Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 68


__ADS_3

"Kenapa kalian tak muncul semalam?" tanya Lubi pada Tari. Pagi ini mereka break fast bersama.


"Kami hanya memberikan kalian waktu bersama." goda Tari memberikan sepiring nasi ke pada suami dan anaknya yang bersebelahan.


"Kalian bisa memanfaatkan liburan ini untuk program bukan?" Adrian menambahkan lagi.


"Ada baiknya kita mengisi kegiatan hari ini ke mana?" tanya Thubi mengalihkan topik pembicaraan.


"Bermain ke pantai." ajak Windi semangat.


"Ide yang menarik." sambung Lubi memberikan jus buah pada suaminya kali ini.


"Kenapa kita merasa canggung, ada baiknya kita harus menyelesaikan sarapan ini, biar waktu tak terbuang sia-sia." Adrian langsung mengunyah mempercepat makan.


Mereka telah menyiapkan segala sesuatu, dari berjemur. Bermain pasir dan berenang.


Tari mendekati Lubi sesaat dengan membawakan puding buah.


"Apa Kau mau mencobanya? sambil menunggu mereka berenang."


Lubi menyambut kotak puding tersebut.


"Kau membuatnya sendiri?"


"Sebelum berangkat, Windi senang jika di bawakan puding." jelas Tari.


"Kau begitu menikmati menjadi istri Adrian sekarang?" tanya Lubi tiba-tiba.


"Demi Windi anak kami satu-satunya, lihatlah dia begitu senang berenang bersama Ayahnya. Mana mungkin Aku sengaja memisahkan mereka terlalu lama. Kalian juga setelah memiliki anak cepat atau lambat kekakuan dalam rumah tangga akan luntur. Percepatlah program. Jangan membuang waktu cukup lama." nasehat Tari.


Lubi mengangguk menyetujui ucapan Tari.


"Entah Aku merasa kaku semenjak kecelakaan itu."


"Ingatlah hal-hal romantis di antara kalian."


"Sebenarnya Thubi tak pernah memaksa, hanya saja Aku merasa bersalah. Namun..."


"Percayalah, Kau hanya butuh kepercayaan diri untuk berani melakukannya. Keluarlah dari pemikiran yang membuatmu takut. Coba paksa, pelan-pelan akan terbiasa. Jika selamanya tak mencoba tak akan pernah bisa."


Tari memegang tangan Lubi.


Meski mereka dulu pernah memiliki kesalah pahaman namun  saat ini hanya Tari yang bisa membuka pemikirannya selama ini.


"Kami memberikan waktu pada kalian, agar Kau dapat bebas mengekspresikan perasaanmu." Tari memandang jauh ke laut.


"Kau benar, selama Aku tak berani mencoba. Entah sampai kapan akan terkurung di dalam perasaan seperti ini."


"Beranilah untuk berinisiatif sendiri, laki-laki hanya menunggu respon dari kita. Selebihnya situasi yang mendukung." Tari mengunyah kembali puding buah itu yang terasa segar di kerongkongan.


............

__ADS_1


Mereka kembali ke penginapan masing-masing.


"Apa Kau tak ingin berendam?" tanya Thubi ke pada istrinya.


Lubi terdiam berpikir sejenak.


Thubi mengambil inisiatif  sendiri, ia langsung melepaskan pakaian dan langsung menyebur ke kolam di depan kamar mereka.


"Apa Kau kurang puas berenang di pantai tadi?"


Lubi mendekati pinggiran kolam dan duduk.


Thubi tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia berenang ke seberang menyenderkan tubuhnya ke pinggir kolam dan memejamkan matanya.


Lubi sibuk memainkan ponsel selulernya. Tak Menghiraukan suaminya yang berenang mendekatinya.


Byurrr, Thubi menarik kaki istrinya masuk ke dalam kolam.


"Untuk apa datang ke sini, jika hanya memainkan ponsel saja." goda Thubi.


"Ponselku tercebur." rengek Lubi


"Nanti ku ganti yang baru."


"Tapi..."


"Ayo kita lomba berenang, siapa yang kalah. Akan mengabulkan permintaan pemenang."


"Jangan curang." sela Lubi.


"Baik."


Mereka bersiap mengambil aba-aba dan jelas saja Thubi melesat lebih dulu.


Namun di tengah kolam, tiba-tiba kaki Lubi kram tak dapat di gerakkan.


Thubi sudah sampai di seberang, namun ia mendapati istrinya hampir tenggelam.


Dengan cepat Thubi meraih tubuh istrinya.


"Apa kau tidak apa-apa?"


Thubi menggendong istrinya ke pinggir kolam.


"Kenapa kakimu?"


"Tidak tahu, tiba-tiba saja tidak dapat di gerakkan." jelas Lubi.


"Coba Aku lihat."


Thubi melihat pergelangan kaki istrinya. Saat posisi berjongkok. Lubi mendorong suaminya masuk ke kolam.

__ADS_1


Byurrrr.


"Kau curang. Ternyata  berbohong."


"Satu sama." goda Lubi.


"Awas Kau."


Lubi kabur masuk ke kamar. Thubi menepi ke kolam dan langsung mengejar istrinya.


"Kau harus tanggung jawab atas kecuranganmu."


Lubi menghindar mengunci kamar mandi dari dalam, ia membersihkan dirinya.


Setelah beberapa menit, tak ada suara di luar yang terdengar. Lubi menempelkan telinganya ke dinding.


"Ke mana ia pergi? kenapa tak ada suara sama sekali?"


Lubi mengendap-endap memeriksa ke luar, ia menoleh ke sana kemari. Masih memakai baju ganti mandinya. Lubi berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian.


Tanpa sadar Thubi tertawa dari belakang, melihat istrinya bertingkah laku seperti pencuri yang takut tertangkap.


Thubi memeluk istrinya dari belakang.


"Kau harus tanggung jawab atas kecuranganmu." Thubi menangkap istrinya.


Lubi mencoba melepaskan dekapan suaminya.


"Coba saja kalau berani."


Thubi mendorong tubuh istrinya ke kasur.


"Aku bisa melakukannya lebih kalau Kau mau."


Lubi tak bisa berkutik lagi.


 


 


 


Jangan lupa vote poin/koin sebanyaknya, boom like rate 5 komentar dan like tiap episodenya.


follo ig: zuzanaoktober


salam pembaca setia MCP


 


 

__ADS_1


__ADS_2