
Lubi menyisir rambutnya yang masih basah, habis keramas. Ia menatap wajahnya di cermin.
Thubi memperhatikannya dari tadi, ia mengambil inisiatif dengan mendudukkan Lubi di kursi dan mulai membantu istrinya menyisirkan rambutnya.
Lubi agak malu dan cangguk, perlakuan intens suami terhadap dirinya.
Dengan sigap Thubi mengambil hair dryer di laci meja dan mengeringkan rambut Lubi perlahan.
"Sini aku bantuin..."
"Memang kamu ahlinya?"
Lubi agak meragukan ketelatenan suaminya kali ini.
"Ini service tambahan..." goda Thubi menatap wajah istrinya dari cermin.
"Bisa pijit juga...gak ada biaya tambahan kok, tenang aja..."
Lanjut Thubi semakin ahli tangannya dengan lembut merapikan rambut istrinya kembali.
"Recomendedkan?"
"Boleh ..."
Thubi memutarkan kursi istrinya ke arahnya kali ini.
"Butuh apa lagi...?"
Lubi menatap curiga pada suaminya kali ini.
"Kamu pasti ada maunya?" tebak Lubi mencubit hidung Thubi yang jarak mereka saat ini memang tak begitu berjauhan.
"Kalau di izinkan..." sambung Thubi
"Apa?"
"Aku gak minta apa-apa dari kamu, kamu sudah memilih aku menjadi pendamping hidupku itu sudah luar biasa..."
"Ah, masa jangan kelewatan gombalnya..."
__ADS_1
"Serius..."
Thubi mendekatkan wajah ke Lubi.
"Kamu harus percaya satu hari saja berjauhan itu akan membuat aku merasa cemas dan gelisah, cukup dulu belasan tahun tak mengetahui kabar kamu sama sekali seperti hidup kekurangan oksigen. Kebayangkan saat jauh dari penyemangat hidup?"
Lubi terdiam sejenak menatap bola mata Thubi suaminya kali ini.
Semenderita itukah rasanya berjauhan? Lubi pun dulu sempat merasakannya. Terpisah dengan orang yang di rindukan rasanya semua serba salah.
Benar kata suaminya, bersyukur mereka dapat bersatu. Dan berharap tetap akan selamanya.
Lubi memeluk suaminya.
"Kita gak akan pernah berjauhan lagi..."
Thubi mengelus kepala istrinya.
"Kamu akan tetap melihat aku selamanya, melewati bersama kehidupan kita dengan cinta dan rasa suka."
Lubi memeluk suaminya kali ini dengan erat.
"Jangan buat aku cemburu lagi? apapun itu alasannya" rengek Lubi di dekapan Thubi.
Thubi mengangguk mengiyakan.
"Gak pernah ada lagi rahasiakan?"
Thubi menggeleng pelan.
Lubi tak mempermasalahkan apapun asal suaminya kini selalu terbuka berterus terang padanya tentang masalah apapun itu.
Begitu juga Thubi tak ingin berlarut-larut membuat kecurigaan kepada istrinya tentang masa lalunya atau apapun itu.
Kiss.
Thubi mencium kening istrinya dengan lembut.
Mereka memandang satu sama lain. Desiran hasrat itu mulai menyatu.
__ADS_1
Ciuman pertama bersama suami yang sudah sah, itulah hal yang terindah. Berkah nikmatnya serta pahala kenikmatan duniawi.
Lubi menikmatinya bahkan tiap kegelisahan belasan tahun terbayar sudah. Doanya yang terjawab. Meski agak malu dan merona wajahnya kini.
Thubi menghentikan adegan itu.
Lubi gugup terdiam, kenapa tiba-tiba suaminya berhenti mendadak.
"Aku melupakan sesuatu..."
Thubi melirik istrinya yang kebingungan.
"Ada ranjang empuk, ngapain capek-capek di kursi."
Lubi mencubit perut suaminya.
Thubi spontan tertawa melihat tingkah istrinya yang sudah serius merespon ucapannya.
"Kamu bawaannya serius melulu, sambil nonton kan enak."
Thubi mengambil remote televisi seketika.
Lubi langsung berdiri dari tempat duduknya.
Pas juga adegan film di televisi sepasang suami istri yang beradegan ciuman.
"Nah kan... mulai deh."
"Gak apa-apa kok... bagus, gak perlu malu..."
"Kamu baru pertama kali ya..." goda Thubi jahil.
Lubi langsung merebut remote untuk memindahkan siarannya.
Namun Thubi lebih berkuasa.
"Atau mau di praktekin langsung..."
Bersambung....
__ADS_1