Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 7


__ADS_3

Lubi terdiam, ketika Shiren memperlihatkan angka-angka di cincin itu.


Lubi langsung menyimpannya cepat-cepat.


"Kamu tahukan angka-angka apa itu? jangan-jangan tanggal jadian kalian, waktu SMA kalian pacaran diam-diamkan?"


Shiren mulai curiga sama Lubi yang mendadak terdiam.


"Kenapa gak pernah cerita ke kita? gimana nasib sepupu aku, yang udah beneran suka sama kamu, Bi?"


Suara Shiren kali ini agak kesel.


Dwi dan Vio akhirnya datang juga, demi Lubi mereka tinggalkan semua atribut kerepotan rutinitas harian, anak-anak mereka sementara di titipin dulu ke orang tua dan pengasuh.


Karna masalah pribadi Lubi yang gak kelar-kelar akhirnya hari ini harus dituntaskan.


"Apa bener yang di omongin Shiren? Itu tanggal jadian kalian?" tanya Vio dan Dwi penasaran.


Mereka berempat saling berpelukan.


"Kita kan udah janji dari dulu gak ada yang ditutupin, mau kabar sepahit apapun kita cari solusi sama-sama jangan dipendam sendiri." Dwi mengelus punggung Lubi.


Lubi menggeleng pelan.


"Itu angka jumlah hari kami dari SMA sampai sekarang. Aku gak pernah pacaran sama Thubi, dari dulu kami gak pacaran sama sekali, hanya surat terakhir Thubi ngomong, kalau sudah waktunya dia akan yang nyari aku buat ngelamar, tapi yang jadi masalahnya. Terlalu lama aku nunggu, sampai kalian udah nikah semua, tiba-tiba ketemu dengan perjodohan yang mungkin kami sama sekali gak tahu kalau dijodohkan dia nolak mentah-mentah. Ngeselin gak, udah lama nunggu sampai bertahun-tahun, dia dengan sikap dinginnya, dengan tanpa bersalahnya. Setelah dia mempermalukan tiba-tiba ngajak nikah gampang banget, kayak gak ada dosa aja tuh anak. Emang dia pikir semudah itu."


Shiren, Dwi dan Vio paham betul kekesalan Lubi.


"Jadi mau ngerjain dulu nih, balas kekesalan yang udah lama nunggu si cowok itu. Lah gimana sepupuku? Kenapa ngasih harapan selama satu minggu? Kalau akhirnya cuma mau ngerjain si cowok itu doang."


Shiren nyenggol lengan Lubi. Gak terima sepupunya jadi korban.


"Tapi menurut aku, sebaiknya terima aja deh Thubi, gak usah dibuat ribet. Ngapain juga mau ngasih harapan sama Adrian."


Vio ngasih usul praktis.


"Tapikan, masalahnya Lubi udah nolak si Thubi kemarin. Nyeselkan?"


"Sebenarnya tinggal pilih siapa yang mau bakal jadi suamimu itu si Thubi atau Adrian? Dengan siapa menurut hatimu nyaman, jangan coba-coba main api deh."

__ADS_1


Vio sewot lagi.


Lubi menggeleng, gak tahu mesti harus gimana lagi. Seandainya dia mampu berpikir tenang dan logika kemarin gak seharusnya dia nyeplos ngomong gitu aja ninggalin Thubi, mana langsung pergi sama Adrian juga.


Gak tahu, perasaan Thubi saat itu.


Lubi memejamkan matanya sesaat.


"Apa yang harus aku lakuin?"


Rengek Lubi memeluk para sahabatnya.


"Jangan terburu-buru ngasih keputusan, ada benernya juga sih menguji cintanya Thubi, biar gak salah pilih juga. Sesabar apa dia ngadepin sifatmu, menikah itu gak setahun atau dua tahun lho, seumur hidup malah."


"Adrian gimana?" sambung Lubi.


"Nanti aku yang urus kalo masalah Adrian."


Shiren menenangkan Lubi.


Tak lama ponsel Lubi berdering.


"Ciye......udah di ajak ketemuan tuh."


goda Vio dan Dwi.


"Kayaknya udah Dwi nikah bakal ada yang langsung nyusul."


Lubi langsung menjawab telponnya, seantusias itu. Cuma gak sampe lima menit.


Lubi terdiam, sesaat menutup telponnya.


"Kok diem apa katanya?"


Tanya Shiren, Vio dan Dwi.


"Dia udah di bawah."


"Secepat itu..."

__ADS_1


"Waduh gesit banget Si Thubi, apa aku bilang, buruan temuin kebawah."


Wajah merona Lubi langsung bersemu. Cepat-cepat ia menurunin anak tangga.


Jauh dari lantai dua kamar. Vio, Shiren dan Dwi sudah mengintip dari jendela kamar.


Thubi sudah keluar dari mobilnya, dengan membawa undangan di tangannya.


Detak jantung Lubi berdetak tak menentu, emang pesona Thubi gak pernah pudar dari dulu.


Tanpa basa-basi Thubi ngasih undangan itu.


"Titipan, mba Tira. Akikah anaknya besok. Tadi sempet ke rumah sepi gak ada orang."


Deg. Lubi terdiam.


Jadi cuma ngasih ini doang, ngapain juga. Lubi membatin kecewa.


"Maaf ya sudah mengganggu, permisi."


Thubi pamit tanpa basa-basi, meninggalkan Lubi masih berdiri mematung.


Thubi masuk ke mobil, dan menyalakan mesin.


"Ngeselin banget nih cowok, gak ada basa-basi sama sekali." Gerutuk Lubi kesel, mengurut dada.


Thubi membuka kaca mobil, dengan wajah tanpa bersalahnya nampak di sana wanita duduk disebelahnya dengan mengucapkan salam sama Lubi.


Deg. Lubi terdiam. Wajahnya memanas langsung, entah harus pura-pura tersenyum atau apalah membalas salamnya. Rasanya berdiripun tak sanggup.


Secepat itu dia nyari cewek lain, apa karna Thubi sakit hati, penolakannya kemarin.


Ya pastinya wanita itu begitu sumringah wajahnya berada di samping Thubi.


Lubi tanpa pikir panjang, langsung masuk berlari ke dalam rumah. Ia tak ingin lagi lama-lama di situ.


Dari lantai dua, Shiren, Vio dan Dwi saling berpandangan heran. Mereka cepat turun kebawah. Mendapati Lubi yang sudah menangis, menutup mulutnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2