
Apa jadinya jika Tari bisa merebut suamiku?
Lubi membayangkan hal-hal aneh di layar lebar yang ada di hadapannya kali ini.
Kecemasannya makin menggunung tak tertampung. Lubi menatap wajah suaminya dari samping. Ia terus beristigfar berkali-kali dalam batinnya.
Semoga Allah dapat melindungi pernikahanku yang baru seumur jagung ini.
Lubi sama sekali tak fokus pada filmnya yang diputar dihadapannya kali ini, Lubi malah sibuk berhalusinasi sendiri. Pemikirannya mulai menerwang tak jelas. Ketakutannya lebih kuat.
Apa yang mesti diperbuat apa harus menyuruh Thubi memecat saja sekretarisnya itu, sebelum terlambat.
"Berhentilah memikirkan hal yang aneh-aneh."
Thubi seolah bisa membaca pikiran Lubi saat ini.
"Kita sudah menikah, bukan pacaran lagi jangan gampang pikiran liarmu meracuni first date kita."
Thubi mengelus punggung pergelangan Lubi sesaat.
"Kamu janji bakal memecat sekretarismu itu."
Lubi langsung to the point menembak pikiran Thubi.
Thubi menoleh seakan tak percaya apa yang di ucapkan Lubi barusan.
"Apa Aku gak salah denger?"
Thubi menoleh heran.
"Jangan bilang kamu cemburu sama sekretarisku?"
__ADS_1
"Aku gak mau aja berprasangka buruk, untuk menghindarinya. Kamu perlu mempertimbangkan ucapanku."
Lubi menjawab mantap kali ini.
"Di rumah saja dibahas."
Thubi menghentikan diskusi yang akan memperpanjang masalah.
......
"Terimakasih bu, atas teraktirannya."
ucap Tari pamit pulang.
Lubi tak menjawab hanya mengangguk dan tersenyum singkat.
Ia tak ingin berlama-lama dengan Tari yang mulai mencari perhatian pada suaminya.
Thubi dan Lubi langsung masuk ke dalam mobil. Membuka kaca mobilpun enggan Lubi tak ingin melakukannya. Karna ia harus memberikan jarak pada sekretaris itu.
Ia tersenyum sambil melambaikan tangan meskipun di acuhkan oleh bosnya kali ini.
Lubi dapat melihat sikap Tari dari balik kaca mobil meski ia tak membukanya langsung.
Entah rasanya Lubi mesti harus berkata perlahan-lahan supaya Thubi tidak salah persepsi tentang dirinya.
"Bagaimana? semestinya ucapanku barusan cukup dipertimbangkan?"
Lubi membuka obrolan itu lagi.
Thubi terdiam sejenak.
__ADS_1
"Setelah mendapatkan penggantinya. Baru usulmu dipertimbangkan."
Thubi tak ingin berdebat tentang hal tersebut.
Nampak wajah kecewa Lubi, sepertinya suaminya masih enggan untuk melepaskan sekretarisnya itu.
"Sudah berapa lama Tari bekerja?"
Thubi terdiam sejenak.
"Enam tahun."
Lubi sudah pastikan itu, posisi Tari sepertinya sudah tak mudah di geser mengingat ia sudah lama bekerja menjadi sekretaris suaminya.
Enam tahun bukan waktu yang singkat, kenapa ia tidak menikahi saja sekretarisnya itu, sudah dekat pasti. Bertemu tiap hari menghabiskan enam tahun hampir bersama. Namun kenapa? Lubi sibuk dengan pemikirannya sendiri kali ini. Banyak dugaan yang hampir menjerumuskan, namun kelu lidahnya untuk menanyakan lebih banyak hubungan antara suami dan sekretarisnya itu.
"Dekat di kantor bukan berarti Tari bebas mencampuri kehidupan pribadiku, percayalah Tari sebatas masalah pekerjaan tidak lebih."
Thubi meyakinkan istrinya kali ini, karna ia dapat membaca gelagat istrinya dari tadi dengan tak tenang semenjak pertemuan pertama kali dengan Tari.
"Baiknya ada keterbukaan dalam hal apapun itu."
Lubi menjawab pelan.
"Selagi cincin ini dapat aku pertahankan, ini bukti janjiku untuk mendapatkanmu." Thubi memperlihatkan cincin di jari manisnya.
"Semoga cincin itu terus bisa mengingatkanmu jika istrimu selalu menunggumu."
Lubi mencoba tersenyum menguatkan.
"Jangan pernah mengubah ucapan janjimu."
__ADS_1
Thubi mengangguk pelan.
Bersambung...