
"Kau telah membuatku basah kuyup." cerca Nisa
"Apa perlu bantuan?" Bima mengulurkan tangannya.
Nisa menepiskan tangan Bima.
"Keterlaluan, bukan lelucon."
"Ayolah, Aku sama sekali tak sengaja. Salah sendiri."
"Masih bisa menyalahkan orang lain."
"Kau mengacaukan segalanya, Aku pinjamkan handuk dulu. Tunggu saja."
Bima belari masuk ke dalam meminjamkan handuk.
Nisa duduk terdiam. Menatap jauh ke depan. Dingin udaranya membuat Nisa menggigil.
Bima menutupi handuk kepala Nisa.
"Aku bantu mengeringkan."
"Jangan sentuh Aku!" Nisa menghindar menjauhkan kepalanya dari handuk yang di pegang Bima.
"Wajar saja Delima kadang kesal, kelakuanmu seperti ini."
"Apa dia cerita banyak kemarin."
"Lupakan saja."
Nisa bangkit duduk di kursi. Makanan mereka telah terhidang.
"Delima cerita apa saja?"
"Kejelekanmu." ucap Nisa ketus sambil mengunyah.
"Berarti berhasil trik ku selama ini."
"Trik katamu?"
"Sudahlah, tak perlu di bahas." Bima mengambil makanan kedalam mangkok kemudian menyantapnya.
"Apa perlu kita beli baju sebentar. Kau tidak kedinginan?"
"Aku wanita tangguh, sebaiknya jangan terlalu di pikirkan." ucap Nisa menyelimuti tubuhnya dengan handuk sementara air dari pakaiannya masih menetes ke lantai.
"Apa perlu ku pinjamkan pakaian pelayan untuk sementara waktu?"
"Setelah makan kita langsung pulang, berisik sekali."
"Baiklah, jangan salahkan Aku kalau nanti masuk angin."
Nisa tak memperdulikan ia terus mengunyah santai.
__ADS_1
"Apa Kau baik-baik saja?" Bima menempelkan tangannya ke dahi Nisa.
"Sudahlah sebaiknya langsung pulang."
Setelah menyelesaikan makan malamnya mereka langsung pulang. Namun di perjalanan Nisa hanya diam. Tak lama ia beberapa kali bersin.
"Aku bilang juga apa?"
"Aku baik-baik saja."
"Jangan membantah, pakai saja jaketku."
Nisa menuruti ucapan Bima.
"Keras kepala."
Sesampai di rumah.
"Cepat ganti baju basahmu. Langsung tidur." ucap Bima.
Nisa hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Bima.
"Apa Aku kelewatan?"
Setelah memasuki mobil di grasi Bima masuk menaiki anak tangga.
Pintu kamar yang tak bisa di kunci itu karna di di dobrak tadi siang terbuka sedikit.
Tak ada jawaban dari Nisa.
Bima membuka pintu kamar yang tak bisa di tutup.
Nisa sudah tidur, namun Bima tak berani mendekatinya.
Malam itu juga Bima memperbaiki pintu kamar Nisa dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara.
Nisa masih tertidur pulas.
Paling tidak pintu itu bisa menutup dengan sempurna.
"Apa Aku boleh menyukaimu?"
Bima menoleh ke arah Nisa yang bicara sambil tertidur.
"Apa dia mengigau?"
"Kau kelewatan, awas saja."
Bima mendekati Nisa sesaat. Lampu kamarnya memang di matikan hanya ada pantulan cahaya dari luar dan lampu tempel kamar.
"Pura-pura tidur?" Bima mengibas-ibaskan tangannya ke depan wajah Nisa yang masih terpejam.
"Dasar wanita pengigau? tapi... ah sudahlah."
__ADS_1
Bima menaikkan selimut Nisa yang mulai turun.
"Badannya panas? dasar bodoh, pura-pura kuat."
Dengan tanpa pikir panjang Bima mengambilkan air dingin untuk mengompres langsung.
"Nisa, bangunlah. Cepat minum obat."
Bima menggoyang-goyang tubuh Nisa.
"Sejak kapan Kau berada di kamarku?"
"Minum obat?"
"Kau tidak macam-macam bukan?"
"Aku tak tertarik padamu, minumlah obatmu."
Nisa terdiam dan bangun.
"Minumlah!" Bima meletakkan obat dan air minum di samping meja tempat tidur.
"Apa kau mendengar sesuatu saat Aku tidur?"
"Cepetlah minum! Aku tak mendengar apapun."
Nisa bernafas lega. Karna ia tahu kebiasaan buruknya itu sudah dari lama.
"Pintumu sudah Aku perbaiki."
"Tunggu!"
"Apa Kau akan kembali pada Delima?"
"Bukan urusanmu. Tidurlah."
"Apa Delima masih memiliki kesempatan jika ia berubah untukmu?"
"Ini sudah malam, jangan membantah. Berhentilah bertanya yang bukan urusanmu."
"Kau tidak perlu marah, Aku hanya menanyakan saja."
"Apa pentingnya Aku menjawab? Aku tak ingin memberitahumu. Apa kalian bersekongkol?"
"Dasar laki-laki ini, keterlaluan." gerutuk Nisa.
__ADS_1