Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 14


__ADS_3

Tari terdiam memeluk anaknya yang masih batuk. Entah perasaannya kini kacau, egoiskah dia masih mengharapkan laki-laki yang sudah dekat dengan anaknya kini. Meskipun sudah beristri.


Jarak untuk mendapatkannya seolah menjauh. Pelan-pelan semakin luntur dan kabur.


Tari memeluk anaknya semakin kuat. Kebahagiaan anaknya adalah yang paling utama.


"Kenapa Om Thubi sudah jarang main ke rumah kita?"


Tanya Windi anak Tari masih terbatuk.


"Om masih banyak pekerjaan di kantor, Nak...nanti kalau ada waktu senggang Om Thubi akan ngajak main Windi lagi ya..."


Tari semakin erat memeluk anaknya kali ini. Ia tak ingin anaknya terus bersedih. Tari tahu Windi begitu merindukan sosok ayah dikehidupannya. Semenjak kecelakaan maut itu merenggut nyawa suaminya saat Windi berusia tiga bulan di kandungannya.


Benar saja Windi hanya melihat wajah ayahnya dari foto saja. Setelah Windi mengenal sosok Thubi yang sangat menyukai anak-anak sangat mudah bagi mereka akrab.


"Meskipun harus memohon pada istrinya, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Windi anakku."


Tari memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


.....


Sesuai bunyi pesan semalam Thubi ingin menemui Tari langsung. Meskipun masih cuti, karna Thubi tak ingin memperkeruh suasana, bahkan membuat istrinya berlarut-larut salah paham tentangnya.

__ADS_1


Di kantor seperti biasa Tari menitipkan terlebih dahulu Windi ke rumah ibunya. Tari mempercepat langkah kakinya, begitu banyak yang akan di ajukan pertanyaan pada bosnya kali ini. Meski ia harus bersimpuh dia pasti akan lakukan. Penyemangat


hidup Windi bergantung kedekatan pada bosnya untuk saat ini.


Namun apakah mungkin istrinya mau berbagi?


Tari sudah menaiki taxi on-line, pikirannya mucul sugesti-sugesti yang menarik, bergulir memilih kesepakatan atau apalah yang mesti ia perbuat demi kebahagiaan anaknya.


Sampai di kantor suasana masih sepi, sengaja ia pergi begitu pagi.


Namun ruangan pak bosnya masih kosong.


sesekali ia ingin menekan tombol nomor ponsel semalam, namun ia gugup memilih membatalkan panggilan tersebut. Tari tak ingin membahas masalah tersebut di kantor.


Namun sudah tak ada pilihan lagi. Jika di biarkan begitu saja kesehatan Windi akan terganggu. Dari lahir Windi sudah sakit-sakitan kadang drop tak tentu sesuai kondisi fisiknya.


Semoga pak bosnya tak menolak untuk memberikan kejutan ulang tahun Windi, meski dengan kesepakatan apapun itu.


......


"Besok ulang tahun Windi, bisakah Bapak meluangkan waktu untuk..."


"Maaf, Tari sepertinya tidak bisa. Besok saya akan berangkat dengan istri saya."

__ADS_1


"Sebentar saja Pak, kapanpun tidak masalah...cukup 15 menit atau 20 menit saja. Sesempat Bapak saja, bila perlu saya akan meminta izin pada istri Bapak."


Thubi terdiam sejenak.


"Bisakah kamu mencari calon Bapak untuk Windi secepatnya."


Tari terdiam jika Thubi sudah mengatakan hal tersebut sungguh keputusannya tak bisa di ganggu gugat.


"Jika itu mau Windi, sudah dari dulu saya menikah Pak, tapi... Windi sudah memilih Bapak."


Tari hanya menunduk pasrah.


"Maaf sudah lancang, Pak."


"Kamu tahu sendirikan saya sudah menikah, punya istri, saya menghindari pertengkaran. Usia pernikahan saya baru tiga hari?"


"Tapi Pak..."


"Jika sikapmu tak bisa di tolerir, saya dengan berat hati harus menggantikan posisimu dengan pegawai baru."


Tari terdiam tak berkutik, entah apa yang mesti perbuat untuk meluluhkan hati bosnya.


sudah tak ada cara lagi kecuali menemui istrinya.

__ADS_1


semoga Lubi dapat memahami kondisinya saat ini.


Bersambung...


__ADS_2