Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 8


__ADS_3

Bagaimana, jika akhirnya ku masih mencintai dirimu. Masih memikirkan tentangmu


Tak mampu menghapusmu.


Sekalipun telah lama buatku menunggu.


Lubi menghentikan tulisannya kali ini, ada ketukan dari pintu kamarnya.


"Serius gak mau ikut?"


Lubi masih males untuk bangun dari ranjang tidurnya.


Mamah kali ini memeluk Lubi.


"Temenin mamah ya sayang. Gak enak kalau gak dateng. Mamah tunggu."


"Tapi Mah..."


Lubi gak bisa menolak sama sekali.


Males banget ketemu Thubi dan ceweknya itu.


Yang ada bakal panas hati ngeliat mereka, atau jangan-jangan...


"Bi, jangan lama-lama dandannya."


Tegur mamah dari dalam kamar.


" Iya Mah..."


"Ada orang yang udah nunggu di bawah,"


"Ha? siapa?"


Lubi buru-buru turun ke bawah mengintip pelan-pelan.


"Ngapain dia ke sini?"


........


Kali ini dengan terpaksa Thubi mengajak Lubi ke taman belakang rumah. Begitu banyak unek-unek yang dikeluarkan.


"Di suruh mamah jemput, jangan ke ge-er an. Buruan!"


"Siapa juga nyuruh jemput."


"Jangan mulai lagi. Tante Mala udah berangkat, gak mau kan aku tinggalin sendirian. "


"Kenapa gak pergi aja, siapa juga yang sudi di jemput."


"Ooo...ceritanya mau minta anter sama cowok kamu? siapa namanya Adriankan? Dokter muda juga, udah berapa lama jadian? jadi hanya karna cowok itu..."


Ucap Thubi ke Lubi.


"Oh, kamu cemburu?"


Lubi lagi males ngeladenin Thubi saat ini, entah kenapa Thubi mulai ngeselin


Nada suara Lubi mulai meninggi.


"Kenapa mau kabur lagi?" potong Thubi.


"Udah lah gak perlu menghindar, kamu kan emang gitu dikit-dikit mudah kesel, bentar pergi, muncul dengan cowok baru, terus hilang, terus apa lagi? telpon gak di angkat, susah ngajak ketemu, ngelebihin orang penting aja, gak pernah bales pesan sok sibuk, ngumpul sama temen-temen yang cuma bisa mempengaruhi."


"Eh, jangan pernah jahatin sahabatku, kenapa mesti di bawa-bawa. Kamu gak berhak ngomong apa-apa tentang mereka, apa sih yang kamu tahu?"


"Udahlah, kadang aku pikir kamu itu gak pernah dewasa masih denger omongan orang, dan mudah di hasut. Kebuktikan."


"Aku gak mau cari ribut di sini."

__ADS_1


"Cuma membuka pikiran kamu, biar gak dikit-dikit curhat ke sahabat yang gak mutu, dikit-dikit nangis merengek, trus kabur, kamu itu bukan anak SMA lagi."


"Apaan sih maunya kamu?"


Lubi mulai agak memanas kali ini.


"Mau aku?"


Thubi mendekati Lubi.


Lubi mundur perlahan, mencoba menghindar.


Byuuurrrr...


Lubi nyebur ke kolam.


"Aku bilang juga apa? yang nyuruh kamu nyebur itu siapa?"


Thubi mengulurkan tangannya. Sambil tersenyum.


"Gak butuh."


Lubi berenang ke tepian.


Dengan basah kuyup naik tangga kolam.


........


Thubi menunggu di ruang tamu.


"Kelamaan, masih juga gitu-gitu juga. KUA mumpung masih buka lho pagi ini."


Celetuk Thubi.


Lubi menurunin anak tangga.


"Aku gak jadi ikut."


"Ngapain ke KUA? mau keluar sama Dwi." jelas Lubi


Thubi menghelakan nafas panjang.


"Ya mau nikahlah. Aku tungguin sampai Dwi jemput."


Thubi menghidupkan televisi.


"Siapa juga yang mau nikah? Aku gak minta di tungguin lho."


"Ya gak pa-pa pengen aja kalau ada yang ngajak nikah sih." jawab Thubi asal.


"Kenapa gak pulang aja sih, ponakan akikah juga."


"Nah kamu kenapa di undang gak dateng? kalau kamu pergi ya aku pergi, gampangkan."


"Ngeselin banget jadi orang."


"Kamu itu lebih ngeselin. Udah tiga kali aku ajak nikah."


Thubi menoleh ke kaki Lubi, dengan jalan agak pincang.


"Kenapa kaki kamu lebam?"


"Bukan urusan kamu, udah deh. Pulang sana!"


Thubi spontan mendekati Lubi sambil membungkukkan badan.


"Jangan sentuh! bukan muhrim."


"Ya udah kalau gitu kita nikah, biar jadi muhrim. Di ajak ke KUA gak mau."

__ADS_1


Thubi kali ini menantang Lubi.


"Kamu pulang aja."


"Gak bisalah, sebelum kamu jawab pertanyaan barusan. Mau gak nikah?"


"Kamu ini mulai ngeselin, di rumah ini hanya berdua, kalau ada apa-apa..."


Lubi memberi jarak untuk tidak berdekatan dengan Thubi yang seolah dari tadi jadi magnet untuk selalu mendekat.


"Ya udah kita halalin aja secepatnya..."


"Enak aja kalau ngomong."


"Kamu itu yang ribet sendiri, dari dulu gak pernah berubah, keras kepala. Aku punya batas kesabarannya lho ngajak nikah kamu."


"Kalau aku gak mau?"


Tantang Lubi.


"Ya udah aku nyari cewek lain aja yang mau nikah sama aku." ketus Thubi gak mau pusing.


Nih cowok gak ada rayuan sama sekali atau basa-basi, ngeselin banget.


"Ya udah nikah aja sama cewek lain."


Lubi acuh duduk di sofa. Dengan sikap cueknya.


"Serius nih? jangan nyesel ya, kalau aku beneran nikah sama cewek lain."


Thubi menggoda Lubi sambil senyum-senyum.


"Thubiii..."


Jerit Lubi mencubit lengan Thubi tanpa sadar.


"Bukan muhrim lho, kamu duluan nyentuh aku." goda Thubi.


"Kenapa kamu kangen bangetkan sama aku, semenjak aku tinggalin..."


Lubi memukul bantal ke wajah Thubi.


Dengan cepat Thubi menghindar.


Dan duduk bersimpuh dihadapan Lubi.


Dengan memandang Lubi dari dekat.


"Aku serius ngajak nikahnya, ini terakhir aku ngajak kamu, aku gak pernah memaksa. Hari dan detik ini juga kasih aku jawaban, jikapun di tolak aku sudah siap untuk gak akan pernah mengganggu hidupmu lagi dan aku pastikan akan menghilang selamanya dari kehidupanmu."


Thubi kali ini wajahnya begitu serius.


Menunggu jawaban Lubi.


"Kalau kamu mau, aku akan melamar kamu hari ini juga, minggu ini kita nikah, karna bulan depan aku harus pindah tugas ke Barcelona, aku pingin ngajak kamu sebagai istriku ke sana. Maukan?"


Lubi terdiam.


"Tapi aku butuh waktu berpikir..."


"Aku gak akan kasih kamu waktu, yang aku butuhin, mau atau tidak dari mulut kamu langsung?"


......


"Aku gak bisa, maaf gak bisa nolak kamu jadi suami aku."


Thubi kali ini tersenyum, hampir memeluk Lubi. Karna kegirangan.


"Eitsss, belum muhrim...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2