
Hari yang di tunggu Mentari telah tiba ia sudah mempersiapkan diri, Mamah mertuanya sudah menerima kehadirannya dengan mempertimbangkan Windi yang tumbuh menjadi anak remaja. Adrian telah memakai jasnya dengan gagah dan rapi. Ia mempertanggung jawabkan masa lalunya untuk memperbaiki masa depan yang telah menunggu keluarga baru mereka kelak.
Nuansa outdoor itu sudah di penuhi bunga-bunga mawar bernuansa putih dan alam. Keluarga Mentari telah bersiap menuju ke tempat akad nikah yang akan di langsungkan. Tak banyak undangan yang di sebar hanya keluarga, teman dekat dan sebagian rekan kerja. Termasuk Thubi dan Lubi mendapatkan undangan dari mereka.
Dengan segala kesederhanaan dekorasi pernikahan mereka, Adrian melimpahkan keputusan langsung ke tangan Mentari untuk merancang acara, tempat dan keseluruhannya.
Hingga waktu yang di tunggu pun tiba dengan segala yang telah di persiapkan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mempermudah langkah mereka untuk membahagiakan Windi anak tunggal mereka.
Beberapa tamu mulai berdatangan dengan memenuhi acara mereka. Dengan khusyuk dan lancar tanpa kendala apapun perjanjian sehidup semati itu pun telah terucap dan di saksikan para tamu dan undangan.
Thubi dan Lubi menghampiri mereka mengajak foto bersama dan tak lupa memberikan ucapan selamat, hingga akhrinya proses perjuangan Adrian akan berhenti di cinta pertamanya saat di bangku kuliah.
"Tak perlu cemburu lagi pada Mentari, ia sudah memiliki pendamping hidup." goda Thubi berbisik pada Lubi.
Lubi mencubit lengan suaminya untuk menghentikan ocehan itu agar tak terdengar oleh siapa pun. Windi menghampiri Thubi.
"Om, Aku sudah memiliki Ayah sekarang. Aku tidak akan kesepian lagi di rumah. Dan Ibu tak akan bersedih lagi."
jelas Windi.
__ADS_1
"Cepatlah Om dan Tante memiliki anak yang lucu, supaya Windi dapat bermain dan berkunjung ke rumah Om dan Tante."
"Doakan ya, semoga Allah cepat mengabulkannya." Lubi mengelus pipi Windi.
"Terimakasih kalian telah menyempatkan hadir." ucap Adrian dengan wajah bahagianya.
Terlihat sekali pancaran kebahagian dari pesona pengantin itu tersipu dan masih malu-malu.
"Kita bisa double date kan?" ucap Tari menambahkan.
Lubi memberikan pelukan hangat pada Tari.
"Pastinya, jangan sungkan untuk bermain ke rumah dan mengajak kami dinner ya di rumah baru kalian." goda Lubi tertawa renyah.
"Jangan sia-siakan lagi keluargamu, ingatlah Windi betapa sangat membutuhkan keutuhan keluarga."
Adrian mengangguk membalas dengan menepuk bahu Thubi.
"Terimaksih kawan. Semoga kita tetap menjalin silahturahmi untuk saling memngingatkan dan menasehati."
Tangan Adrian kali ini menggenggam tangan Thubi dengan kuat.
Dan mereka akhirnya foto dan mengakhiri acara tersebut dengan makan bersama.
"Melihat mereka sudah bahagia begitu menyenangkan bukan? berbeda dengan kita?" Thubi masuk ke dalam mobil di ikuti Lubi.
__ADS_1
"Bedanya apa? apakah kita tidak bahagia?" sambung Lubi bingung.
"Bukan begitu. Mereka menikah dengan kondisi sudah bertiga. Apa tidak kepikiran untuk program kembali?" pancing Thubi memberikan kode.
"Aku sudah tahu arah pembicaraanmu." ejek Lubi manyun menutup kembali pintu mobil.
"Apakah perlu di adakan liburan sesi kedua?"
"Ku pikir-pikir dulu."
"Kenapa mesti di pikir dulu, apalagi pertimbangannya? apakah ajuan proposalku cukup berat?"
"Proposalmu kadang mengkhawatirkan, pakaianku masih belum keluar dari tas. Setelah kejadian kemarin."
"Justru itu tidak perlu repot lagi. Aku sudah mengatur jadwal keberangkatan kita, dua hari lagi bersiaplah untuk menyiapkan stamina."
"Kebiasaan merencanakan sesuatu tanpa diskusi terlebih dahulu, kadang itu sikap burukmu."
"Tapi suka kan?" goda Thubi.
"Asal senang saja." Lubi menarik seatbeltnya kali ini.
Jangan lupa vote poin dan koin, boom like rate dan komentar sebanyak-banyaknya tiap episode dan follow instagram: zuzanaoktober
Salam untuk pembaca setia MCP
__ADS_1