
Lubi menatap setiap kegelisahan yang mulai berkecamuk. Gedung sekolahnya dulu masih sama
seperti dulu. Tak banyak berubah.
Laki-laki yang hampir akan pensiun itu membukakan gerbang sekolah.
"Bapak kenal dengan wanita ini." tanya Thubi menggoda.
"Saya kenal, itukan wanita inceranmu dulu semasa sekolah."
Thubi tertawa renyah mendengar jawaban Pak satpam tersebut.
Lubi menatap setiap dinding sekolah itu, mulai sakit kepalanya sesaat. Thubi menuntun Lubi untuk menelusuri koridor kelas. Ruangan itu begitu membuat degup jantungnya tak karuan. Dari jendela kaca ia menatap kursi di pojok itu.
Thubi menuju arah pandang Lubi.
“Kamu ingin masuk ke dalam? Itu kursi kamu dulu saat membaca di perpustakaan.” jelas Thubi
pelan sesaat.
Lubi menggeleng pelan, mengurungkan niatnya. Ia belum sanggup menerima ingatan itu
dengan tergesa-gesa. Kepalanya mulai sakit sesekali.
Langkahnya kali ini terus berjalan melangkah menuju koridor kelas.
Thubi kali ini mendahului langkah Lubi, tatapan Lubi kali ini berubah dan ada yang
berbeda. Thubi seolah telah memakai seragam SMA, wajah dan rambutnya kini telah
berubah tempo dulu.
“Itu kelas kita.” tunjuk Thubi menuntun Lubi berjalan mendekati ruang kelas
tersebut.
Lubi terdiam kaku menatap kursi yang di tunjukkan Thubi.
“Kursimu dulu semasa SMA, ada laki-laki yang selalu menatapmu dari kejauhan. Perasaan
yang mulai penasaran ingin mengikuti setiap jam ke manapun langkahmu pergi.
Dari rasa ingin tahu, mengagumi dan suka untuk mengenalmu lebih dekat. Hingga
__ADS_1
perasaan itu malu untuk mengungkapkan.” jelas Thubi menceritakan kenangan
mereka dulu.
Kini Lubi seakan menjelma sosok yang memakai seragam sekolah langkahnya menuju
kantin. Ia begitu risih dari tatapan laki-laki yang mencuri pandang menatapnya
dari kejauhan. Jika dilihat laki-laki itu pura-pura mengalihkan pandangannya.
Entah mengapa setiap hari tatapan itu menjadi terbiasa bagi Lubi. Jika ia tak
menemukan laki-laki itu ia akan mencari-cari.
Pernah surat itu terselip di buku Lubi, pandangan Lubi jatuh pada bangku kosong saat
itu. Hari itu ia tak melihat tatapan si tuan pemiliknya. Tiba-tiba rasa rindu
akan sosok kehadirannya.
Lubi hanya menahan perasaan itu tak berani membuka hatinya, hanya tertahan dalam
diam dan sembunyi-sembunyi.
“Kamu harus pelan-pelan saja mengingatnya jangan di paksakan.”
Lubi mengangguk sambil tertunduk.
“Kepalaku sakit.” rintih Lubi.
“Kita pulang saja, sudah cukup untuk hari ini.” Thubi merangkul bahu Lubi dengan
lembut. Menuntunnya untuk keluar gedung sekolah. Menuju mobil yang terparkir di depan gerbang.
“Terimakasih, Pak.” pamit Thubi pada Pak satpam.
“Siap, sering-seringlah mampir ke sini.” Pak satpam tersenyum menutup kembali gerbang.
“Kita makan dulu, sebelum pulang.” ajak Thubi sesaat menghidupkan mesin mobil. Lubi
hanya mengangguk pelan mengikuti ajakan Thubi. Tak banyak bicara dan lebih
banyak melamun kali ini Lubi di dalam mobil.
__ADS_1
“Jangan terlalu di pikirkan.” bisik Thubi memandang Lubi sesaat.
“Kamu pasti kesal menghadapi sifatku ini?”
“Kenapa mesti kesal? mengasyikkan mengulang
kembali kenangan sekolah dulu.”
“Ingatanku rumit dan kadang membuatku pusing sendiri.”
“Jangan terlalu di pikirkan, jalani saja seperti menjalani kehidupan normal.”
“Tapi Aku tak betah dalam kondisi seperti ini, ingatanku terhapus sebagian. Yang
menyedihkan ingatan tentang suamiku sendiri. Sungguh Aku sama sekali tak
berniat mengacaukan pernikahan kita. Tapi bisakah Kau membantuku untuk melewati
masa-masa sekarang. Kandang Aku menyalahkan tiap tindakanku. Setiap Aku memikirkannya
setiap itu pula perasaan bersalah memuncak. Apalagi setelah kematian Mamah,
yang lebih membuatku kacau. Mamah masih
memikirkan pernikahanku sebelum ia menghembuskan nafasnya.” jelas Lubi kali ini
menangis.
Thubi menghentikan mobilnya sesaat, ia memberikan tisu pada Lubi.
“Percayalah, kita akan bersama melewati ini bersama. Aku tak akan pernah meninggalkanmu.”
__ADS_1