
Nisa kali ini tak ingin ikut campur urusan Bima, urusan pribadi Nisa sudah cukup rumit. cukup Delima kemarin sore menangis atas belum menerima keputusan Bima memutuskan secara sepihak Delima. Jelas sekali foto itu menunjukkan keakraban Delima bersama laki-laki lain di Malaysia. Itu sudah cukup bagi Bima untuk mengakhiri hubungan mereka.
Hari ini tanpa sengaja Nisa melihat postingan instagram pernikahan Adrian dan Mentari. Memang sangat menyakitkan namun demi kebahagian Windi. Nisa hanya mengurung diri di kamar menatap foto pernikahan mereka. Diam-diam Nisa menangis dengan kehidupannya yang belum move on.
Bima mengetuk kamar Nisa sesaat.
"Apa Kau tidak ingin makan sesuatu? berhentilah mengurung diri. Nenek menelponmu, angkat teleponnya."
"Aku tak lapar, bilang saja Aku sibuk. Ada pekerjaan."
"Kau ini berbohong pada Nenek, awas saja. Memangnya apa yang kau kerjakan di kamar? kalau Kau tak membuka pintu. Hitungan ke tiga Aku dobrak paksa." ancam Bima.
Masih tak ada jawaban dari Nisa di dalam.
"Nisa, apa Kau masih mendengarku? atau berusaha menutup telingamu dengan bantal? baik jika itu maumu Aku akan paksa."
Brukkk.
Mudah saja Bima yang seorang anggota polisi mendobrak kamar Nisa.
"Apa Kau menangis?" tanya Bima mendapati kedua mata Nisa yang sembab.
"Apa pedulimu? Kau telah merusak pintu kamar? akan Aku adukan pada Nenek." Nisa melap air matanya dengan selimut.
"Kau sendiri sudah di beri peringatan? salah sendiri. Dasar cengeng."
Bima mendekati Nisa duduk di ranjang.
Memperhatikan ponsel Nisa yang masih menyala.
"Jadi gara-gara ini? Kau menangis hanya karna mantan tunanganmu menikah hari ini. Dasar gadis bodoh."
Bima merebut ponsel Nisa.
"Berhentilah mengejekku, apa kau tahu rasanya di posisiku?"
"Sorry jika Aku jadi dirimu tak akan menyia-nyiakan air mataku hanya untuk mengenang orang yang telah meninggalkanmu."
"Aku yang meninggalkannya." jelas Nisa.
"Jadi apa masalahnya? jika Kau sendiri yang meninggalkannya duluan."
"Demi anaknya, permohonan seorang anak untuk menyatukan keluarga mereka yang tak pernah di setujui oleh orang tuanya dulu. Apa Kau tega menolak permohonan anaknya jika berada di posisiku saat itu?" tanya Nisa.
Bima terdiam sesaat menemukan kata yang tepat.
"Berarti bukan jodohmu." jelas Bima menatap Nisa.
__ADS_1
"Apa Aku telah melakukan hal yang benar?" Nisa kali ini menghadap ke arah Bima.
"Hal yang benar untuk kebahagiaan anak mereka. Sudahlah jangan menyesali masa lalumu. Kita makan keluar." ajak Bima sesaat.
"Aku tak merasa memiliki mood untuk keluar."
"Berhentilah menjadi siput yang mengurung diri terus. Kau harus keluar biar isi otakmu bisa bernafas dengan normal."
"Apakah Aku masih bisa mendapatkan kebahagiaan?"
"Berhentilah menindas dirimu sendiri." Bima menarik tangan Nisa.
"Ganti bajumu, Aku tunggu di bawah lima menit."
"Delima akan salah paham jika melihat kita? Aku tak ingin jadi perusak hubungan orang lain untuk kedua kalinya."
"Memangnya Aku masih berhubungan dengan Dia?"
"Terserah Kau saja. Awas jika menarikku kedalam masalah kalian berdua. Jangan salahkan Aku. Kau terus memaksa."
"Cepat sedikit, banyak ceramah." Bima meninggalkan Nisa.
"Hey, bagaimana dengan pintu kamarku?"
"Akan Aku pikirkan besok saja. Cepatlah ganti bajumu." jelas Bima menuruni anak tangga.
Umpat Nisa kesal.
Nisa terdiam saat sampai di tempat yang di ceritakan Bima. Sebagai tempat favoritnya. Sungguh di luar dugaan Bima akan mengajaknya ke tempat itu.
"Jika Aku sedang suntuk tempat ini membuatku damai dan tenang menikmati makanan dengan suara air sungai, hawa pepohonan, gemericik batu dan pohon-pohon yang akan mengusir permasalahan hidupku." jelas Bima ke pada Nisa.
"Kau sering ke tempat ini bersama Delima?"
Bima menggeleng
"Delima tak suka di ajak ke tempat ini, dia lebih senang di cafe, resto pusat perbelanjaan pokoknya keramaian. Dan dia sangat anti tempat sunyi tanpa keramaian dan kebisingan. Itulah kadang hal sepele membuat kami bertengkar. Karna selera Aku dan dia sangatlah berbeda."
"Kenapa bisa memutuskan kesepakatan?"
"Nenek menjodohkan kami, karna keterpaksaan." Bima menghentikan ucapannya.
__ADS_1
Nisa terdiam sesaat.
"Mungkin Nenek sudah cerita padamu, tentang diriku?"
Nisa menggeleng.
"Nenek belum cerita. Sama sekali. Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Aku sudah lapar, sebaiknya kita pesan makanan dulu."
"Kau payah, selalu membuatku penasaran." gerutuk Nisa.
Bima tersenyum menatap tingkah Nisa yang manyun.
"Aku ikut pilihan menu mu saja." jelas Nisa bangun dari kursi dan berjalan menuju pinggir sungai kecil di dekat mereka.
"Kau mau kemana?"
"Mau nyebur." jawab asal Nisa.
"Hey itu dalam." Bima mengikuti Nisa dari belakang.
"Mana ada juga nyebur, dasar aneh. Aku cuma mau memasukkan kaki ke sungai. Ingin merasakan derasnya aliran air sungai dingin yang mengalir."
"Kau kan lagi putus asa, bisa saja nekat." goda Bima.
"Yeee...Aku tak sepesimis itu."
Bima dengan sengaja mendorong Nisa menyebur ke sungai.
"Bimmaaaa......" pekik Nisa kesel.
**Jangan lupa vote poin/koin sebanyak-banyaknya\, like dan komentar tiap episode **
follow ig zuzanaoktober
salam setiap pembaca MCP.
__ADS_1