Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 29


__ADS_3

Apa jadinya jika Adrian tahu tempatku bekerja? Tari kali ini merapikan seluruh pakaian-pakaian yang terpajang.


Nasibnya kali ini bagai main petak umpet, bersembunyi ke sana-kemari. Paling tidak begitulah untuk melindungi diri dan anaknya.


Tari mengenang kejadian kemarin, hancur seketika meluluh lantakkan benteng pengorbanannya kali ini hingga dengan sekuat hati membuatnya mengulang kembali berteman dengan kepahitan masa lalunya


Tante Tira memegang pundak Tari sesaat.


"Apa yang kau lamunkan?"


Tari terkejut sesaat.


memang setelah kejadian kemarin Tari banyak melamun bersedih.


Dukanya seolah menggunung, tak terbendung lagi segala kehidupan yang mengubah kehidupannya berubah tiga ratus enam puluh derajat.


Tari membuang kesedihannya sejenak, mencoba tersenyum kuat.


"Apa yang membuatmu bersedih?"


"Memikirkan Windi tiap hari murung di kamar."


"Kamu seharusnya butuh pendamping, sudah saatnya mencarikan ayah baru untuk Windi."


Saran Tante Tila.


Itulah yang menggantung belum menemukan jawabannya selama ini. Tak semudah itu mencari seorang calon ayah untuk Windi.


Tari masih trauma.


Kepahitan kehidupannya membuatnya lebih berhati-hati.


Seandainya kehidupannya tak serumit sekarang, namun apapun itu ia harus menghadapi kenyataan pahit itu.


"Aku akan fokus pada Windi dan kehidupan kami ke depan, mengenai pendamping hidup biarlah seiring berjalan waktu akan menemukan jawabannya sendiri."


Tante Tila memeluk Tari.


"Kamu wanita yang kuat, suatu saat kelak, akan ada pendamping untukmu yang dapat mengurangi beban hidupmu."

__ADS_1


Tari mengangguk, bulir hangat itu mulai mengalir perlahan.


......


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."


Tante Tila mengajak Tari ke depan ruang tunggu di depan butik.


Tari tak terkejut lagi, karna ia telah bisa menebak.


Adrian akan mencarinya untuk menemui langsung.


Sifat Adrian tak banyak berubah meski belasan tahun terpisah sama sekali tak ada perbedaan.


Yang membedakannya sekarang Adrian sekarang sudah menjadi dokter.


Tari seakan sudah tahu perbedaan dirinya dan Adrian.


perbedaan itu yang semakin membuatnya tersudut.


Dan akhirnya tak pantas untuk bertemu kembali.


"Seperti yang kau lihat?"


"Apa kau melanjutkan sekolah desainermu?"


Tari menggeleng.


"Aku tak melanjutkannya, berpindah haluan..."


"Masih sendirikah hingga sekarang?"


Tari tak menjawab.


Membuang tatapannya ke luar jendela.


"Aku mencarimu cukup lama, apa kau pindah rumah? tiga tahun lalu aku mendatangi rumah lamamu, penghuni baru yang menunggunya."


Tari masih diam.

__ADS_1


"Kenapa kamu menghindar? kita pernah bersama dulu, apa kau melupakannya begitu saja."


"Aku sudah melupakan kejadian itu, sudah ku buang ingatan tentangmu dan segala janji yang pernah kau katakan. Lagi pula satu bulan lagi kau akan menikah, berpura-puralah tidak saling mengenal."


"Semudah itu, apa salahku?"


"Kamu sama sekali tak bersalah, sadarlah keadaan kita sudah tak seperti dulu lagi."


"Kau sudah menikah?"


Tari terdiam membeku.


"Jawablah dengan jujur, aku berjanji tak akan menemuimu lagi..."


"Iya aku sudah menikah..."


Adrian terdiam sejenak.


"Apa kau bahagia?"


"Sangat bahagia, ku mohon menjauhlah dari kehidupanku...."


Tari pergi meninggalkan Adrian seorang diri yang masih terduduk merenungkan ucapan Tari barusan.


Tari berlari menangis, masuk ke dalam. Tante Tila menyaksikan kejadian itu. Ia tahu perasaan Tari saat ini.


Tari mengurung diri di dalam kamar mandi.


ia menatap dirinya di cermin.


Seandainya waktu itu Mamahnya Adrian tidak melemparkan uang ke tubuh Tari. Mungkin Tari tak sesakit hati hingga terluka dalam.


Mungkin ia dapat jujur pada Adrian, namun cukup Mamahnya Adrian menghina dirinya yang hanya menginginkan uang.


Begitu terhinanya Tari saat itu, di muka umum Tari di permalukan.


Tari tak ingin Adrian mengetahui alasannya yang pergi begitu saja meninggalkan Adrian.


karna sampai kapanpun Mamahnya akan terus membenci Tari. Jika mereka tetap bersatu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2