
"Apakah Kau tak akan menyesal menikahiku?" tanya Bima di telpon.
"Jika Aku menanyakan itu padamu duluan apa yang akan Kau jawab? tanya balik Nisa.
"Kau ini, Aku menanya Kau malah bertanya balik." gerutuk Bima.
"Kau yang menyebalkan dua hari menikah, masih menanyakan pertanyaan konyol itu."
"Akukan hanya bertanya, kalau gak mau jawab tidak perlu beralih menanyakan balik."
"Behentilah memulai perdebatan, Aku sangat sibuk sekali."
Ucap Nisa mematikan ponselnya langsung.
"Kau sudah berani sekali menutup teleponku tiba-tiba." geram Bima.
................
Sorenya mereka mencoba pakaian, untuk dua hari lagi mereka akan menjadi pasangan yang sah.
"Jangan terburu-buru melepaskannya, Kau bisa merusaknya jika terlalu memaksakan begitu." Bima kali ini protes pada Nisa yang sibuk memasang buka berkali-kali gaunnya.
"Aku mencoba memastikan ukuran gaun ini masih membingungkan, jika Aku terlalu banyak makan akan sempit dua hari lagi memakainya." jelas Nisa.
"Puasa saja selama dua hari ini." Bima memberikan komentar.
"Aku terlalu repot mengurus kesana-kesini. Kau coba ringan kan bebanku sedikit."
"H-1 Aku baru bisa cuti."
"Dasar tidak mau mengalah."
"Aku kurang paham mengenai pernak-pernik pernikahan."
"Ayolah menjadi supirku kesana-kemari tidak akan merepotkan."
"Aku bukan hanya akan menjadi supirmu saja bukan? selanjutnya Aku yang akan terus mengantar jemputmu kemanapun."
Nisa tersenyum di paksa.
.....
__ADS_1
"Kenapa Aku mulai gugup, bahkan nafsu makanku menurun. Apakah calon pengantin pernah mengalami yang sama?" tanya Nisa menelpon sahabatnya.
"Baguslah Kau tak perlu mengkhawatirkan berat badanmu mengenai gaun yang akan Kau pakai nanti."
"Bukan itu sebenarnya yang Aku cemaskan."
"Kau jangan banyak berpikir. Lewati saja masa-masa itu dengan santai. Pejamkan matamu, tidurlah. Kau telah menelponku dua jam." Andini langsung menutup telponnya kali ini.
Nisa bertambah kacau di kamar sendiri.
Muncul pikiran-pikiran yang tak akan pernah ia pikirkan malah terlintas.
................
Hari itu telah tiba mereka saling menguatkan dan melewati bersama. Untuk hari ini dan hari-hari ke depannya.
kedua orangtua, keluarga dan teman-teman ikut menghadiri janji suci Bima dan Nisa tak banyak yang membuat mereka khawatirkan, semuanya berjalan dengan normal dan lancar tanpa kendala apapun.
Setelah ijab kabul, pemasangan mahar dan foto bersama. Ramah-tamah dengan para tamu undangan. Hingga malamnya mereka kelelahan.
"Kau akan mengajukan bulan madu ke mana?" tanya Bima.
Nisa menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Aku masih akan mengurus kuliahku terlebih dahulu, tahap heregistrasi tak mungkin Aku menundanya." jelas Nisa agak sedikit mengecewakan Bima kali ini.
"Tapi hanya dua hari Aku akan dengan cepat menyelesaikannya." tambah Nisa lagi.
Bima memeluk istrinya sesaat.
"Selesaikan urusanmu. Baru kita menyelesaikan urusan kita untuk selanjutnya." bisik Bima menggoda Nisa.
....
Satu minggu terlewati mereka merencanakan honeymoon ke sebuah pulau menikmati kehidupan baru di sana dengan dua minggu penuh.
Nisa dan Bima telah mempersiapkan liburan mereka jauh-jauh hari. Berharap langsung mendapatkan keturunan dari liburan itu.
......
Tiga bulan sudah lewat masih di tempat praktek dokter kandungan yang sama. Ada tiga pasang kali ini menunggu bersamaan meski tanpa di sengaja. Mereka tertawa kompak saling berpandangan satu sama lain. Ternyata dunia ini terlalu kecil untuk di jelajahi. Meski kehidupan mereka sempat berliku dan membuat permasalahan di kehidupan mereka. Kali ini di waktu dan tempat yang sama pasangan itu di kumpulkan untuk memeriksa kehamilan mereka masing-masing.
__ADS_1
Suami-suami mereka asyik mengobrol. Di sudut lain ketiga calon Ibu itu setelah mengadakan pemeriksaan mereka kompak membuka amplop secara bersamaan. Foto USG itu menunjukkan hasil yang menakjubkan ketiga calon ibu itu ternyata kompak memiliki janin kembar di perut mereka.
Mereka saling berpelukan dan sempat foto bersama.
"Foto ini kelak akan kita tunjukkan pada anak-anak kita kelak, setelah mereka lahir di dunia." ucap Lubi mengatur posisi.
Kini di ikuti Nisa dan Tari tak kalah berpose.
"Karna apapun yang pernah kita alami ini skenario Tuhan sungguh menakjubkan. Di saat bersamaan kita di pertemukan kembali. Jangan lupakan ceritakan ini pada anak-anak kita kelak." Mereka foto bersama kembali.
**********Selesai****************
Terimakasih kepada pembaca setia MCP untuk dua bulan ini, alhamdulillah akhirnya selesai menuliskan akhir dari MCP. Mohon maaf jika ada kesalahan nama, pengetikan, waktu dan tempat.
Jangan lupa tetap vote koin/poin, like 5 boom rate, komentar positif tiap episode dan jadikan favorite**.
Jangan lupa follow Ig: zuzanaoktober.
Salam MCP**
__ADS_1