
Katakanlah dia akan baik-baik saja hingga apapun yang dia perbuat sekalipun mengesalkan hati, akhirnya amarah itu padam juga.
Selebihnya rindu itu yang akan mengunggulkan segala rasa.
Tak lama terdengar kembali mesin mobil yang masuk ke grasi, setelah terdengar percakapan yang sesaat.
Langkah itu menuju tangga kamar.
Hening suasana kamar. Suara televisi masih menyala.
Lubi mengucapkan salam. Thubi membalasnya.
Kadang ia heran sendiri dengan sikap istrinya yang terkadang baik-baik saja seolah melupakan begitu saja perdebatan mereka.
Pada akhirnya saling melupakan namun jika ada salah satu yang memancing terlebih dahulu akan mulai kembali perdebatan.
"Dari mana?"
Thubi kali ini meletakkan majalah di meja kamar.
Lubi menunjukkan sepasang jaket couple dari bungkusan plastik.
"Aku baru inget dua hari yang lalu sempat pesan, tadi udah selesai, makannya aku keluar ambil jaket kita."
Thubi terdiam, sempat ia salah paham. Khawatir Lubi
balik ke rumah orang tuanya atau apalah...jadi ternyata cuma ngambil jaket couple.
__ADS_1
"Kenapa gak ngomong."
"Biar surprise..."
Lubi tersenyum.
Cepat-cepat Thubi menjatuhkan jaket dari Tari, dengan menggeserkan ke bawah ranjang tempat tidur mereka tanpa sepengetahuan Lubi. Tak ingin Jaket itu akan menjadi biangnya keributan ronde kedua.
"Cobain dulu..."
Lubi memberikan jaket berwarna pastel itu ke suaminya.
"Ok siap..." Thubi langsung menyetujui sebelum istrinya berubah mood kali ini.
Pas sekali jaket itu ia kenakan. Bolak-balik gaya depan belakang ia memperlihatkan di hadapan istrinya.
"Nggak kok...keren bener, makasih ya istriku."
Lubi menunduk sedih.
"Kamu kenapa murung?"
"Aku ngerasa bersalah...dan merasa menjadi istri yang lalai, kalau suamiku pake jaket pemberian wanita lain."
"Aku minta maaf gak maksud, itu kan jaket di pinjamkannya sebelum kita nikah."
"Makannya aku merasa bersalah, jika jaket itu masih kamu simpan."
__ADS_1
"Seharusnya aku yang ngomong gitu, sungguh gak ada maksud apa-apa, aku janji akan pulangin jaket itu secepatnya."
Thubi menggenggam tangan Lubi.
"Kita lupain ya masalah jaket itu..."
Thubi memeluk istrinya.
"Aku khawatir, sangat dilema..."
Thubi mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan istrinya kali ini.
"Apa yang mesti kamu khawatirkan..."
"Aku takut kamu direbut, dan kamu melepaskanku begitu saja, karna kita tak memiliki kenangan sama sekali...kamu banyak menyimpan kisah-kisah yang kadang setiap hari akan ada kejutan yang membuatku panik, khawatir dan dilema jika posisiku tergeser suatu saat."
Tangis Lubi kali ini tumpah.
Thubi meyakinkan Lubi, untuk memandang wajahnya kali ini.
"Tak ada yang perlu di khawatirkan, selagi kamu tetap mendampingiku sampai kapanpun."
"Kamu semakin jauh...sangat jauh untuk di terka, kadang aku lupa kalau kita sudah menikah. Tapi...sempat semuanya aku tak mengubris sama sekali tapi sama saja membohongi, jujur aku ngelakuin ini bentuk wujudku mempertahankanmu. Tapi aku bingung reaksi seorang istri yang kadang tak terlampiaskan namun sesak di dada."
"Apapun itu, semuanya butuh untuk proses saling memahami, belajar menebak suasana hati pasangan yang baru menikah dan harus ada komunikasi, jangan pernah menghindar atau kabur dari masalah. Ingat seburuk apapun kondisi pasanganmu, tanyakan dulu kebenarannya. bicarakan baik-baik. Dan terpenting tetap bertahan untuk hubungan kita selamanya."
**Thubi memeluk Lubi, dengan mempelihatkam jaket couplenya. Apapun pemberian istri pasti akan tetap aku hargai sampai kapanpun tak akan ada yang menggantikannya.
__ADS_1
Bersambung**...