Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 34


__ADS_3

Lubi kali ini menatap Windi yang asyik bermain dari ruangan sebelah, namun Windi tak ingin menemui Lubi sama sekali.


Ibu Tari menemani Lubi diruangan samping.


"Sudah seminggu ini Tari bekerja di butik, kenalan Tante temannya."


Lubi meminum teh hangat sesaat yang telah di siapkan Ibu Tari di atas meja.


"Kenapa Windi tak ingin bertemu dengan saya, Bu?


Ibu Tari terdiam memilih kata yang tepat untuk mencerikan semuanya.


Akhirnya dengan segala apapun resikonya Ibu Tari menceritakan itu semua. Ia tak ingin Lubi salah paham.


Setelah mendengar penjelasan Ibu Tari langsung.


Lubi dapat memahami posisi Tari saat ini.


"Begitu kasihan Tari harus menghadapi semua ini."


"Memang dari dulu sudah tersakiti, sekarang ia harus menerima kenyataan pahit."


Lubi mengelus tangan Ibu Tari.


"Semua akan baik-baik saja, Bu. Percayalah..."


Air mata itu tumpah juga tak bisa terbendung lagi.


"Aku hanya ingin melihat Tari dan Windi bahagia, cukup itu saja."


Lubi mengangguk dapat memahami hati dari seorang ibu.


"Bicarakan baik-baik dengan Tari, mungkin ada solusinya. Apakah ayahnya sudah pernah melihat Windi?"


Ibunya kali ini menggeleng dengan keras.


"Tak ada yang peduli, Tari harus menanggung kenyataan pahit ini."

__ADS_1


Lubi akhirnya serba salah ia tak ingin membuat Ibu Tari bertambah berduka.


"Tenanglah, Bu... mungkin Tari sedang berjuang mencari solusi yang terbaik untuk anaknya kelak."


Ibu Tari kali ini hanya menunduk lesu, Lubi merasa bersalah atas kejadian ini semua.


Batinnya berduka mengetahui berita tersebut. Ternyata Tari menyimpan luka lama itu seorang diri.


....


Lubi pulang ia menceritakan semua itu kepada suaminya.


Thubi terdiam sesaat. Bagaimanapun juga ia pernah menjadi mantan bos Tari.


Tapi serumit itu Tari menyimpan permasalahan hidupnya seorang diri.


"Apa yang mesti kita perbuat?" tanyaThubi ke pada istrinya.


"Menyatukan mereka." bisik Lubi.


"Aku yang akan membujuk Adrian. Sudah cukup ia menyia-nyiakan Tari dan putrinya Windi."


tegas Lubi.


"Jangan terlalu ikut campur dengan masa lalu mereka."


Nasehat Thubi kepada istrinya.


"Kasihàn Ibunya harus melihat anak dan cucunya menderita seumur hidup mereka."


"Tapi Adrian akan menikah dengan wanita lain, pikirkan pasangannya juga."


"Windi terlanjur membenci diriku, karna menganggap aku mencuri dirimu dari kehidupan Windi. Paling tidak aku akan menebus rasa bersalahku padanya."


Thubi terdiam sejenak.


"Jangan memposisikan dirimu dalam keadaan yang membahayakan."

__ADS_1


Lubi menggeleng.


"Aku hanya membantu Windi untuk menemukan ayah kandungnya."


"Tapi masih banyak cara lain untuk menebus kesalahan."


"Tenanglah..."


Lubi memberikan kode pada suaminya untuk mempercayainya kali ini saja.


.....


"Aku ingin menemuimu..."


jelas Lubi di telpon dengan Adrian.


Adrian terkejut dengan tiba-tiba Lubi menelpon dirinya untuk mengajak bertemu.


Meski masa lalu mereka dulu tak sempat jadi menikah. Namun hubungan mereka tetap berjalan dengan baik.


"Temui aku di taman bunga." jelas Lubi kepada Adrian melalui sambungan telpon selulernya siang ini.


...


Sore itu cuacanya cukup mendukung. Adrian sudah menepati janjinya namun Lubi belum nampak. Adrian duduk dengan santai namun tak lama muncul seorang wanita dan bersama anak kecil dihadapannya kali ini.


Sungguh Adrian begitu terkejutnya.


Moment ini sepertinya sengaja Lubi rancang supaya terlihat ketidaksengajaan.


Adrian menelpon Lubi sesaat namun sengaja Lubi sudah mematikan ponselnya.


Adrian terdiam, ia harus menghadapinya seorang diri kali ini.


Bagaimana ia harus menegur terlebih dahulu mertua dan anaknya yang masih berdiri di hadapannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2