Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 37


__ADS_3

Semua yang ia perbuat mungkin bukti bahwa kesungguhannya untuk bertanggung jawab memperbaiki kesalahannya di masa lalu.


Adrian kali ini memutar otak untuk membujuk Tari. Meski sulit ia harus berusaha segala cara demi anaknya.


Apapun akan ia lakukan untuk anaknya.


Namun tak ingin berlarut-larut hingga ia harus memikirkan perasaan Nisa.


Memilih membawa Windi anaknya untuk menikahi Nisa atau menikahi Tari dan meninggalkan Nisa?


Tapi begitu menyakitkan buat Nisa atau Tari jika dipilih salah satu saja dari mereka. Dan dalam keadaan apapun itu Windi tetaplah anaknya.


Adrian kali ini membayangkan wajah lugu Windi yang memintanya untuk menikahi Ibunya.


Adrian tak bisa banyak berkata, ia terjebak oleh takdir yang dijalaninya.


Adrian memejamkan matanya, membayangkan ke esokan paginya ia harus membujuk Tari untuk di ajak berkompromi.


...


"Jangan lupa untuk memikirkan kebahagiaan anak kita juga."


Bisik Adrian yang duduk di samping Tari di depan teras rumah.


Tari terdiam sejenak, yang akhirnya ia pun buka suara juga.


"Tetaplah melanjutkan pernikahanmu, Kapanpun kau boleh menjenguk dan mengajak Windi keluar."


Tari sekali lagi mengalah. Meski apapun yang akan di hadapinya kelak. Windi lebih berhak bahagia.


Adrian menatap Tari seakan tak percaya dengan ucapannya kali ini.


"Aku melakukan ini atas permintaan Windi, ia berhak mendapatkan kebahagiaan dari ayahnya."


Adrian menggangguk menyepakati persetujuan tersebut.


"Terimakasih..."


Tari tak melihat lagi wajah Adrian ia langsung pamit bekerja.

__ADS_1


Adrian menawarkan untuk berangkat bersama. Namun Tari menggeleng menolaknya.


"Tak perlu, jika Nisa melihat akan terjadi salah paham."


Tari berlalu dari hadapan Adrian.


Begitu terlukannya Tari memutuskan hal tersebut. Namun itulah yang terbaik untuknya saat ini.


Adrian terdiam, tak bisa menghentikan langkah Tari.


Tak lama muncul Windi dari dalam rumah.


"Om kapan datangnya?"


Windi mencium punggung tangan Adrian.


"Baru lima menit yang lalu, tadi sempat ngobrol sama Mamahmu..."


"Gimana? boleh kata Mamah?"


Adrian mengangguk.


"Windi pamit sama Nenek dulu Om..."


Adrian pun meminta izin kepada Neneknya mengajak Windi keluar.


Mereka melangkah bersama menuju mobil.


Betapa terkejutnya Windi ketika seorang wanita keluar dari mobil Adrian.


Windi mundur sesaat.


"Siapa dia Om?"


"Ini tante Nisa."


Nisa tersenyum dengan mengulurkan tangannya.


"Hai cantik...siapa namamu?"

__ADS_1


Windi terdiam merasa tak nyaman dengan kehadiran Nisa.


"Kenapa diam saja, sini sama tante..."


Windi bersembunyi di belakang Adrian.


Nisa menjadi tidak enak dengan kehadirannya yangb merusak suasana saat itu.


Nisa kali ini mencoba mengakrabkan diri.


"Kita temenan ya...cantik, katanya mau ke taman?"


Windi menggeleng.


"Kenapa gak pergi sama Mamah aja?"


Nisa terdiam mendengar ucapan Windi, yang begitu membuat hatinya mulai terluka.


Adrian mencoba membujuk Windi.


"Mamah kamu ada kerjaan, jadi gak bisa ikut. Sama Tante Nisa aja ya..."


Nisa tersenyum sekali lagi berusaha mendekati Windi.


"Sama Tante saja ya...Mamah Windikan sibuk kerja."


Windi menatap wajah Nisa yang lembut.


"Kita berteman ya..." bujuk Nisa memgelus pipi Windi .


Windi nampaknya mulai membuka diri saat Adrian mulai mengisyaratkan kepada Windi untuk mencoba mengakrabkan dirinya.


"Kita berangkat, nanti kesiangan."


Bujuk Adrian membukakan pintu mobil.


Nisa mencoba tersenyum mengajak Windi masuk kedalam mobil. Meski perasaannya kacau saat ini. Sudah tak ada pilihan lagi baginya. Jika ia menolak pertemuan ini sama saja ia kalah untuk mundur perlahan-lahan dan membuat keluarganya malu karna pernikahannya akan di batalkan.


Seberat inikah yang mesti ia lewati? mendekatkan diri dengan anak calon suaminya dengan wanita lain.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2