
"Kenapa Nenek memberitahukan pada cowok itu? kalau aku ke sini karna gagal menikah?"
"Maksud kamu sama Bima? ya gak apa-apa."
Nenek kali ini tersenyum seperti menganggap kisah Nisa jadi bahan bercandaan.
"Jadi namanya Bima?"
"Kalian belum kenalan?"
"Mana ku tahu, cowok menyebalkan. Memangnya siapa dia Nek?"
"Nanti juga tahu."
"Nenek sama Bima sama saja, menyebalkan."
"Kamu ini marah-marah terus, pantes Bima jutek sama kamu."
"Gak penting terserah dia mau jutek, kesel yang pastinya, dia sudah buat perutku
mules semalem. Gara-gara jebakan cabenya. Awas saja akan ada pembalasan."
"Kamu gak lanjut studi lagi, lanjutin magister kamu, Nisa."
"Gak semangat, Nek."
"Pekerjaan kamu?"
"Keluar, mau mencari suasana baru."
Nisa kali ini tiduran di pangkuan Neneknya.
"Nenek gak pernah patah hati, saat mulai percaya sama cowok yang akan di jodohkan.
Malah ketikung masa lalunya. Sakitkan?"
"Dari pada terlanjur sudah menikah? lebih baik sebelumnya kan ketahuan."
"Iya juga sih, tapikan sama saja menyakitkan."
"Di jadikan pembelajaran saja."
Nisa terdiam menatap langit-langit ruangan saat ini mungkin dia hanya perlu waktu dan
berhenti memikirkan masa lalunya.
"Besok Nenek berkunjung ke teman lama Nenek. Kamu mau ikut?"
"Nenek akrab banget sama temen lama Nenek yang baru pindah dari Turki itu ya? kenapa
dia gak di suruh nginep di sini saja."
"Dia masih berduka, suaminya baru seminggu meninggal. Suasana hatinya kacau dan kesepian."
"Dia di sini tinggal sendiri, cucunya masih menyelesaikan pekerjaannya di Malaysia. Seumuran sama kamu. Namanya Delima. Dua hari lagi dia pulang, paling tidak Nenek harus menemaninya dulu sampai cucunya datang. Gak apa-apakan?"
Nisa mengangguk, merelakan Neneknya demi sahabat Nenek itu.
"Nenek gak punya motor ya, susah kalau mau keluar."
"Kamu gak bisa pake mobil?"
Nisa menggeleng pelan, murung.
"Kamu minta anter aja, sama Bima atau nitip sebelum dia pulang dinas? ada kan nomor
ponselnya?
Nisa menggeleng lagi. Nenek memberikan ponselnya ke Nisa.
"Catet aja nomornya ke kontakmu."
"Nggak ngerepotin ya Nek? Bima kan rada jutek sama Nisa."
"Ya gak apa-apalah, baik kok anaknya."
"Kok bisa Bima tinggal di sini Nek?"
"Panjang ceritanya. Nenek siap-siap dulu, nanti Bima pulang. Sekalian minta anter dia."
Nenek beranjak bangun dan meninggalkan Nisa yang masih duduk menatap layar ponsel Neneknya.
Mungkin gak apa-apa kali kalau urgent, Nisa mengetik dan menyimpan nomor kontak Bima di ponselnya.
..................
"Serius, jam segini belum mandi? dari tadi ngapain aja? mau jadi ikan asin."
Bima menatap dari kaki sampai kepala Nisa yang masih asyik guling-guling di sofa.
"Ampun deh, pantes di tinggal sama calon suamimu. Mana ada yang mau?"
Nisa langsung berdiri menatap tajam ke arah Bima.
"Aku gak pernah minta penilaian, komentar atau pun saran dari kamu? gak usah sewot, emang aku pernah nyampuri kehidupan pribadimu. Mending buruan anter Nenek. Gak penting."
"Dibilangin, malah sewot."
Nisa berlalu dari hadapan Bima yang baru pulang masih berpakaian dinas.
"Gak jelas banget itu cewek, masak se-frustasi itu gara-gara di tinggal calon suami.
Sampai-sampai gak mandi?"
Bima geleng-geleng kepala.
Nenek sudah siap dengan tas pakaiannya.
"Kenapa lagi?" tanya Nenek.
"Aneh, bisa ya tahan gak mandi seharian?"
"Oh, Si Nisa. Biarin aja. Dia lagi pengen sendiri. Menikmati kekacauan hidupnya. Sehari-dua hari bakal baik sendiri. Dari dulu emang gitu anaknya."
Bima geleng-geleng kepala, membawa tas pakaian Nenek.
"Kenapa gak di ajak aja Nisa, Nek? supaya dia gak makin down? di sini pasti berantem
terus sama dia."
"Dia gak mau, katanya mau menikmati kekacauan hidupnya."
"Emang aneh itu cewek."
Bima mengantar Neneknya di garasi samping, memasukkan tas ke dalam mobil dan membuka
pagar.
"Kemana Bibi?" tanya Nenek.
"Anaknya tadi telepon, izin gak masuk hari ini lagi demam."
"Kalau gitu suruh Nisa aja nanti belanja untuk keperluan kalian."
"Mana mau itu anak di suruh belanja, sibuk belum move on dari masa lalunya."
Bima mengeluarkan mobil dari garasi menuju pagar depan, dan kembali menutup pintu pagar.
.......................
Sepulang di rumah mengantar Nenek Bima menaiki tangga menuju kamar
Dia melihat Nisa sudah rapi dan berbeda dari sebelumnya.
"Anterin ya, Nenek tadi nelpon di suruh belanja."
Bima memberikan kunci mobil.
"Aku gak bisa pake mobil."
"Naik taxi-on line, atau ojek-on line aja."
"Nenek bilang tadi kalau keluar harus minta anter kamu, nanti aku di culik gimana? aku
masih belum hapal jalan di sini."
"Nanti sore aja, aku capek. Baru pulang belum ganti baju dari nganter Nenek. Mesti nganter
kamu lagi." ketus Bima masuk ke kamar tanpa memperdulikan Nisa yang sudah
rapi dan siap pergi.
"Bima..."
Nisa mengetuk pintu berkali-kali.
"Ada apa lagi? kan udah di jelasin nanti sore."
" Aku maunya sekarang, nanti sore bisa masak. Biar malemnya gak kelaperan lagi."
"Keras kepala banget dibilangin, gak paham ya?"
Bima membanting pintu menutup pintu kamarnya.
"Bima..." pekik Nisa mengetuk pintu lagi, namun kali ini tak di hiraukan Bima.
Nisa manyun kali ini. Dasar egois, kalau aku bisa pake mobil sendiri, gak bakal juga minta tolong dianterin.
Terpaksa Nisa membuka aplikasi taxi-on line.
Sore pun tiba, Bima ketiduran di kamar, suasana sunyi dan sepi. Tak terdengar ketukan lagi dari Nisa. Bima keluar kamar di lihatnya kamar samping sepi. Ia menurunin anak tangga berharap ia dapat menemukan Nisa. Namun wujudnya tak nampak. Bima menatap layar ponselnya. Ingin menelpon namun sekali lagi ia lupa kalau Bima
tak menyimpan nomor ponsel Nisa. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu. Jika menelpon Nenek pasti kena marah karna sore Nisa belum pulang.
Bima menunggu di teras depan, setiap ada ojek dan mobil berhenti ia lihat, namun
wujud Nisa belum muncul. Jam sudah menunjukkan jam lima sore lebih.
__ADS_1
"Kemana sih itu anak, sekalinya keluar gak inget waktu."
Bima keliling muter-muter di jalanan sambil liat kanan kiri namun nihil wujud Nisa tak di temukan. Karna hari sudah gelap Bima memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampai di rumah lampu rumah menyala dan terang. Pintu terbuka.
Bima mulai siap-siap ngomel. Begitu kesalnya dia hari ini ingin melepaskan kekesalannya
pada Nisa.
Deg, Bima langsung masuk ke rumah. Namun ia terkejut di ruang tamu sudah ada Delima dan
Nisa yang menyiapkan teh hangat.
"Dari mana saja? kenapa di hubungi gak bisa? buat orang kesal saja." Bima
menatap tajam ke arah Nisa.
"Kan dari belanja, naik taxi. Maaf baterai handphone habis. Jadi mati total."
Bima mengalihkan pandangan ke Delima.
"Ngapain lagi ke sini?"
"Udah dong, marahnya." Delima mendekati Bima.
Nisa masuk ia tak ingin mendengarkan mereka berantem untuk kedua kalinya. Namun tertarik untuk mengintip dari ruang tengah
"Udah malam, mending pulang. Gak enak sama tetangga, jam segini masih ada tamu cewek
di rumah."
"Tapi udah gak marah lagikan?"
"Aku gak mau bahas lagi masalah itu, sekarang pulanglah."
Delima sudah tak bisa berkata-kata lagi, ia meletakkan box makanan di atas meja.
"Bawa pulang aja, mubazir. Kemarin aku buang ke kotak sampah gak kemakan."
Delima terdiam ingin memaksa Bima untuk menerimanya juga percuma.
"Saat ini, kita gak ada hubungan lagi. belajarlah untuk melupakan satu sama
lain."
Bima kali ini tak memperdulikan Delima lagi.
Nisa kepergok mendengar percakapan mereka.
"Masih sempat-sempatnya nguping ya? gak ada kerjaan."
"Nggak, cuma mau bilang makanan udah siap di atas meja makan."
"Nggak laper."
Bima masuk menaiki anak tangga.
"Ya udah kalau gak mau makan, gak di makan juga gak apa-apa. Heran bikin kesel trus. Siapa peduli."
Nisa menatap Delima yang pamit pulang. Nisa mengantarkan di depan pagar rumah.
..............
Nisa menonton televisi, di ruang tengah dengan cemilan bakwan udang dan saos yang ia
buat tadi sore. Dengan tumpukan novel dan komik di atas meja.
Bima menatap Nisa dari lantai atas. Tanpa sengaja juga Nisa menatap bersamaan ke arah Bima.
Bima memalingkan pandangan ke arah lain. Bima menurunin anak tangga.
"Kalau mau makan masih ada di meja makan."
"Nggak ah, nanti kamu balas dendam lagi."
"Ngapain juga mau balas dendam, capek."
Nisa asyik ngemil bakwan udang dengan fokus menonton drama korea favoritnya.
Bima duduk di samping Nisa.
"Apa bagusnya drama korea?"
"Sama halnya kalau aku nanya ke kamu? apa enaknya main bola kaki?"
"Tahu dari mana aku suka bola kaki? sok tahu."
Bima mengambil bakwan udang juga.
"Itu bukan jawaban?"
"Lalu?"
"Delima cerita apa aja ke kamu?"
"Gak ada?"
"Dibilang gak ada, ngotot banget sih. Ganggu orang nonton aja."
"Kamu kenapa putus sama calon suamimu."
"Di bilang ketikung masa lalu."
"Masa lalu gimana?"
Nisa noleh ke arah Bima.
"Sejak kapan perhatian sama masalah pribadiku?"
"Sejak hidup kamu itu merepotkan orang lain."
"Nah kamu sendiri kenapa di selingkuhin?"
"Malah balik nanya. Gak penting bahas itu."
"Ya udah masalahku juga gak penting untuk di bahas."
Ngeselin banget nih cewek, umpat Bima
“Aku denger lho yang barusan kamu ngomong. Udah deh kita jangan saling ganggu.”
“Ok, fine. Awas kalo minta bantuan.” Bima meninggalkan Nisa.
Jam sudah menunjukkan sepuluh malam, lagi asyik-asyik nonton lampu padam. Deg, Nisa terdiam. Ponselnya lupa ia cas. Nisa menangis. Menatap sekeliling. Mana mungkin ia jerit minta tolong Bima. Minta di ambilkan lilin atau apalah untuk penerangan. Nisa berjalan meraba-raba, ia menahan rasa takutnya. Dengan mengendap-endap ke
dapur.
Brukk.
Nisa menabrak tubuh seseorang. Bima menyinari dengan hand phone wajah Nisa yang terkejut.
“Kenapa? butuh bantuan tapi gengsi ya?”
Nisa diam wajahnya pucat. Menggeleng. Masih terduduk di lantai.
Bima mencari lilin meninggalkan Nisa yang masih kaku terdiam.
“Kamu kenapa?”
Bima menyinari posisi Nisa yang duduk membungkuk menutup kedua matanya dengan
lututnya. Tangan Nisa dingin kali ini. Bima membantu Nisa untuk berdiri. Begitu lemasnya Kaki
Nisa untuk menguatkan langkahnya.
“Kamu duduk dulu di sini, Bima mendudukkan Nisa di kursi makan.”
“Kamu pegang senter hand phone ini.”
Bima menyerahkan ponselnya kali ini ke tangan Nisa.
Nisa masih dingin kaku hanya mengangguk.
“Kayaknya lampu padam akan lama.”
Bima sudah mendapatkan lampu darurat. Menoleh ke arah Nisa.
“Kamu lupa mengisi daya hand phone kamu ya?”
Nisa mengangguk.
“Dasar ceroboh.”
“Kamu bawa hand phone aku aja tidur ke kamar.”
Nisa menggeleng.
“Kenapa lagi, ini udah malem. Besok aku harus dinas. Lebih baik kamu masuk kamar.”
Nisa menggeleng lagi dengan kaku.
“Jangan bilang kamu penakut gara-gara gelap? kan ada senter di tangan kamu. Aku capek
mau tidur.”
Bima menaiki tangga tidak memeperdulikan Nisa yang masih duduk.
Satu jam, dua jam menunjukkan pukul dua belas. Bima memeriksa ke bawah. Ia masih
menatap Nisa masih duduk di kursi makan dengan menutup kedua matanya dengan
tangan yang di silangkan di atas meja. Nisa duduk membungkuk.
Bima turun menyentuh pundak Nisa. Sontak Nisa terkejut menjerit hampir terjatuh dari
kursi. Keningnya kini membentur kaki meja.
__ADS_1
“Kamu ini kenapa sih? apa yang di takutkan?”
Nisa mengelus keningnya. Ia berusaha berdiri dengan meraba-raba memegangin meja
makan.
Bima membantu Nisa mengajaknya menaiki anak tangga. Menuju kamarnya.
Nisa sudah berada di atas ranjang. Bima melepaskan tangan Nisa.
“Sekarang kamu tidur!”
Spontan Nisa memeluk tubuh Bima, makin erat dan erat.
“Kamu jangan pergi ya...”
Bima berusaha melepaskan dekapan Nisa.
“Kamu jangan gila, jangan manfaatkan kondisi. Jangan jadi cewek gampangan.”
Tubuh Nisa tersungkur ke kasur. Nisa menangis.
“Kenapa kamu nangis. Jangan kayak anak kecil! berhenti merengek. Aku laki baik-baik gak
gampang di goda.”
Bima meninggalkan Nisa begitu saja. Menutup pintu kamarnya.
Nisa merangkul kedua kakinya ia menutup kedua matanya.
Ada-ada aja, kenapa jadi gampangan gitu
dasar cewek. Emang kira aku bakal tergoda.
Bima masuk ke kamarnya.
Besoknya Bima pagi-pagi mesti apel pagi, ia melihat kamar Nisa masih tertutup dan sunyi.
Bibi sudah datang memasak sarapan pagi.
Sampai siang dan sore Nisa gak keluar kamar sekali. Habis pulang kerjapun Bima tak melihat sosok Nisa.
“Kemana Nisa Bik?”
“Demam, semalam gak bisa tidur katanya. Tapi sudah minum obat.”
“Apa gak tidur semalaman hanya karna lampu padam? kelewatan manja melebihi anak
kecil.” gerutuk Bima.
“Tapi kayaknya memang serius, malah Nisa nyuruh Bibik nginep malam ini untuk tidur
sama dia.”
Jelas bibik membawakan makan malam Nisa ke kamar.
“Berlebihan banget, mana ada cewek sepenakut itu?”
..........
“Bibi...Bibi,
nanti setrikakan seragam aku untuk besok?”
“Tapi, di suruh nemenin Nisa. Nanti bibik setrika di dalam kamar Nisa aja.”
Bibi mengambil pakaian seragam dari tangan Bima.
“Maunya apa sih itu cewek, kelewatan banget ngerjaian orang tua.”
Bima masuk ke kamar langsung menarik selimut Nisa.
“Ayo bangun jangan manja, dikit-dikit ngerepotin Bibi melulu, berlebihan banget.”
Bima menatap lutut Nisa lebam.
“Kenapa kaki lebam gitu?”
“Semalam katanya Non Nisa terjatuh dari ranjang.” jelas bibi
Nisa hanya menahan sakit lebam itu.
“Kenapa gak di urut atau di obatin?”
Nisa menggeleng meringis.
“Takut sakit di urut.”
“Jangan kayak anak kecil?”
Bima langsung menarik tangan Nisa.
“Ayo di anter ke tukang urut.”
“Aku gak pernah di urut.” ucap Nisa pelan.
“Jangan di paksa. Kasian Non Nisanya.” Bela bibik.
“Alah, jangan di bela. Lebay kebiasaan di manja. Buruan bangun di urut. Kalau berkurung di kamar mana sembuh.”
Nisa berusaha bangun, ia tertatih di bantu berdiri oleh bibiknya. Berjalan menuruni
anak tangga. Bima sudah menunggu di dalam mobil.
“Bibi ikut ya.” rengek Nisa yang sudah duduk di dalam mobil.
“Gak perlu. Buruan di tutup pintu mobilnya, stop buat drama kayak anak kecil.” ketus
Bima.
Nisa diam di dalam hanya menunduk menahan kesakitan.
“Gak mau kan nahan sakit trus semalaman?”
Tiba di tempat Mbah urut, Nisa ragu-ragu mendekat.
“Tidak sakit, cuma membenarkan salah urat kakinya.” Bisik Mbah itu sambil mengunyah pinang.
Nisa menarik tangan Bima sesaat.
“Mending pulang aja, dua hari nanti baikan lagi.”
“Gak boleh, dari pada tengah malem ngerengek kesakitan.”
Bima mendudukan Nisa di hadapan Mbah urut.
“Gulung celananya.” perintah Mbah mengambil minyak yang baunya sudah semerbak. Nisa sudah
mual di buat aroma minyak urut Mbah.
Nisa tidak bisa menolak, mata Bima sudah melotot memegangi kaki Nisa yang mau kabur.
Dengan sekuat tenaga Mbah mulai mencengkram kaki Nisa. Mulai lah adegan urutan
menyakitkan itu hingga sampai ke tulang kering cengkraman menari urat itu.
Nisa spontan memeluk Bima. Sebenarnya Bima risih, namun demi Nisa diam dan patuh
menuruti perintahnya.
“Istrinya ya, Pak. Baru menikah ya kalian?” tanya si Mbah.
Bima bingung mau jawabnya.
“Nanti saya benerin ya kantong rahimnya sekalian, biar cepet punya anak. Tapi setelah urat
kakinya bener dulu.”
Nisa tak berani menatap Bima yang langsung bingung dengan ucapan Mbah.
“Nah sudah, besok juga gak sakit lagi. Sini muter pake kain, Mbah benerin kantong
rahimmya.”
“Nggak perlu Mbah.” cegah Nisa bingun.
Enak banget Bima ngeliat aku pakai kain, umpat Nisa
“Sekalian mumpung ke sini.”
Nisa menggeleng langsung menarik Bima, sebelum Si Mbah berprasangkan yang
bukan-bukan tentang mereka.
Setelah memberikan amplop, Bima dan Nisa langsung pulang.
Bima membantu Nisa berjalan masuk ke dalam mobil.
"Padahal senengkan di anggap kita sepasang suami istri?" sorot mata Bima menatap selidik ke wajah Nisa
Nisa cuek tak memperdulikan godaan Bima.
"Eh siapa juga yang mau."
"Ntar nyesel, kan ngebet banget mau merried gak ke sampean."
Plakk.
Nisa memukul kepala Bima sesaat.
"Jangan kelewatan kalau bercanda. Permasalahanku bukan lelucon untuk di ungkit."
Nada suara Nisa kali ini meninggi.
"Dan denger ya gak semua cewek itu murahan, dan semalem aku refleks minta peluk itu karna..." ucapan Nisa terhenti.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kamu gak perlu tahu."
Bersambung...