
"Jadi hanya perkara igauan, Kau mempermasalahkan istrimu? kepercayaan pasangan macam apa kalian? hal kecil terlalu di besarkan." Adrian kali ini mengikuti langkah Thubi.
"Kau tahu siapa yang dia sebut igauannya semalam?" Thubi menoleh ke belakang menarik kerah baju Adrian.
"Lakukanlah jika itu membuat Kau puas."
Tangan Thubi gemetaran mencengkram leher Adrian.
"Hentikaaannnn..." pekik Tari menggandeng Windi berlari ke arah mereka.
"Cukup! kenapa kalian malah bertengkar?"
"Tanyakan pada suamimu?" suara Thubi kali ini meninggi melepaskan cengkraman tangannya.
Thubi melangkah pergi meninggalkan mereka.
Tari menatap wajah suaminya sesaat.
"Apa maksud ucapan Thubi barusan?"
"Aku sama sekali tak tahu apa-apa. Dia mencoba menyerangku. Kau juga mencurigaiku? kalian sama saja."
Adrian meninju pasir dengan kesal.
"Aku hanya menanyakan? apa salah?"
"Telah Aku ceritakan dari awal bukan? Aku tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Lubi hanya hilang ingatan dan yang terakhir di ingatnya memori tentang Aku. Apa Aku salah? siapapun bisa saja menyebut nama orang sembarangan. Jika mengigau, Aku suamimu, apa Kau juga tak mempercayaiku juga?"
Mentari terdiam.
"Bawa Windi pulang ke penginapan, Aku tak mau dia menyaksikan kita beradu mulut."
Adrian berjalan pulang ke penginapan di ikuti langkah Tari dan Windi.
....
"Ternyata Kau ingat jalan pulang?" Thubi menunggu istrinya di depan pintu penginapan.
__ADS_1
Lubi hanya diam dia masuk tanpa memperdulikan Thubi.
"Aku bertanya padamu? kenapa mengabaikan?"
Lubi masih tetap diam.
Thubi mendekati Lubi yang hanya menunduk.
"Kau ke mana saja?" tanya Thubi pada istrinya.
"Menghindarimu, Aku capek di curigai terus. Bahkan Aku tak mengingatnya. Jika kehadiranku di sini hanya membuatmu makin membenciku. Dan membuat pernikahan kita kacau."
Thubi menyenderkan tubuhnya di ranjang.
"Kadang Ku pikir Aku yang terlalu berlebihan atau dirimu menguji kesabaranku?"
Lubi terdiam kaku.
Semuanya sunyi perlahan, Lubi menatap wajah suaminya.
Semua terdiam dan hening.
.....
"Kau akan merepotkan siapa lagi?" Bima membuka hordeng jendela depan.
Ia melihat mobil sudah terparkir menunggu Nisa di depan.
"Kau cepat sekali akrab dengan orang asing? baru sehari sudah bisa di jemput. Apalagi satu minggu?"
"Aku tak pernah minta jemput." bentak Nisa memasang sepatu.
"Alasan."
"Hanya dia yang Aku kenal saat ini, Kau mana peduli. Aku membutuhkannya untuk mengurus administrasi ke kampus. Bukannya seperti dirimu? tidak bisa di andalkan."
"Kau menggunakan trik apa? baru satu bulan sudah bisa menggaet tetangga." goda Bima tertawa renyah.
__ADS_1
"Berhentilah ikut campur yang bukan urusanmu."
"Jika Nenek sampai tahu? Kau akan menyesal."
"Coba saja mengancam, jika Kau mengadu yang aneh-aneh Aku siap menelpon Delima untuk membuka kartumu."
Nisa balik menggertak.
Turun seorang wanita, memanggil Nisa.
"Dia ternyata seorang wanita." bisik Bima.
"Kau pasti salah sangka, itu adiknya Adam. Jelas bukan? apa perlu ku pinjamkan kaca pembesar biar jelas."
"Jangan-jangan Kau janjian dengan Adam di luar? adiknya sebagai perantara?"
"Kau beraninya menuduhku?"
Nisa tak memperdulikan Bima lagi saat itu ia berlalu pergi menghampiri Salma.
"Kemana tujuan kita akan pergi?" tanya Salma.
"Langsung menuju kampus." jelas Nisa.
Mereka masuk ke dalam mobil dan Salma menghidupkan mesin mobil.
"Aku membutuhkan nomor ponselmu, bisakah Kau langsung mengetikkannya di ponselku agar Aku mudah menghubungimu."
Nisa mengambil ponsel Salma, dan langsung mengetikkan nomor ponselnya.
"Sudah ku simpan untukmu. Jangan lupa Sms agar bisa Aku menyimpan ponselmu." jelas Nisa.
....
Jangan lupa vote poin/koin sebanyaknya, like rate boom 5, komentar di tiap episodenya. follow ig: zuzanaoktober.
Salam pembaca MCP.
__ADS_1