
Thubi melonggarkan kerah bajunya. Ia mendapati Istrinya duduk santai di pinggiran kolam.
"Sudah ditanyakan?"
Lubi terkejut dengan kehadiran suara suaminya.
"Baru pulang?" Lubi mencium tangan suaminya.
"Lantas bagaimana?"
Lubi tak mungkin menceritakan jika Tari sengaja untuk tidak mengusik kembali keharmonisan mereka.
"Tari memang mengundurkan diri karna ia sudah dapat tawaran di butik tante sahabatnya."
"Dia sudah mendapatkan pekerjaan?"
Lubi mengangguk mengiyakan.
"Mau makan? nanti aku siapkan."
ucap Lubi membawakan tas Thubi.
Suaminya kali ini menarik tangan Lubi hampir memeluk namun Lubi dengan lembut menolaknya.
"Nanti ada Mamah lho, gak enak..."
"Gak apa-apa kan suami istri, wajar dong."
"Ada kabar baik."
"Kabar apa?"
Thubi tersenyum sesaat.
Dan kunci itu menggantung tepat di hadapan wajah Lubi.
"Kunci apa?"
Thubi masih tak ingin memberitahukannya.
"Kunci apa sih?"
__ADS_1
"Kejutan dong, aku mandi dulu...nanti aku ajak keluar."
Thubi naik ke tangga menuju kamar.
Lubi mengikuti langkah Thubi dari belakang.
.......
Rumah perpaduan warna biru dan putih itu nampak begitu nyaman di kelilingi taman kecil menuju tangga terasnya dan ada sebuah ayunan dibawah pohon serta aliran kolam kecil dengan ikan hias berwarna-warni.
Lubi pelahan masuk kerumah yang baru ia di beritahu sejam lalu oleh suaminya untuk mereka tempati.
Betapa terkejut dan bahagianya sebuah rumah impiannya dulu itu terealisasi begitu nyata.
"Begitu mengagumkan rumah impian ini. Kapan akan ditunggu? tak sabar ingin mempercantik perabotannya yang unik dan khas."
Thubi tersenyum pada istrinya.
"Senang bukan imipianmu terwujud?"
Lubi mengangguk sàngat cepat.
"Tentunya demi istriku..."
Thubi memeluk istrinya kali ini.
"Sore ini kita mengisi perabotan, secepatnya kita akan pindah." jelas Thubi.
"Kapan kamu merencanakan semua ini?"
"Rahasia..."
Lubi mencubit hidung suaminya.
"Sudah lama aku merencanakannya...sebelum kita menikah, pastinya saat aku sudah mulai memiliki penghasilan sendiri."
Jelas Thubi mengajak ke dalam Lubi.
Mereka membuka pintu bersama.
"Khusus untuk pendamping hidupku..."
__ADS_1
Lubi berjalan menelusuri setiap ruangan rumah benuansa biru putih itu.
Meski semuanya hanya ada sebagian perabotan sudah ada Lubi menelusuri hingga ke belakang rumah.
Halamannya begitu luas dan asri tepat sekali jika rumah ini di sebut rumah impiannya yang sempat ia bayangkan dulu.
"Kamu mencatat impianku dengan sempurna." puji Lubi ke pada suaminya.
"Hanya merealisasikan deskripsi imajinasimu tentang rumah impian."
"Ini lebih dari cukup, nyaman dan begitu tenang memasuki rumah ini."
"Spesial pastinya. Mau naik ke lantai atas."
Ajak Thubi sesaat.
Dan betapa terkejutnya Lubi sepanjang tangga naik ke atas.
Tepajang foto-foto jadul SMA mereka dulu, setiap sudut sekolah ruang kelas, perpus dan kantin hingga gebang sekolah tempat sakral pertama kali mereka bertemu sewaktu MOS atau ospek.
Sedetail itu Lubi menyimpan foto-foto mereka dulu hingga tak bisa berkata apapun. Dan terakhir Lubi malu sendiri.
Surat tulisan tangannya dulu terbingkai sangat rapi.
Lubi tak percaya Thubi menyimpan itu semua. Dirumah impian mereka.
"Terimakasih sayang..." Lubi memeluk suaminya yang masih berdiri di atas tangga.
Hingga memandang satu sama lain.
"Lanjut kita ke kamar ada yang ingin aku tunjukkan lagi."
Ajak Thubi kepada istrinya.
Lubi semakin penasaran dibuat oleh suaminya.
Belum selesai rasa penasarannya. Lubi di kejutkan oleh telapak tangan Thubi menutup ke dua tangannya.
Entah kali ini Lubi tak bisa berkata apa-apa lagi.
Bersambung...
__ADS_1