Menikahi Cinta Pertama

Menikahi Cinta Pertama
Episode 46


__ADS_3

Seandainya untuk mengulangi kejadian mimpi itupun tak akan sanggup. Terpikirpun tidak Lubi masih terpaku untuk melupakan apa yang pernah di alami sebelumnya.


Tiket pesawat itu masih tergeletak seolah menari-nari atas trauma Lubi yang baru saja meluap.


Jika kepergiaannya akan membawa kesengsaraan untuknya kelak, Lubipun masih terpikir jika diam-diam takut kehilangan suaminya semenjak mimpi itu.


Mata mungil Lubi kini menatap foto pernikahan mereka dan kini ia di kejutkan suaminya membawakan jus buah dan makanan ringan.


"Kenapa trus di liatin tiketnya, kalau ragu juga gak apa-apa, mungkin nanti setelah melahirkan."


Saran Thubi duduk di samping Lubi.


Lubi mengangguk.


"Maaf ya bukannya menolak ajakan, hanya kondisinya belum memungkinkan."


Lubi belum berani untuk menceritakan mimpinya pada Thubi.


Dengan menggigit bibirnya kali ini, Lubi tak ingin menimbulkan kesalah pahaman kembali.


"It's ok, never mind."


Thubi langsung mengelus kepala Lubi spontan.


Lubi agak canggung dengan kedekatannya.


Thubi menatap jemari manis Lubi yang masih belum memakai cincin pernikahan mereka.

__ADS_1


Tapi Thubi tak ingin membahasnya. Karna akan merusak suasananya.


"Sudah pulang? atau?"


"Oh itu, mau kasih kejutan, tapi ya udahlah."


Thubi tersenyum tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Gimana udah enakan? atau mau di antar keluar? jalan-jalan?"


Lubi menggeleng pelan. Namun ia dapat melihat rona wajah suaminya yang tak ingin meninggalkannya seorang diri.


Tak berani ia mengatakan basa-basi untuk sekedar di temani, sebenarnya Lubi belajar untuk mencoba menerima suaminya. Meski ia harus menahan setiap ucapan dan gerak-geriknya.


Kondisi naik turun moodnya yang belum stabil apa karna sedang perubahan horman di dalam tubuhnya dalam masa kehamilan.


Thubi kali ini mencoba menggulung bajunya untuk memudahkan ia menyuapi Lubi.


"Jangan tolak ya aku suapi."


sendok itu sudah menunggu di depan bibir Lubi.


Terpaksa Lubi membuka mulutnya. Mengalah untuk membiarkan itu semua terjadi meski agak canggung.


"Harus banyak makan buah, untuk anak kita." jelas Thubi menyuapi kembali.


Lubi hampir tersedak mendengar ucapan suaminya kali ini, entah karna geli atau apa?

__ADS_1


"Kenapa? ini minum dulu."


"Kenapa kamu masih baik, padahal aku sudah mengacuhkanmu?"


"Kamu masih istri sahku dan mengandung anakku." jelas Thubi tersenyum.


"Sama sekali tak marah? atas perlakuanku?"


"Tidak ada alasan untuk itu, pelan-pelan ingatanmu akan pulih kembali."


"Seyakin itu, aku bisa kembali seperti dulu? alasannya?"


"Karna aku sudah memilihmu menjadi Ibu dari anakku."


Lubi kali ini terdiam, entah kali ini ucapan suaminya begitu mendobrak seluruh kecemasan Lubi karna ingatannya yang belum berpihak pada pernikahannya.


"Perlahan kau akan menerimaku menjadi suamimu yang utuh seperti dulu, hanya masalah waktu dan keberuntungan saja. Mungkin Tuhan sedang mendengar harapan ini."


Thubi menggenggam tangan istrinya kali ini, ia mencium punggung tangan yang hangat itu.


"Beri aku kesempatan untuk masuk kembali dalam pikiran dan hatimu, percayalah rasa cintaku lebih kuat untuk mengobati ingatanmu. Jika kau memberikanku kesempatan, izinkan aku masuk kembali dalam kehidupanmu. Demi pernikahan kita dan anak yang ada di dalam perutmu."


Thubi kali ini mencium kening istrinya.


Lubi terdiam, terpaku dengan ucapan suaminya. Mungkin sudah saatnya ia membiarkan itu terjadi, mengubah segala kecemasan dan pikiran untuk masuk kembali di kehidupan ingatan yang menguncinya bahkan tak bisa mengingat apapun lagi.


Lubi mengangguk dan membalas pelukan suaminya kali ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2