Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 56


__ADS_3

"Jika suatu hari akan terjadi, di kemudian hari kau melewati kesulitan tujuh samudra. Bisikkan permintaan, tapi jangan pernah meminta pada bintang jatuh akan bernasib sial. Semoga kelak menemukan jalan keluar, seperti keluarnya kelapangan setelah kesulitan."


Thubi mengingat ucapan Mamahnya sebelum menikahi Lubi.


"Berjanjilah menjaga Lubi, sampai aku tak bernafas lagi."


Tatapan Mamah saat itu hangat dan menggenggam tangan Thubi.


Setelah semua kejadian yang pernah ia lewati, akhirnya lamunannya terpecah.


"Bapak, belum pulang?"


Dita masuk mengantarkan berkas dan meletakkannya di atas meja.


"Apa Bapak ingin makan sesuatu malam ini?"


Thubi baru sadar kalau hari ini ia belum makan, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Boleh..."


"Ingin dipesankan atau makan di luar."


Nada suara Dita kali ini menggantung.


Thubi tertegun dengan ajakan Dita sekretarisnya itu.


"Pesankan saja, jika pekerjaanmu telah selesai. Pulanglah..."


"Tapi, apa sebaiknya Bapak tidak di temani saja?"


"Tidak perlu."


"Bapak sedang ada masalah dengan istri Bapak?"


Thubi tak menjawab. Ia memegang cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Saya hanya ingin menyelesaikan pekerjaan yang tertunda."


Dita akhirnya keluar ruangan Thubi.


Thubi memandang ke luar jendala, lampu-lampu dari gedung luar memantul di kaca jendela.


Apakah Lubi juga memikirkan pernikahan mereka?


Perang batinnya mulai bergejolak antara berhenti, menahan dan menyerah seketika.


Thubi memejamkan matanya dan menahan sesak dada sekali lagi.


Siang tadi Ia menelpon gerai bunga tempat langganan ia memesan bunga. Namun tak ada respon dari istrinya, sekedar pesan singkat ucapan terima kasih atau apa saja karna telah menghargai ucapan permintaan maafnya yang ia utarakan lewat bunga kirimannya.


Sungguh, sekali lagi Thubi menghubunginya namun tak aktif lagi kontak nomor istrinya.


Apakah ia sengaja mengganti nomor untuk menjaga jarak atau sengaja ia matikan ponselnya? Thubi berpikir keras baru kali ini istrinya menghindar dalam rentang waktu yang cukup lama. Semenjak ingatan itu melupakan pernikahan mereka dan kemarahan-kemarahan kecil puncak dari segalanya.


Dita mengetuk pintu ruangan Thubi sekali lagi, berpamitan pulang.


Thubi sengaja tidak menawarkan ajakan untuk pulang bersama atau sekedar makan di luar, ia takut akan terjadi selisih paham.


Dita menutup pintu kembali dengan rasa kecewa.


Karna kondisi pernikahannya mulai semakin rapuh jika di sulut terus menerus. Di pastikan akan terbakar dan menghabiskan seluruh kepercayaan istrinya.

__ADS_1


Mungkin tak seharusnya Thubi menyuruh sekretaris barunya untuk mengambil berkas di rumah. Dan tak dipungkiri saat itu Lubi akan berpikiran Thubi memiliki hubungan gelap, cukup Tari dulu yang sempat mengacaukan Lubi.


Lubi cemburu? Thubi menemukan titik solusinya.


Berarti ia masih ingin memperbaiki pernikahan mereka karna dua hari sebelumnya masih sempat membelikan dasi dan ikat pinggang sebagai kado. Salahnya Thubi tak ingat malam itu malah mengirimkan sekretaris barunya. Thubi kali ini memukul meja. Tak seharusnya ia melakukan hal tersebut.


Maafkan Lubi, semoga kau masih bisa memahami kekacauan yang sempatku buat.


Thubi kali ini, mengambil kunci mobil. Dan turun ke parkiran untuk mendatangi rumah mertuanya. Thubi tak akan bisa tidur jika masalah itu tetap menggantung.


....


Ayah mertuanya kini membukakan pintu.


"Ajaklah pulang istrimu, ia tak makan apa-apa dari tadi pagi." jelas Ayah mertuanya yang masih berduka atas kepergiaan istrinya.


Thubi memahami kondisi itu, berarti tak ada yang tahu pertengkarannya dengan Lubi.


Hanya sebatas kesedihan dari kepergiaan Mamah mertuanya.


Thubi mencium tangan Ayah mertuanya dan berjalan ke kamar Lubi. Sebelum itu ia membawakan nasi yang telah disiapkan asisten rumah tangganya.


Thubi juga membawa bungkusan makanan yang belum sempat ia makan, pesanan Dita sekretarisnya di kantor.


Thubi mengetuk pintu, namun pintu kamarnya tak terkunci.


Thubi masuk walaupun tak disuruh.


"Sudahku bilang aku gak lapar." ucap Lubi yang masih berada di bawah selimut.


"Serius, aku juga belum makan dari pagi."


Thubi tersenyum dengan wajah tanpa dosa langsung membawa bungkusan makanan yang ia bawa.


Ia duduk di kursi dan meja santai di kamar Lubi.


Dengan menggulungkan kemeja tangan panjangnya, ia ke kamar mandi, mencuci tangan.


Lubi menatap heran dengan sikap suaminya yang berprilaku seolah biasa-biasa saja.


"Aku kangen mau makan bersama istriku." ucap Thubi muncul dari kamar mandi.


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Sejak lima menit yang lalu, Ayah menyuruhku masuk karna dari pagi dirimu juga belum makan."


Lubi diam tak merespon, ia membuka selimutnya.


"Kita kok bisa sama ya, dari pagi belum makan. Mungkin itu juga alasan kita berjodoh." goda Thubi langsung makan dengan lahap.


Lubi menatap kesal ke arah suaminya kali ini.


"Biasanya lembur."


"Aku kangen sama kamu." goda Thubi lagi sambil ngunyah nasi kotaknya.


"Gak lucu, sejak kapan mulai ngerayu?"


"Kamu gak inget ya, dulu sering ngerayu kamu kalau lagi kesel."


"Mana ada Aku ingat semua. Itu bukan Kamu sebenarnya jangan di buat-buat."

__ADS_1


"Gak percaya? bentar ya Aku jelasin setelah makan, enak banget soalnya. Serius gak mau, atau mau di suapin?"


"Gak, itu karangan kamu aja, buat mengalihkan permasalahan di antara kita."


"Emang kita bermasalah?"


"Pura-pura gak sadar atau mau di beberkan kesalahan kamu."


"Aku salah? tapi lebih bersalah Aku melewatkan nasi se enak ini."


"Gak mutu ngomong sama Kamu."


Thubi acuh kali ini tak memperdulikan kekesalan istrinya.


"Akhirnya kenyang." Thubi membesihkan tangannya k kamar mandi.


"Kamu boleh pulang."


"Kata siapa Aku pulang? Aku menginap di sini malam ini."


"Apa? gak salah?"


"Aku kangen sama istriku, emang salah?"


"Tapikan..."


Dengan santai Thubi mengambil handuk dan mandi membersihkan diri tanpa memperdulikan Lubi yang mengomel sepanjangan.


...


Saat akan tidur, Lubi beranjak bangun menggeser bantal.


"Kamu tidur di kursi!"


"Cukup kok kita tidur berdua di ranjang itu, kitakan suami istri?"


"Gak setuju, tidur di kursi. Atau Aku yang pindah kamar." ancam Lubi.


"Oke, asal satu kamar sama Kamu, itu sudah cukup."


Thubi langsung rebahan di sofa.


Ia berbaring dengan santai. mematikan lampu dan tidur memejamkan mata.


Entah Lubi kali ini tak habis pikir dengan sikap suaminya, ide dari mana dia bisa merencanakan ini semua? Lubi menatap suaminya yang telah memejamkan matanya.


Lubi menanyakan sesuatu pada suaminya namun suaminya tak memberikan respon.


"Kenapa tidak cerita tentang Dita sekretaris barumu itu?"


Tak ada jawaban dari suaminya.


Lubi mendekati suaminya kali ini. Benar Thubi sudah terlelap, karna seharian ia lembur dari dua hari yang lalu.


Lubi terkejut, mendapati ikat pinggang dan dasi yang suaminya gantung di balik pintu kamar.


"Ternyata ia pakai juga. Apa ia baru menyadarinya?"


Lubi menatap wajah suaminya dari dekat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2