
Bima mendekati Nisa sesaat.
"Kau jemput Nenek masuk ke dalam cepat."
"Kenapa Kau tidak sendiri saja."
"Kau kan wanita, lebih akrab pastinya."
"Kau ini, jangan-jangan belum membicarakannya pada Nenek?"
"Belum sama sekali, he..." jelas Bima.
"Kau ini keterlaluan sekali, sudah membeli cincin tapi Nenek belum mengetahuinya sama sekali tidak. Kau ingin mempermainkan pernikahan kita?"
"Aku tidak bermaksud begitu, hanya belum memiliki waktu saja. Nenek tidak akan banyak berkomentar. Yakinlah."
"Jika Nenek tak menyuruh kita menikah?"
"Kau kan bisa mengeluarkan jurus andalanmu."
"Kau ini. Memangnya Aku separah itu?"
"Kau kan kebelet mau di nikahi? ha...ha..."
goda Bima menertawakan Nisa.
"Batalkan saja, Aku gak sudi di jadikan lelucon."
Nisa membanting pintu mobil kesal.
Bima mengejar Nisa.
"Serius ucapanmu barusan?"
Nisa terdiam.
Bima mendahului langkah Nisa.
"Apa yang ingin dia lakukan?"
.....
"Nek, Aku ingin menikahi Nisa."
"Apa tidak salah dengar? bagaimana Delima?"
"Kami sudah membeli cincin pernikahan."
"Kenapa terburu-buru begitu?" tanya Nenek gelisah.
Bima memandang Nisa sesaat.
"Sudah lama Bima ingin menikahi Nisa." jelas Bima langsung hening.
"Kalian bukan sedang bermain-main dengan rencana ini?"
Bima menggeleng pelan.
"Maaf, baru bisa sekarang memberitahu Nenek."
Nenek terdiam memandang Nisa yang tertunduk.
"Siapa yang memiliki ide ini duluan?"
Nisa menunjuk Bima langsung.
"Bima yang mengajak Nikah duluan Nek." jelas Nisa.
"Dan Kau menyetujuinya?"
Nisa kembali terdiam.
"Ingatlah, ini bukan pelampiasanmu karna masa lalu bukan?"
Bima dan Nisa berpandangan.
__ADS_1
"Kami akan belajar setelah menikah, Nek." ucap Bima.
"Apa ucapan kalian bisa di pegang jika suatu saat terjadi perselisihan diantara kalian berdua?" tanya ulang Nenek lagi.
Bima memberikan kode ke pada Nisa untuk membantunya menjawab pertanyaan Nenek.
"Iya Nek, kami ingin menikah. Dan tahu konsekuensinya ke depan."
"Temuilah orang tua Nisa!" suruh Nenek sesaat.
.....
Mereka menemui orang tua Nisa hari itu juga, setelah menetukan tanggal pernikahan dan resepsinya.
"Jangan Kau ingat lagi masa lalumu, sekarang Kau akan menikah denganku." ucap Bima.
"Kau tidak sedang bermain-main bukan? dalam pernikahan sakral kita? jangan berulah untuk mempermainkan, karna ini sudah menyangkut dua keluarga."
"Apa wajahku tidak serius sama sekali?"
"Aku hanya trauma."
"Aku peringatkan jangan menyamaiku dengan laki-laki masa lalumu. Berhentilah menyangkut-pautkan apapun itu."
Nisa mengangguk.
"Bisakah tidak memulai perdebatan lagi? jangan bertanya lagi tentang hal yang tidak jelas."
Nisa menatap Bima, wajahnya kali ini serius.
"Kau masih menyimpan foto kita dulu?"
Nisa mengangguk.
"Kau tidak malu menikahiku yang hanya orang asing yang di tolong Nenekmu? seorang diri dicampakkan ke dunia ini? Nenekmu terlalu banyak jasanya dalam kehidupanku. Hingga Aku bekerja saat ini."
"Jadi Kau hanya membalas kebaikan Nenek untuk menikahiku?"
"Awalnya setengah persen dari perasaanku balas budi dan selebihnya setelah ku pikirkan dengan matang. Perasaan masa kecil kita dulu yang menguatkanku untuk menikahimu."
sambung Nisa penasaran.
"Tidak perlu di perjelas, Aku tidak perlu menjabarkan satu persatu."
"Kau malu ya untuk mengungkapkannya."
"Sungguh Aku tak suka hal yang bertele-tele."
"Lakukan saja, biar perasaanku lebih mantap untuk di nikahi olehmu."
"Dasar wanita suka dengan hal yang rumit. Aku tidak mau."
"Sekali saja, Kau mengatakannya."
"Aku benci untuk memperjelasnya. Berhentilah membujukku."
"Kau sama sekali jauh dari kata romantis." keluh Nisa.
"Kau ingin di nikahi atau hanya di buai dengan ucapan-ucapan berlebihan itu."
desak Bima memperingatkan.
"Harus seimbang pastinya, bukan?"
"Kau terlalu banyak menonton drama halusinasi."
"Pemanis hidup, butuh juga keromantisan."
"Sebaiknya pikirkan segala sesuatu rencana kita, jangan terlalu banyak berkhayal."
"Dasar cowok kaku."
"Apa Kau bilang."
"Kehidupanmu terlalu kaku dan datar."
__ADS_1
"Hidupmu terlalu berimajinasi."
Nisa kali ini mengalah.
"Apa bisa Aku menikahi laki-laki seperti itu? membuat kehidupanku menjadi hambar."
......
Setelah mengubah sedikit gaun pernikahannya dulu dan menambahkan beberapa renda. Nisa bisa memanfaatkannya kembali gaun yang pernah ingin hampir dibuangnya.
"Pakai saja yang ada, itu lebih hemat dan efesiensi. Hanya satu kali di pakai seumur hidup." jelas Bima.
Bima hanya perlu memesan setelan jas hitam. Perayaan pernikahannya terbilang simple. Akad langsung acara resepsi.
Nisa harus berurusan kembali dengan pernak-pernik pernikahannya. Undangannya mesti di cetak ulang. Seluruh apapun itu Nisa menghandlenya. Karna Bima harus bekerja. Untuk mengambil cuti pekerjaan setelah menikah.
"Jika ada apa-apa harus diskusikan terlebih dahulu. Jangan mengambil keputusan sendiri." jelas Bima ke pada Nisa.
Nisa mengangguk mengiyakan.
Kali ini telepon Nisa bergetar, pesan masuk dari delima.
Yang ingin menemui Nisa sore hari itu juga.
Nisa tak memberitahukannya pada Bima. Mungkin Nisa sekalian akan bertemu dan bicara dari hati ke hati dengan delima.
......
Sore itu di restoran siap saji.
Nisa melambaikan tangannya ke arah Delima yang baru datang.
Delima menuju meja Nisa yang telah di pesannya terlebih dahulu.
"Duduklah, Kau ingin memesan minuman apa?" Nisa menawarkan.
"Ikut saja apa yang Kau minum."
Nisa memanggil pelayan dan memesankan minuman Delima.
Setelah pelayannya kembali ke belakang. Delima mulai bicara pada Nisa.
"Aku pikir kalian bermain-main dengan pertunangan itu, sempat Aku tanyakan pada Nenek."
"Semua ini terjadi secara begitu saja."
"Apakah itu alasan Bima menghindariku?"
Nisa terdiam memikirkan jawaban yang paling tepat. Agar Delima tidak salah paham.
"Awalnya foto masa kecil itu yang mengantarkan kami pada keputusan itu, ternyata ia menungguku telah lama, ia mendengar Aku akan menikah jadi ia mundur. Namun itulah takdir. Pernikahanku batal dan nasib membawaku ke rumah Nenek dan bertemu dengan teman kecilku dulu. Bima, tidak hanya sekedar teman dia ku anggap sebagai Kakakku juga. Karna Aku anak tunggal yang kesepian. Masa kecil kami melewatkan lima tahun bersama. Papah pindah tugas dan kami berpisah. Belasan tahun tak pernah bertemu dan terakhir kami di pertemukan kembali. Bima masih menyimpan foto kami kecil dulu. Dan Aku yakin dia masih menyimpan perasaan dulu sewaktu kami masih kecil."
"Kau telah duluan bertemu dengannya. Aku bisa apa? Semasa kami masih berhubungan sempat Aku terlihat foto kalian di dompetnya. Dia akan marah jika Aku banyak bertanya tentang foto itu. Ternyata gadis kecil itu adalah dirimu." jelas Delima.
Nisa tersenyum kecil.
"Kau memang sudah memiliki takdir bersamanya. Jikapun dipisahkan lagi, mungkin Bima akan terus mengejarmu. Belum pernah sama sekali seantusia itu mendengar kedatanganmu saat itu. Telepon Nenek memberitahunya. Padahal saat itu kami masih ribut-ributnya. Rona wajahnya berubah mendengar kedatanganmu ke kota ini."
"Seperti itu rupanya?"
Delima mengangguk mengiyakan.
"Kalian memang sudah di takdirkan bersama, jikapun bisa ku halangi tak akan berhasil lama."
Nisa menggenggam tangan Delima.
"Percayalah, Kau akan mendapatkan jodoh terbaik, jadikan pelajaran berharga itu untuk tidak Kau ulangi di kemudian hari. Aku selalu mendoakanmu."
Mereka berpelukan satu sama lain.
Jangan lupa vote koin/poin, komentar positif tiap episode, like 5 boom rate, jadikan favorite
follow ig: zuzanaoktober
Salam MCP
__ADS_1