Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 51


__ADS_3

Adrian menghubungi Mentari untuk datang ke rumahnya. Ibunya ingin menyampaikan sesuatu.


Pandangan Ibunya hanya menatap lantai tak berani menatap langsung ke arah Tari.


"Seharusnya aku tidak pernah memperlakukanmu seperti itu, dirimu pasti sangat kesal mendapat perlakuanku?"


Tari hanya diam mendengarkan saja, karna kali ini ia sudah pasrah jikapun tak memiliki kesempatan paling tidak memohon agar Windi tetap bisa bertemu dengan Adrian.


"Jika dirimu berada di posisiku? apa kau masih membenci orang yang merebut anaknya dari kedekatanmu, bukankah dirimu sekarang juga sudah menjadi seorang Ibu?"


"Seorang Ibu akan berkorban untuk kebahagiaan anaknya, sekalipun akan menyakiti perasaannya hingga terluka. Karna seorang Ibu tak akan mengorbankan kebahagiaan anaknya sedikti saja dengan alasan apapun."


Ibunya Adrian kali ini hanya terdiam mendengan ucapan Tari.


"Benar, dirimu telah berusaha menjadi Ibu yang baik untuk Windi. Dirimu telah berpikir secara matang. Setiap orang pernah mengalami kesalahan, besar ataupun kecil sebuah pengorbanan bukan karna di nilai dari cara pandang kita untuk bermain mencari solusi. Tapi kesadaran untuk terus belajar untuk tidak mengulangi penderitaan kesalahan sebelumnya. Bisakah kita memulai dari awal kembali?"


Tari mencium tangan Ibu Adrian, dan memeluknya. Seolah tak percaya mendengar ucapan dari mulut Ibunya Adrian langsung.


"Seorang anak kecil yang menegur batinku, saat pertama dia menasehatiku. Untuk tidak memperlakukan Ibunya dengan buruk. Cucuku sendiri yang harus turun tangan langsung mendamaikan kita, Kata-kata Windi benar tidak seharusnya aku memperlakukan dirimu dengan buruk karna kita setakdir pernah membesarkan anak-anak kita seorang diri, aku tahu rasanya pedih melihat anak yang memiliki orang tua yang masih utuh, dan aku tak akan membiarkan cucuku mengalami hal yang sama. Menikahlah? menikahlah  untuk kebahagiaan anakku dan cucuku."


Mentari hanya mengangguk terus menggangguk dalam pelukan Ibu Adrian, air matanya terus menetes.


"Bolehkan aku memanggilmu Ibu? aku merindukan kedekatan ini, sungguh aku akan berusaha untuk menjadi istri, Ibu dan anak yang baik, terimakasih telah memberiku kesempatan berharga ini."


Adrian terharu menatap mereka dari ruang tengah, sudah bertahun-tahun ia mengharapkan pemandangan seperti ini. Doanya terkabul semoga ini adalah awal kebahagiaan hingga akhir hidupnya  terus seperti ini adanya.


Adrian mengangguk menatap mereka berdua yang saling berpandangan dengan Adrian.


..........


Di waktu yang sama, Nisa hanya menatap beberapa tumpukan undangan berkardus-kardus di gudang penyimpanan. Lelah batinnya untuk menguatkan diri, meski ia coba melupakan. Inilah pukulan terberat di kehidupannya. Ia harus mengalah dan mengalah demi mengabulkan kebahagiaan anak kecil untuk mempersatukan kedua orang tuanya. Seharusnya ia tak pernah menyetujui perjodohan itu atau menerima lamaran yang akan membuatnya terluka dalam.


Nisa menutup gudang itu rapat-rapat, dan meninggalkan ruangan itu untuk memperbaiki hari-hari selanjutnya. Keputusannya untuk berpindah ke kota lain sudah tepat, untuk mengubur luka lamanya. Meski terlihat munafik untuk berkorban demi kebahagian keluarga lain.


Mamahnya menguatkan Nisa, mungkin ada jodoh yang terbaik dan akan membahagiakan Nisa kelak.


"Tak perlu bersedih, yakinlah jika kau memberikan kebahagiaan orang lain. Akan ada kebahagiaan yang menunggumu." hibur Mamahnya memeluk Nisa.


Terkadang Nisa berpikir tak akan sempat lagi untuk bersenang-senang dalam kondisinya seperti ini, namun Mamahnya terus membantu menguatkan. Terlalu sibuk  berkurung dalam masalahnya.


"Pepatah mengatakan memangkas tiap air mata akan percuma, jika tak kau pangkas langsung induk dari kesedihan itu."


Nisa mengangguk mengiyakan dengan mempersiapkan koper-koper kepergiannya.


"Jika sudah sampai jangan lupa telpon Mamah, jangan lupa untuk berbahagia sesampai di sana, tersenyumlah masa depanmu masih panjang. Semoga kau betah tinggal bersama Nenekmu."


"Doakan aku bisa menghapus induk dari kesedihanku." bisik Nisa mencium tangan Mamahnya.


Mereka melepaskan kepergian itu dengan saling menguatkan dan tidak  membiarkan  waktu yang terus mempersingkat pertemuan itu, untuk memisahkan mereka karna jemputan taxi menuju bandara sudah menunggu membunyikan klakson, di depan pagar.


Perjalanan itu begitu terasa panjang dan berat, untuk menoleh kembali ke rumah itu pun sangat membuatnya terluka. Tempat lamaran yang tak berpihak pada mereka yang telah menentukan tanggal pernikahan. Kini hanya sebatas kenangan. Sakit jika ingat keputusan itu.


Seumur hidup pasti akan di kenang tak akan mudah menghapusnya begitu saja.


.......


Begitu letihnya perjalanan yang menguras tenaga. Hampir empat jam perjalanan. Rumah Nenek sepi. Nisa duduk di teras samping. Tak ada orang beberapa kali ia mengetuk tak ada jawaban sama sekali.


Hingga karna letihnya Nisa tertidur di kursi.


"Non, bangun..."


Wanita berumur kira-kira lima puluhan tahun itu menggoyang-goyang tubuh Nisa.


Nisa terbangun kaget.


"Masuk ke dalam saja, maaf perkenalkan saya asisten rumah tangga di sini. Nenek sudah cerita cucunya akan datang hari ini, tapi Nenek saat ini menginap di rumah teman lamanya yang baru pulang dari Turki."


Nisa mengangguk.


"Tasnya sudah Bibik masukkan ke dalam, silahkan istirahat ke kamar saja."


Nisa menuruti saja masuk kedalam.


"Kamarnya di lantai dua, Non. Kalau ada apa-apa panggil saja saya memasak di dapur."


"Iya Bik, terimakasih..."


Nisa berjalan sempoyongan karna masih ngantuk menaiki tangga kelantai atas.


Tepat kini pintu kamar  sudah ada di hadapannya, tanpa pikir panjang ia membuka saja dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuk.


"Harum sekali kamar ini begitu nyaman, empuk dan Nenek pasti sudah menyiapkan kamar ini untukku." Nisa tak ingat apa-apa lagi ia sudah melanjutkan tidurnya.


Beberapa jam suasana masih sunyi dan sepi, Nisa masih mendengar suara derap langkah seseorang menaiki anak tangga dan tak lama samar-samar pintu kamar ada yang membuka. Selebihnya Nisa tak tahu matanya begitu berat untuk di buka. Ia telah lelah seharian lelah dengan kondisi dan permasalahan hidupnya.


Suasana kamarnya kali ini begitu redup, jendela kamar sudah tertutup rapat.


"Perutku lapar?" Nisa memegang perutnya yang mulai memanggil-manggil.


"Apa kau sudah bangun?"


Suara laki-laki itu mengagetkan Nisa. Sontak Nisa bangun mencari sumber suara.

__ADS_1


"Apa kau  tidur di kamarku?"


Nisa menatap sekeliling kamar itu. Terdapat seragam kepolisian dan kaos yang menggantung di belakang pintu


di tambah laki-laki berdiri di hadapannya kini hanya memakai handuk.


Nisa menutup matanya terkejut.


"Kenapa kau ada di kamarku?"


"Ini kamarku. Bibik yang menyuruhku masuk ke kamar untuk istirahat?"


"Apa kau tidak menanyakan dahulu sebelum masuk kekamar  orang lain?"


Nisa terdiam ia masih menutup matanya dengan kedua tangannya kali ini.


"Mana ku tahu? cepat pakai pakaianmu, bersikaplah sopan di hadapan wanita."


Laki-laki itu memakai celana dan baju seketika.


"Seharusnya kau memastikan di mana kopermu dulu, sebelum tidur masuk ke kamar orang lain."


"Maaf aku tidak tahu, jika ini bukan kamarku. Kamu tidak melakukan apapun kan saat aku tidur?"


"Aku sama sekali tak tertarik padamu."


"Baguslah, kalau boleh tahu di mana kamarku?" ucap Nisa.


"Ada di sebelah."


"Kau sebenarnya siapa?"


"Bilang saja kalau mau mengajak berkenalan."


Cih menyebalkan sekali cowok ini. Baru sehari di sini sudah membuatku kacau.


"Apa lagi yang kau tunggu, cepat kembali ke kamarmu."


"Dasar  cowok mengesalkan, beraninya mengusirku. Awas saja kau." gerutuk Nisa kesal.


"Aku mendengar umpatan mu."


Nisa  membanting pintu kamarnya.


"Dasar wanita ceroboh."


Apa dia seorang polisi, tapi Nenek dan Mamah  tidak pernah cerita kalau ada cucunya polisi. Siapa sebenarnya cowok menyebalkan ini.


Harus serumah dengan dia? ah lupakan, lebih baik melanjutkan tidurku lagi, tapi....perut ku lapar. Apa Bibik masih menyisakan makanan untukku?


Nisa kembali bangun dari ranjangnya. Membuka pintu kamarnya. Ia menatap kamar sebelah yang sunyi dan sepi.


"Semoga saja tidak bertemu lagi dengan makhluk menyebalkan itu. Tapi apa Nenek malam ini tidak pulang? masih menginap di rumah teman lamanya?"


Nisa menuruni anak tangga. Tak lama ruang tengah lampu menyala dan tak lama terdengar orang berbincang-bincang. Ada suara wanita dan laki-laki. Tak lama terdengar suara agak ribut.


Nisa mengintip.


"Ha? beraninya cowok itu mengajak masuk seorang wanita  ke dalam rumah, padahal  Nenek tidak ada di rumah. Akan ku laporkan. Dimana Bibik ya?"


Tapi cowok itu mengusir si cewek seketika, dengan menarik tangannya keluar rumah. Tak lama terdengar pintu di banting keras.


Nisa yang mengintip sontak terkejut. Si cowok itu ngomel-ngomel dengan membereskan semua bungkusan plastik di atas meja dan tak lama ia masuk ke dapur tangannya mengambil seluruh bungkusan itu dan akan membuangnya ke kotak sampah.


"Jangannnn...."


Pekik Nisa berlari menarik tangan si cowok.


"Dari pada mubazir di buang, buat aku aja..."


Pinta Nisa.


Tangan Nisa langsung mengambil alih semua bungkusan itu berpindah ke tangannya.


"Dari pada di buang lebih baik saya makan."


"Tidak boleh, makanan dari cewek peselingkuh tidak boleh di makan mau ketularan jadi peselingkuh juga?"


Nisa manyun mendengar ucapan cowok itu.


"Tapikan sayang mubazir."


"Awas kalau masih di ambil."


Ancam cowok itu ke Nisa.


Si cowok itu pergi meninggalkan Nisa, yang langsung membuang bungkusan itu semua ke kotak sampah.


"Dasar cowok egois."


Jadi aku makan apa? gerutuk Nisa manyum membuka lemari mencari makanan atau cemilan, namun tak ada yang di temuinya. Kemana sih Bibik? Nisa menelusuri tiap ruangan namun tak di temukannya wujud Bibik.


Apa Bibik lupa kalau di rumah ini masih ada penghuninya?

__ADS_1


Nisa membuka isi kulkas cuma ada buah-buahan, lumayan untuk mengganjal perutnya. Nisa pergi ke grasi namun tak ada motor di situ hanya mobil dua buah, mobil dinas polisi dan mobil pribadi.


Nisa manyun menatap layar ponselnya terpaksa delivery food.


Tapi Nisa tak tahu nama jalan dan alamat, dan nomor rumah Neneknya?


Sungguh sialnya, terpaksa harus menemui cowok menyebalkan itu lagi, gerutuk Nisa.


.....


Nisa mengetuk pintu kamarnya namun tak dijawab, ataupun di respon. Terpaksa ia buka paksa. Namun ia tak menemukannya. Tak lama langkah Nisa ke dapur terdengar aktivitas memasak.


"Si cowok belagu itu masak? gak salah?"


"Bantuin, ngapain bengong? mau makan jugakan? Bibik gak akan ada, percuma kalau di cari in kemanapun gak akan ketemu, cuma sampe sore Bibik ada di sini, malamnya ia pulang."


Nisa mengangguk baru tahu.


"Jadi kalau malam masak sendiri ya? kalau laper?"


"Kamu gak pernah masak ya?"


"Kamu sebenarnya siapa? Nenek gak pernah cerita?"


Nisa mengalihkan topik pembicaraan.


"Memang penting buat kamu tahu?"


"Ya pentinglah kita kan serumah? gak mungkin aku gak peduli."


"Nanti juga bakal tahu."


"Gimana mau tahu kalau gak di kasih tahu."


"Makannya cari tahu."


"Ngeselin banget ini cowok."


Ketus Nisa manyun.


Masakannya sudah siap di atas meja, namun Nisa masih kesel.


"Kalau cuma di liatin, gak bakal masuk tu makanan ke perut."


"Bodo."


"Terserah, kalau mau kelaperan. Perut siapa juga yang bakal menderita."


"Dasar egois."


"Bodo, yang penting kenyang."


Nisa bangun dari kursi dan meninggalkan cowok itu yang masih makan di meja makan.


"Mana sudi makan, dasar cowok."


Nisa duduk di ruang samping, menatap layar ponsel. Dengan membawa segelas air minum.


Jemarinya memilih makanan-makanan kesukaannya. Seandainya dia gak kesini mungkin di sana ia bisa makan enak-enak.


"Kemana sih Nenek? mana ponselnya gak aktif. Kalau kayak gini mana betah tinggal di sini."


"Aku habisin ya... serius gak mau makan?"


Nisa menatap mie goreng instan di piring cowok tersebut.


"Ini mie terakhir lho, jangan nyesel."


Nisa langsung mengambil piring tersebut dari tangan si cowok.


"Susah banget di suruh makan. Dasar manja."


Nisa hampir sulit menelan mie goreng tersebut mendengar ucapan cowok tersebut. Namun tak apalah hanya untuk malam ini saja.


Kunyahan Nisa terhenti, karna di rasakannya ia menggigit tumpukan cabe rawit yang ada di mie  goreng tersebut.


Si cowok sengaja mengambil air minum yang ada di samping Nisa.


"Kepedesan ya..gimana? masih mau ngatain aku cowok egois? atau cowok menyebalkan?" Si cowok kegirangan menatap mata Nisa yang mulai berkaca-kaca menahan pedas.


"Dasar cowok gak punya perasaan."


"Memohon dulu, baru aku kasih."


"Sialan, gak sudi."


Nisa masuk kedalam berlari menuju kulkas.


Si cowok kegirangan.


"Lumayan ada mainan baru untuk di jahilin."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2