
Lubi kali ini berpura-pura memejamkan mata, membayangkan pemberitahuan batinnya untuk melanjutkan kehidupannya bersama suaminya. Belajar menerima dengan pemahaman dari orang-orang di sekitarnya.
Canggung dan kadang berantakan dalam pemilihan kata-kata untuk memulai percakapan dengan suaminya, entah semua itu adalah bagian dari proses.
Kiss.
Thubi mencium kening istrinya. Lubi memejamkan matanya. Ia tak ingin merusak suasana hati suaminya. Kadang sempat ia berpikir ingin membiarkan suaminya jika ia masih terjaga namun berpura-pura tidur.
Lama Thubi menatap wajah istrinya, mungkin ia akan pasrah jika istrinya masih bersih keras berusaha untuk mempercayai ingatan terakhirnya mengenai tentang Adrian. Karna sekuat apapun ia mencoba akan sama halnya menggarami air laut itu sendiri. Percuma saja.
Thubi memeluk istrinya dari samping, ia tak ingin melepaskan istrinya terpuruk dalam ingatan yang akan merugikan pernikahan mereka.
"Semoga kita selalu bersama, hingga menua bersama dengan anak dan cucu kita kelak. Berusahalah untuk mengingat bahwa suamimu akan berusaha untuk mengupayakan pernikahan kita, kumohon bantulah pernikahan kita untuk selalu utuh."
Bisik Thubi ke telinga istrinya. Mata Lubi kali ini mulai panas dan perih, sebisa mungkin ia menahan air matanya untuk tidak keluar.
Thubi mengelus-elus perut istrinya.
"Anakku, bantu Ayah untuk menjaga Ibumu, kelak saatnya kau hadir di dunia ini masih dapat melihat Ayah dan Ibumu masih bersama, kau maukan mendoakan untuk ingatan Ibumu? bisikkan pada hati Ibumu bahwa kehadiranmu bukti Ayah mencintai Ibumu dengan utuh."
Lubi mulai tak tahan dengan bisikan suaminya yang begitu sekuat itu untuk cintanya dan pernikahan mereka.
Bodoh jika ia masih memikirkan untuk menyia-nyiakan suaminya kali ini.
"Bantu aku untuk mengingatmu..."
Lubi kali ini membalikkan badan ke arah wajah suaminya.
"Apakah kau tidak tidur dari tadi? dan mendengarkan ucapanku barusan."
Lubi mengangguk mengiyakan.
"Cintamu terlalu dalam, kadang ku pikir bodoh jika menyia-nyiakan suami yang tulus sepertimu."
"Kau mau kita mengulang lagi dari awal?"
"Tentu saja, bantu aku untuk keutuhan yang pernah kita bangun dulu."
Thubi menatap jari manis istrinya yang telah memakai cincin pernikahan mereka."
__ADS_1
"Apa mataku baru menyadarinya?"
"Tentu, aku akan pakai cincin pernikahan kita."
"Bolehkan aku membuatmu jatuh cinta kembali?"
"Tentu saja dengan caramu yang dulu."
"Bahkan jika kau setuju."
Thubi memeluk istrinya, di bawah selimut mereka berciuman yang sangat lama.
"Apa kau mengingat honey moon kita dulu?"
"Kau masih memikirkannya untuk mengulang kembali?
"Kita bisa mengulang liburan kembali, jika kau menyetujuinya."
"Baby moon, sekaligus berpacaran."
Lubi mencubit pinggang suaminya.
"Mencium bibirku..."
Thubi senyum menggoda istrinya. Mendekatkan wajahnya sesaat.
"No...tidak mungkin?"
"Serius, sebelum tidur dan bangun tidur."
"Itu maunya kamu..."
"Mau aku praktekin?"
Lubi langsung menghindar ingin kabur, namun langsung di peluk suaminya.
"Kiss sayang..."
Sekuat apapun Lubi menghindar, Thubi lebih kuat memeluk Lubi untuk jatuh kepelukannya.
__ADS_1
"Katanya sore ini pindahan?"
Lubi mengalihkan pembicaraan.
"Berarti nanti malam ya?" goda Thubi
Lubi mencoba merenggangkan pelukan suaminya.
"Mencoba untuk membuatmu jatuh cinta kembali."
"Tapikan bisa dengan cara lain?"
"Bisa, tapi harus mendapat persetujuan dari anak kita." Thubi senyum mengelus perut istrinya.
......
Sore itu memang mereka pindah di rumah baru, sudah jauh hari Thubi mempersiapkan hal tersebut.
Lubi hanya duduk di sofa depan di temani Mamah, Papah, dan Ibu mertuanya.
"Kamu nanti walau sudah pindah sering-sering ke rumah Ibu sama Mamah, apa perlu Mbak Tini ikut kamu dulu untuk sementara waktu, jika suamimu kerja kan bisa ada bantu-bantu kamu kalau sendirian."
"Nanti Lubi omongin sama Thubi, gimana baiknya."
"Gak apa-apa ajak Mbak Tini untuk menemin kamu kalau aku kerja."
Sambung Thubi dari ruang tengah.
"Kamu lagi hamil, paling tidak ada yang jagain. Malam kan Mbak Tini bisa pulang."
"Iya kalau malam kan jatah suaminya yang jaga."
Goda Thubi senyum penuh isyarat ke arah Lubi.
Permainan mata mereka saling beradu.
Bersambung...
Bersambung...
__ADS_1