak kehadirannya dengan mereka.


Tari menatap tajam Lubi dan Thubi yang sudah duduk bersebelahan.


"Awas saja, belum sepenuhnya kalah." Tari membatin mencari nomor sesuai tiketnya.


Lubi seolah-olah tak menatap Tari yang dari tadi pandangannya begitu sinis kepadanya.


"Setidaknya ini adalah langkah untuk menjauhi wanita itu, selebihnya posisinya di kantor harus dijauhkan, atau harus di berhentikan." batin Lubi masih menggenggam tangan suaminya kali ini.


Tak akan pernah memberikan kesempatan sedikitpun dengan wanita itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2