Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 19


__ADS_3

Tari sudah bulat ingin menepati janjinya. Kondisi Windi sudah mulai membaik dari hari ke hari. Dengan apapun itu alasannya Tari sudah menuliskan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja Thubi.


Sudah tak berhak lagi, diam-diam Tari sudah membereskan seluruh barang-barangnya di kantor ke dalam kotak yang telah ia persiapkan dua hari yang lalu.


Tak ada pemberitahuan, sengaja ia lakukan agar menutupi segala rasa, ia tak pernah mengkonfirmasi. Karna takut pasti akan di tolak. Namun sebaiknya menjauh secara perlahan-lahan.


"Kenapa Om Thubi gak ke sini nemenin Windi?"


Anak Tari kali ini memeluk kado pemberian Lubi.


Tari memeluk anaknya.


"Om Thubi masih banyak pekerjaan, lagi keluar kota."


"Tapi...Windi kangen mau jalan sama Om."


"Kita pulang dulu ya, nanti Windi istirahat dulu. Gak mau lagi kan di rawat inap lagi? kamu masih capek sayang."


Windi menggeleng pelan.


Ia tak ingin dirawat lagi, sudah bosen tidur trus di atas tempat tidur.


"Nanti telponin Om ya, Ma..."


Tari tak menjawab, sibuk membereskan pakaian Windi.


Windi menarik baju mamahnya. Karna seolah Tari tidak mendengarkan permintaannya.

__ADS_1


"Mah, telponin Om ya...atau kita main ke rumahnya langsung."


"Windi, kamu istirahat dulu...nanti kecapek'an lagi..."


Tari mengelus kepala Windi.


"Jangan sekarang ya sayang..."


Nampak wajah Windi kecewa mendengar ucapan Tari barusan.


......


Aku gak mungkin ingkar dengan perkataanku sendiri, tapi sikap Windi menarikku terus untuk mendekatinya


hingga kadang hasrat itu bangkit kembali.


Untuk merebut posisi istrinya. Namun aku tak bisa mengambil suami orang lain, tak ingin mengatas namakan kebahagiaan anakku.


"Carikanlah ayah untuk Windi..."


suara Ibu kali ini memecah lamunan Windi.


Tari memeluk Ibunya yang sudah berdiri memperhatikan mereka lima menit yang lalu.


"Ibu...doakan Tari agar tidak salah memilih calon ayah untuk Windi."


Ibunya kali ini mengangguk.

__ADS_1


"Pasti ibu doakan, tapi jangan pernah ada kepikiran untuk merampas kebahagiaan orang lain."


jelas Ibunya seolah bisa membaca isi pikiran anak perempuannya kali ini.


Tari menggeleng pelan.


"Tidak akan Bu, percayalah..."


ucap Tari memastikan meski ia harus membunuh perasaan pada bosnya sendiri.


Karna semakin ia tak bisa menghindar perasaan liar itu akan terus tumbuh subur dan meracuni pikirannya.


Ia tak ingin lagi membiarkan perasaan itu, karna itu akan menjadi karma bagi dirinya sendiri.


"Sudah malam tidurlah..."


"Kita tidur bertiga ya Bu, temani kami malam ini." pinta Tari karna hanya sosok Ibu yang kini ia miliki saat ini.


"Semoga kamu cepat dapat mencari pekerjaan baru lagi ya..."


doa ibunya mengelus rambut Tari.


Tari memeluk erat ibunya kali ini.


Entah kali ini ia pasrah, dengan usianya yang sekarang agak sulit mendapatkan pekerjaan yang mapan ditambah statusnya. Tapi ia harus berani mengambil resiko apapun untuk kebahagiaan Ibu dan anaknya yang telah menjadi tanggungan hidupnya.


Tari tak ingin di cap perebut karna statusnya sekarang, apalagi dia memiliki anak perempuan. ia sangat hati-hati menjaga perasaan anak dan Ibunya ini hanya masalah waktu dan usaha. Semoga ada kabar baik untuk hari esok.

__ADS_1


Tari tak ingin lagi melihat anaknya sakit-sakitan, ia akan pelan-pelan menjelaskannya pada Windi jika saatnya yang tepat.


Bersambung...


__ADS_2