Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 39


__ADS_3

Lubi kali ini kepalanya pusing, seingatnya ia tak telat makan atau apapun alasannya. Mungkin masuk angin biasa.


Namun kali ini tak kuasa ia berdiri pada akhirnya rebahan di sofa kamar.


Padahal hari ini jadwalnya mengisi rumah baru mereka.


Lubi menelpon suaminya sambil rebahan.


Tak di angkat mungkin sibuk atau ada rapat dadakan, Lubi hanya meninggalkan pesan. Hingga ia pun tertidur di sofa masih memakai pakaian kerjanya.


....


Matanya kali ini silau, sinar matahari begitu menusuk pandangannya hingga ia terbangun.


"Sudah jam sebelas?"


Lubi memejamkan matanya kembali.


Sulit untuk bangun kali ini, perlahan membuka matanya menatap ponsel yang ada di meja samping.


Beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya, kantor dan butiknya.


Lubi berusah untuk bangun, kepalanya pusing berat.


Tubuhnya begitu lemas dan Lubi membuka pintu kamar, langkahnya sempoyongan dan terpeleset menggelinding dari anak tangga lantai atas. Gelap tak ingat apa-apa lagi.


....


Ruangan putih itu, dan selang infus sudah menggantung.


Nampak laki-laki tertidur di sofa. Jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan malam.


"Kenapa bisa di sini?"


Lubi memegang kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kepalaku? sakit sekali?"


"Bi? kamu sudah sadar? tiga hari kamu tak sadar."


Thubi bangun mendekati Lubi.


memanggil dokter untuk memberi tahu jika Lubi sudah sadar.


"Jangan khawatir, janinmu kuat tidak apa-apa, kamu sedang hamil memasuki usia kandungan dua bulan."


Thubi mencium tangan istrinya.


Lubi melepaskan tangan Thubi.


"Kamu siapa? kenapa aku bisa hamil? apa aku sudah menikah?"


Lubi bertanya pada Thubi dengan heran dan kebingungan.


"Kamu gak mengenaliku?"


Semua terasa hampa dan tidak percaya. Apa karna benturan dikepalanya.


Dulu lima tahun lalu, Lubi pernah kecelakaan mobil


sempat hilang ingatan semua memori ingatannya terhapus. Kini terulang kembali.


Itu penjelasan dari dokter, tidak permanen namun membutuhkan waktu untuk membantu Lubi ingat kembali memori yang sempat terhapus.


Kini Lubi tak mengenali suaminya.


Hanya ingat dengan keluarganya.


"Di mana Adrian?"


Itulah pertanyaan meluncur dari mulutnya.

__ADS_1


Ingatan Lubi hanya sesampai ingatannya dengan Adrian, selanjutnya ia tak ingat lagi.


Thubi terpukul atas pengakuan tersebut. Namun mau tak mau ia harus mempertemukan Lubi dengan Adrian. Karna ingatan terakhirnya hanya dengan Adrian.


...


"Bersabarlah, bantu Lubi untuk ingat kembali."


pesan Mamahnya Lubi dengan Adrian.


"Kenapa ujian ini di saat Lubi mengandung?"


Thubi memukul pintu berkali-kali. Ia bagai orang asing di mata Lubi. Tak sedikitpun rekam jejak ingatannya tentang dia, sungguh terlupakan begitu saja.


Thubi harus menerima kenyataan ini untuk sementara


waktu.


Adrian terkejut mendengar pernyataan Thubi dari telpon, seburuk itukah kondisi Lubi. Namun hanya Adrian yang di ingatnya bukan suaminya.


Adrian hanya memejamkan mata, seolah banyak penghalang untuk menikah dengan Nisa, apakah ini pertanda? atau bagaimana dengan Tari dan Windi hubungan mereka mulai membaik.


Ditambah Lubi, begitu rumit dan berliku hingga akhirnya ia akan mengikuti alur kehidupan yang akan membawa kemanapun pelabuhan jiwanya.


Adrian harus membicarakan ini semua pada Nisa, dan Tari agar mereka tak salah paham ke depannya.


......


Thubi melamun kali ini, menatap Lubi dari luar ruangan yang di suapi Mamahnya.


Semuanya seakan hancur berantakan. Hatinya cukup sakit, kehadirannya tak di perlukan lagi oleh istrinya sendiri.


Apakah ini ujian pernikahan mereka?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2