
Untuk pertama kalinya Lubi mencium bibir suaminya.
Cintanya kini mulai menggulung entah perasaannya kali ini gugup, takut di bilang agresif atau apalah. Lubi terdiam mundur.
Ia malu sendiri. di muka umum, wajahnya bersemu merah.
Thubi juga seakan menutupi keterkejutannya. Namun ia tak ingin membuat istrinya malu lebih lama. Mungkin itu ekspresi dari istrinya karna rasa cintanya.
"Kita kembali ke hotel ya..." ajak Thubi menggandeng tangan istrinya.
Lubi mengangguk mengiyakan, dengan salah tingkahnya.
Seolah semua tak terjadi apa-apa.
......
Dikamar hotel, Lubi dan Thubi setelah mandi membersihkan diri terlebih dahulu.
Mereka sholat berjamaah. Selesai sholat seperti biasa Lubi mencium tangan suaminya.
"Maaf ya...kejadian tadi sore."
"Untuk apa minta maaf, sebaiknya tidak mengekspresikannya di tempat umum itu lebih baik, karna di luar sana tidak semuanya pasangan yang mahram. Banyak pasangan yang bukan mahram, belum ada ikatan yang sah. Takutnya mereka meniru."
jelas Thubi.
"Kalau di dalam kamar mengekspresikannya gak apa-apa kok."
Thubi menggoda istrinya kali ini.
Mereka menikmati malam berdua bersama.
.....
__ADS_1
Pagi itu selepas sinar matahari mulai naik perlahan.
Lubi sudah menyiapkan sarapan, secangkir susu dan roti.
Lubi menatap ponsel suaminya yang sedang mandi.
ponsel itu beberapa kali bergetar. Hanya sederet angka tanpa memiliki nama.
Ada keberanian kali ini untuk mengangkatnya. Karna sudah tiga kali panggilan tak terjawab. Mungkin penting.
"Tut...tut..."
Suara diseberang hanya hening, saat Lubi menyapa dengan salam.
Tak lama ponsel dari suara seberang dimatikan.
Lubi terdiam meletakkan seperti semula ponsel suaminya.
Sebenarnya Lubi bisa saja memeriksa seluruh kontak ponsel suaminya namun ia tak ingin melakukannya.
Mungkin saja urusan kantor, batin Lubi berbisik memperkecil rasa curiga.
Suaminya kini sudah selesai mandi, dengan cepat meminum susu hangat dan sepotong roti.
Tangan suaminya kali ini mengambil ponsel yang ada di samping lemari kecil di samping tempat tidur.
"Siapa yang menelpon...?"
"Tadi di angkat tapi cuma terdiam tanpa jawaban..." jelas Lubi mendekati suaminya.
"Telpon balik lagi, udah tiga panggilan tak terjawab. Mungkin penting."
Thubi menelpon balik, namun kali ini nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.
__ADS_1
Lubi memeluk suaminya dari belakang. Thubi mendadak heran dengan tingkah istrinya.
"Kenapa? tumben..."
Lubi cuma diam menikmati kedekatan mereka saat ini.
"Sepuluh menit aja ya seperti ini..."
"Jangankan sepuluh menit, seharian juga gak apa-apa. Kamu udah sarapan?"
"Kita pindah ke apartemen aja ya, nanti kalau sudah pulang, kan bisa lebih intens berduaannya."
"Boleh juga, sebenarnya sempat kepikiran sudah nikah kita langsung pindah ke apartmen tapi mamah belum mengizinkan."
Thubi memegang tangan Istrinya kali ini, dengan memandang arah balkon yang berhadapan langsung ke pantai.
Lubi masih memeluk suaminya dari belakang.
Akhirnya memejamkan mata beberapa detik.
Mereka saling terdiam.
"Kalau boleh..."
Thubi langsung menarik tangan istrinya ke depan, wajah mereka saling beradu pandang terpaku satu sama lain.
Thubi memegang lembut wajah istrinya.
Kiss, Thubi mencium bibir istrinya dengan tanpa permisi.
Tinggal dua hari lagi waktu honeymoon mereka ia tak ingin melewatkan begitu saja moment tersebut.
Lubi membiarkan itu terjadi, karna gejolak batinnya pun menginginkannya.
__ADS_1
Kedekatan itu tak pernah ia sangkal lagi, karna belasan tahun sudah cukup ia memendam rindunya.
Bersambung...