Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 40


__ADS_3

Thubi mempersilahkan masuk Adrian ke ruangan rawat Lubi.


Meski apapun itu Thubi akan mengusahakan segala cara agar ingatan istrinya kembali.


Suasana hening Mamah masih duduk bersebelahan Lubi yang masih berbaring.


"Adrian?"


Begitu senangnya Lubi akan kejadiran Adrian yang begitu ia tunggu-tunggu.


Adrian tersenyum membawakan bunga dan buah untuk Lubi.


Lubi tersenyum namun sambil cemberut.


"Kamu melupakan bunga kesukaanku? kamu tidak ingat?"


Lubi tampak kesal dan meletakkan begitu saja bunga pemberian Adrian.


Sebelumnya Thubi memohon agar Adrian tak menceritakan apapun tentang pernikahannya dengan Nisa.


"Apa kabarmu? sudah baikan? makan?"


Adrian menatap piring yang ada di tangan Mamahnya semangkuk bubur yang masih tersisa.


Adrian mengambil alih dan menyuapi Lubi.


Thubi melihat adegan itu, namun ia harus bisa menahan perasaannya karna di ingatan istrinya hanya Adrian. Di paksa pun akan percuma.


Thubi hanya orang asing bagi Lubi saat ini.


Begitu lahapnya Lubi makan di suap Adrian.


"Aku mau pulang, bosan di rumah sakit ini."


rengek Lubi pada Adrian.


"Kamu jangan tinggalkan aku lagi." bola mata Lubi mulai berkaca-kaca.


Adrian menatap Lubi yang kali ini memasang wajah sedihnya.


Mamahnya kasian menatap Thubi yang hanya duduk menyaksikan percakapan istrinya dengan Adrian.


Mamahnya kali ini mengajak Thubi ke luar ruangan membiarkan mereka berinteraksi sejenak.


Thubi kali ini pasrah. Menurut saja demi kepulihan istrinya.


...

__ADS_1


"Bertahanlah, pengorbananmu akan membuahkan hasil."


"Sampai kapan?"


Pertanyaan itu meluncur keluar.


Mamah menggeleng lambat sekali.


"Kita pantau terus saja perkembangan Lubi, demi anak kalian."


"Aku akan terus mendampingi istriku, sekalipun keberadaanku tak di anggap."


"Kau akan bertambah sakit."


Thubi menggeleng.


"Apapun resikonya untuk penyembuhan Lubi tak masalah. Rasa sakit itu hanya sebentar."


Jelas Thubi menguatkan batinnya.


Hingga kadang ia akan terbiasa dengan sendirinya.


......


"Kenapa aku bisa menikah dan mengandung anak dari laki-laki tersebut, apa kau tahu ceritanya?"


"Kalian memang sudah menikah?"


"Kenapa kau membiarkan aku menikah begitu saja."


"Itu pilihanmu, pada saat waktu itu..."


"Bohong? apa karna kau ada perempuan lain?"


Adrian terdiam. Mencoba menutupi kenyataannya.


"Sudahlah, kau harus pulihkan lagi ingatanmu, dia suamimu begitu mencintaimu..."


"Tapi aku sama sekali tak mencintainya, yang ada dipikiranku itu kamu yang aku ingat...."


"Berusahalah untuk mengingatnya kembali..."


"Aku tak bisa, kepalaku akan sakit jika memaksa untuk di ingat kembali."


Adrian menenangkan Lubi sesaat.


"Perlahan kau mesti ingat semuanya..."

__ADS_1


Lubi terdiam memandang wajah Adrian.


"Ada yang kau tutupi, jujurlah padaku..."


Adrian menggeleng.


"Suamimu adalah cinta pertamamu sewaktu SMA..."


Lubi yang terpaku kali ini.


"Sekuat apapun pada saat waktu itu membujukmu... kau masih menunggu cinta pertamamu... dan kalian di pertemukan kembali. Terlihat dari wajahmu pada saat itu kau nampak bahagia pertemuan dengan cinta pertamamu yang begitu kau dambakan, sekalipun aku tak pernah kau berikan kesempatan. Tapi sudahlah itu masa lalumu."


"Kita bisa memulainya kembali..."


"Tidak semudah itu, kau sudah menikah dan sedang mengandung anak dari suamimu...jangan konyol, cobalah untuk berpikir jernih."


"Aku tak mencintai suamiku, dia asing bagiku. Sedikit kenanganpun tak ada yang membekas tentangnya...apa perlu setelah aku melahirkan kami bercerai dan kita bisa memperbaiki hubungan kita?"


Thubi yang tanpa sengaja membuka pintu mendengar percakapan mereka, sungguh batinnya tak enak. Namun ia harus bisa menyembunyikannya. Seperti tak mendengar apapun percakapan mereka barusan.


Adrian menatap Thubi dengan wajah tak enak hati.


"Aku pamit pulang, sudah malam..."


Adrian menutup perbincangan mereka.


"Besok kau ke sini lagikan?"


Tanya Lubi ke pada.Adrian.


Tak ada jawaban pasti dari mulut Adrian.


Thubi hanya tersenyum menyambut kepulangan Adrian.


"Aku pastikan tak akan merebut istrimu..." bisik Adrian ke telinga Thubi.


Thubi menepuk bahu Adrian.


"Terimakasih sudah datang..."


.....


"Dimana Mamah? aku ingin tidur bersama Mamah."


jelas Lubi singkat.


Thubi dapat memahami kondisi istrinya. Ia memanggil Mamah Lubi ke luar ruangan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2