
Beraninya dia datang melangkahkan kaki ke rumah ini.
Lubi mempersilahkan Tari masuk ke rumah sore itu, tepat pula Thubi sedang mengantarkan ibunya kontrol kesehatan.
"Maaf jika sudah lancang datang mengganggu Ibu sore ini." Tari membuka perbincangan.
Lubi menggeserkan batal sofa ke pangkuannya.
"Ada keperluan apa?"
"Kedatangan saya ingin mengundang Ibu dan Bapak besok di hari ulang tahun anak saya."
Deg, berani ia mengundang di hari ulang tahun anaknya, maksudnya apa? tiba-tiba...
Lubi lama memberikan jawaban.
"Apa Bapak gak cerita ke kamu, kami besok akan berangkat?"
"Tidak, Bu... malah Bapak yang menyuruh saya langsung untuk mengundang Ibu..."
jelas Tari menambahkan.
"Bapak ngomong gitu?"
"Iya, Bu...malah katanya sebelum kalian berangkat besok, mampir dulu ke acara ulang tahun anak saya. Bapak juga titip pesan, untuk Ibu langsung bungkus pilihkan kadonya besok."
"Apa?"
Lubi seakan tak percaya mendengar ucapan Tari barusan, teganya Thubi ngomong gitu.
Memangnya anak itu siapa? beraninya mengatur.
Lubi kini sudah tak tahan lagi.
Ia langsung mempersilahkan Tari untuk pulang sebelum otaknya makin mendidih mendengar perkataan Tari.
__ADS_1
....
Tari tertawa menang kali ini, ia tersenyum dengan bangganya keluar rumah Lubi. Entah sepertinya perang dunia akan di mulai malam ini. Tari sekali lagi tersenyum sinis.
"Salah sendiri, tak merespon telpon anakku semalam."
Tari melangkah dengan bangga menaiki taxi on-linenya yang sudah ia pesan terlebih dahulu.
.......
Thubi tak mendapati istrinya di kamar. Nomor ponsel istrinya tak aktif. Sudah ia berkeliling rumah namun nihil, pembantunya pun tak ada yang tahu keberadaan Lubi.
Thubi menyuruh mamahnya istirahat dikamar, ia tak ingin kondisi mamahnya parah jika tahu tentang kondisi pernikahan mereka.
Thubi mendengar suara mobil Lubi baru masuk ke grasi cepat-cepat ia menghampiri istrinya.
"Inikan yang kamu mau?"
Lubi memperlihatkan kado besar berpita pink.
"Seberharganya ya anak Tari itu, sampai-sampai sekretarismu itu datang ke rumah untuk menyampaikan atas permintaan bosnya meminta tolong untuk mempersiapkan kado ulang tahun untuk anaknya besok?"
"Aku gak pernah ngomong itu sama Tari, ataupun menyuruh kamu menyiapkan kado. Ini pasti salah paham."
"Aku gak mau ribut sama kamu, puaskan sekarang keinginanmu aku turuti, entah sesayang itu kamu sama anak Tari."
"Bi, kamu salah paham. Aku bersumpah...gak pernah menyuruh Tari untuk mendatangimu..."
"Jujur aku gak tahu lebih percaya siapa?"
"Kamu kan bisa telpon aku dulu untuk menanyakan kebenarannya..."
"Udahlah aku capek berdebat trus..."
Lubi meninggalkan Thubi yang masih mematung menatap kado itu di grasi.
__ADS_1
Tari sudah berani bersikap seperti itu, keterlaluan. Maunya apa? mendatangi istriku, gak bisa dibiarin.
gerutuk Thubi menenangkan diri.
Thubi menelpon Tari langsung.
Namun tak ada respon dari panggilan tersebut.
di ulanginya berkali-kali masih sama tak ada respon untuk menjawab panggilannya.
Thubi tanpa sadar meninju dinding, ia begitu geram seolah di permainkan oleh sekretarisnya.
Apa sebaiknya mengajak Lubi mendatangi langsung rumah Tari untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
Thubi berusaha berpikir tenang.
Namun mana mau Lubi ikut? pasti ia berpikir aneh-aneh lagi, apa yang mesti aku perbuat agar Lubi percaya.
Thubi pasrah kali ini ia menaiki tangga masuk ke kamar, berharap redam emosinya Lubi.
ia tak ingin berlarut-larut dalam kesalah pahaman ini semua.
Thubi membuka kamar, di dapatinya Lubi baru selesai mandi.
perlahan namun pasti Thubi mendekati Lubi yang masih dengan wajah kecewanya berdiri di depan cermin.
"Aku mohon, kamu jangan salah paham lagi."
Thubi kali ini berusaha ngomong pelan-pelan ia tak ingin mamahnya sampai mendengar perdebatan mereka.
Lubi sama sekali tak memperdulikan Thubi. Setelah sisiran Lubi pergi meninggalkan Thubi.
Thubi menahan pergelangan tangan Lubi.
Bersambung....
__ADS_1